Langsung ke konten utama

Pesan Pengunjung di Wall Facebook

Dua hari yang lalu, tanpa sengaja aku membaca berita bahwa temannya temanku meninggal dunia.
Innalillahi wa innailaihi rajiun.
Mendengar berita duka tersebut, segera aku meluncur ke wall facebook milik temanku itu untuk mengucapkan ucapan ikut berduka cita. Setelah menulis ucapan ikut berduka cita, iseng, aku ingin mengetahui seperti apa temannya yang meninggal dunia tersebut. Jadi, aku klik nama temannya temanku tersebut. Aku pun terbawa ke wall almarhumah. Dan termenung disana. Lama sekali.

Wall-nya, sudah disetting hanya bisa ditelusuri oleh teman saja foto-fotonya. Itu sebabnya aku tidak bisa melihat seperti apa temannya temanku itu. Tapi, seluruh postingan yang ada di wallnya terbuka untuk umum. Jadi aku bisa leluasa membaca apa saja yang ada di wall alhmarhumah. Ternyata... isinya adalah kumpulan ucapan dan ucapan.

Mulai dari ketika dia berulang tahun, lalu menikah, lalu berulang tahun lagi, lalu melahirkan dan punya anak, lalu berulang tahun lagi, dan akhirnya... ucapan ikut berduka cita dan merasa kehilangan atas kematiannya.

Itu saja berita yang tampil di wallnya.
Bisa jadi, almarhumah semasa hidupnya tidak banyak melewatkan waktu bercengkerama dengan teman-teman di dunia mayanya, khususnya di facebook. Itu sebabnya tidak banyak berita yang dibaginya. Tapi, meski demikian, teman-temannya tetap setia mengirimkan doa dan ucapan ikut merasakan kebahagiaan yang dia dapatkan. Bahkan, meski tidak dibalas sekalipun semua ucapan tersebut tapi teman-temannya tetap setia mengirimkan ucapan-ucapan untuk dirinya setiap kali ada momen yang memang perlu diberi ucapan selamat.

Teman-teman itu.... mungkin memang bukan bagian dari keluarga kita. Tapi, kehadiran mereka tetap menghangatkan. Dan tanpa sadar, kehadiran teman-teman di sekeliling kita itu membuat hidup terasa lebih hidup.

Entahlah. Aku terharu dengan kehadiran teman-teman almarhumah yang tetap setia berkunjung meski sapaannya tidak dibalas. Mereka luar biasa sekali. Tetap setia dan ikhlas dalam menjalin hubungan pertemanan.
Almarhumah sungguh beruntung.

Ini dia screen shoot wall facebook temannya temanku itu.





Komentar

  1. Kenangan yang tertinggal juga pernah aku temukan juga mak Ade caem... sepertinya membantu sekali mengingat apa yang tersisa dalam masa hidupnya,. Dan itu cukup melegakan batin :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya... bener. wall facebook itu bisa merekam kenangan akan keseharian hidup seseorang.

      Hapus
  2. Orangnya baik banget . dan ramah sama semua orang. Meski nggak terlalu akrab dan dia cm sekali main di sinetron yang skenarionya aku buat, tapi kita tetap saling sapa di bbm. Shock waktu dikabarin dia nggak ada. :(

    BalasHapus
  3. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik saat ini ya mak, aamiin

    BalasHapus
  4. aku juga suka melihat FB temanku yang sudah meninggal mak masih banyak suka komen disana

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…