Langsung ke konten utama

Pindah Rumah Sementara (1): Persiapan

[Lifestyle] Rumah yang aku tempati saat ini, bisa dibilang rumah tua. Ayah membelinya puluhan tahun yang lalu. Jadi wajar jika disana sini kita bisa menemukan kerusakan. Pekerjaan tambal dan memperbaiki nyaris setiap tahun kami lakukan. Rasanya, semua bisa diatasi kecuali masalah rayap.




Itu yang namanya rayap, aishhh.... dia bisa berpindah dan menyebar. Dari awalnya cuma terdapat di satu buah kusen pintu, eh, kemudian pindah ke kusen jendela. Lalu tiang pergola dan seterusnya hingga akhirnya kami memutuskan : "Kayaknya sudah waktunya deh rumah kita harus direnovasi total."

Kenapa akhirnya keputusan untuk merenovasi total kami lakukan? Karena, jika ditotalin nih jumlah ongkos perbaikan rumah yang sedikit-sedikit itu tapi terus terjadi setiap tahun, ternyata dalam lima tahun totalnya bisa untuk mendirikan sebuah rumah baru.
Wah.
Mendingan sekalian saja direnovasi total kan jika begitu. Jadi rumahnya baru lagi. Untuk itu, tentu saja kami harus pindah rumah sementara (kenapa ada ekor kata sementaranya, karena memang kepindahan kali ini hanya bersifat sementara saja. Aku dan anak-anak punya penyakit Asma yang cukup mengganggu dimana penyakit Asma kami itu akan kambuh jika terkena debu, semen dan segala macam yang menyesakkan).

Nah, berikut ini adalah persiapan yang harus disiapkan jika ingin melakukan pindah rumah sementara.

HAL-HAL YANG HARUS DISIAPKAN JIKA INGIN PINDAH RUMAH SEMENTARA: 


1. Pemilahan barang berdasarkan prioritas pemakaian. 

Mulai bedakan benda-benda yang sekiranya akan diperlukan dalam kepindahan sementara ini dan mana yang tidak akan diperlukan dalam kepindahan sementara ini. Karena saya hanya pindah ke rumah kontrakan selama 1 tahun saja, maka saya langsung memisahkannya dalam kardus-kardus dan plastik kontainer. Beruntungnya karena ternyata benda pajangan saya kebanyakan adalah buku-buku. Tapi, tetap saja ini harus dipilah-pilah. Buku yang sekiranya dalam setahun terakhir ini tidak akan dibaca dulu, saya masukkan dalam kardus yang akan dilakban. Sedangkan buku yang ingin dibaca dalam setahun belakangan ini tentu saja saya taruh di dalam plastik kontainer.

2. Pemilahan barang berdasarkan prioritas penggunaan. 

Mana barang-barang yang akan dipakai untuk setahun ini dan mana barang-barang yang tidak akan dipakai dalam setahun ke depan. Mereka yang tidak akan dipakai dalam setahun ke depan masukkan dalam sebuah kardus yang dilakban rapat, jika perlu diikat. Sedangkan yang akan digunakan dalam setahun ke depan masukkan dalam tempat yang mudah dibuka tutup. Plastk kontainer misalnya.

Benda-benda yang tidak akan dipakai dalam setahun ke depan:

a. Piala dan penghargaan.
b. Benda-benda pajangan lemari hias (maklum, rumah kontrakannya mungil; lagian cuma setahun pindah, kayaknya nggak  usah majang2 pernak pernik pemanis dulu mungkin).
3. Guci-guci dan benda-benda pajangan yang merupakan benda warisan keluarga.
4. Koleksi piring, gelas, sendok, mangkuk makan buat arisan (ini sudah pasti; karena kami mengontrak rumah yang amat mungil jadi tidak mungkin menampung tamu terlalu banyak. Jadi, kalau ketempatan arisan, minta dipending dulu saja ah. Tahun depan saja dapatnya).
5, Karpet-karpet untuk digelar jika ada arisan.
6. Buku-buku (seperti yang ada di point 1)
7. Mesin jahit (mungkin saya tidak akan menjahit dulu setahun ke depan. Tapi.. jjika memang terpaksa... nah.. khusus kardus mesin jahit saya beri dia pita khusus).
8. KOnsol game.... (duh, rumahnya mungil, sepertinya gak mungkin main wii....lagipula, sudah ada game android).

Benda-benda yang akan dipakai dalam setahun ke depan:

1. Panci, baskom, pisau, piring, gelas, mangkuk, sendok, kuali untuk keperluam mengolah makanan sehari-hari.
2. Selimut, seprei, handuk. (oh ya, karena rumah kontrakannya mungil, jadi saya hanya bisa membawa 4 buah lemari  satu pintu saja. Padahal di rumah ada 5 orang yang terdiri dari 4 dewasa dan 1 anak-anak. Nah... baju mereka kan banyak ya pasti. Jadi, letakkan selimut, sprei dan handuk dalam plastik kontainer saja, pilih yang beroda dan bisa diletakkan di bawah meja makan. Karene pamakaian selimut, seprei dan handuk ini kan tidak tiap hari.  Jadi, lemari yang bisa dibawa dipakai untuk meyimpan baju, celana, jilbab dan pakaian dalam... serta sisakan 1 lemari untuk menyimpan piring, gelas, plastik kontainer untuk makanan dan stok barang2 belanjaan bulanan).
3. Buku-buku yang akan dibaca atau digunakan dalam setahun terakhir.
4. Meja makan dan kursinya
5. Televisi, kulkas dan semua barang2 elektronik (tapi khusus radio, saya simpan di kardus karena sepertinya fungsinya tidak terllau urgent setahun ini).
6. Sepatu dan rak sepatu.
7. Mesin cuci dan kompor.

Nah... jika sudah disiapkan seperti ini. Kita siap pindahan.


Komentar

  1. Ribet juga mbak kalau ada tukang mau tidur bebas enggak bisa. Hihihi bahkan mau mandi saja was was

    BalasHapus
  2. Gambaran agar bikin persiapan sebelum pindahan rumah juga, karena insya Allah rumah akan dibongkar dan dibangun di tempat lain.
    makasih tipsnya, Mak Ade.
    Duh, ternyata rayap tak bisa dianggap sepele.

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…