Langsung ke konten utama

5 Tahun Kebersamaan di Facebook

Aku gabung dengan Facebook itu tahun 2008.
Awalnya si Raymond yang ngajak-ngajak setelah lihat aku muncul di milis SMA 8 Jakarta. Dia nitip pesan lewat suamiku biar aku buka akun facebook. Masalah, waktu itu aku gaptek... tek.. tek.. bunyi hujan di atas loteng.


Akhirnya, terpaksa deh kasak kusuk tanya anak sulungku.
"Bam.. facebook itu apa sih?"
"Itu bu.. mirip sama friendster tapi dia ya... beda deh. Kenapa?"
"Teman ibu nyuruh ibu buka akun disana."
"Ya sudah buka aja."
"Tapi ibu gak ngerti caranya."
"Ya ampun.. ibu tinggal daftar.. kayak bikin email biasa aja. Terus ikutin aja semua yang ada di sana."

Lalu, mulai lah aku mencoba mengutak atik. Dan akhirnya jadi deh akun Facebookku. Tapi... hiks... nggak ada teman disana. Jadi planga plongo sendirian.
Ih. Nggak asyik.

"Terus, kita ngapain bam kalo dah punya akun?"
"Aduh ibu. Ibu mampir ke tempat teman2 ibu yang ada. Ajak ngobrol mereka."
"Ngobrol apa?"
"Ya apa kek. Terserah ibu. Atau kalau bingung ya udah, ibu tulis status aja."
"Okeh deh."

Lalu, akhirnya aku mulai menclok sana menclok sini memberi komentar di status teman-temanku. Banyak teman-teman lamaku yang tadinya gak pernah ketemu eh.. ketemu lagi. Terus... dari sini, tercetuslah ide untuk buat: REUNI YUK.

Wah. Asyik.
Lalu ketika ayahku meninggal dunia tahun 2009 Februari, aku menulis di notesnya dan ternyata... tanggapan dari teman-teman itu banyaaaaakkkk banget. Ini pertama kalinya aku menulis notes di facebook.
Semua ramai-ramai mengucapkan ikut berduka cita. Ada yang sampai inbox ada yang sampai telepon akhirnya.
Terharu.

Lalu... ketika aku masih sedih karena kehilangan ayah tercinta, aku menulis di notes dan kembali banyak tanggapannya.
Lalu... seterusnya aku jadi ketagihan nulis notes. hehehehehe.
Dan teman-teman mulai bertambah.
Terus bertambah.
Sampai akhirnya kepenuhan dan terpaksa aku melakukan seleksi untuk meremove teman yang ada kriteris tertentu hingga pantas untuk diremove.
Dan aku mulai kenal komunitas... ikut komunitas dan... eh.. kok kian asyik.
Hingga akhirnya, kemarin pas arisan keluarga akhir januari lalu:

"Tante Ade.. tante tuh aktif banget sih di facebook."
"Eh... iya. Soalnya, di sana selain ketemu teman, ngilangin bete, ngilangin jenuh, juga bisa buat dagang, ikut lomba, uji kemampuan diri, pokoknya banyak deh."

Jadi... aku senang pernah punya akun Facebook.



Komentar

  1. Ika juga sering dikomentarin sama adik angkatan, "Eh, Mbak Ika aktif banget ya di facebook?"
    Ika hanya nyengir,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..aku juga bingung sebenernya kenapa mereka nanya begitu. Buatku facebook tuh kayak... nonton tv . Kalo gak diliat sehari kayaknya gak enak. Kecuali kalo emang padam listrik. Gak nonton gpp. Hehehe

      Hapus
  2. Saya juga dapat video itu, Mba. :D
    BTW, saya malah gak tau batasan pertemanan di FB tuh berapa. Emgan berapa ya, Mba?

    BalasHapus
  3. saya awal punya akun FB juga planga plongo. Awalnya gara2 mau ikut event dan harus punya akun ini. Trus mencoba berkelana di akun2 orang2 penyuka menulis, termasuk mbak Ade. Sy mash ingat meng-add 2 akun: Ade Anita dan Ade Anita Zaibi, punya mbak Ade dua2nya kan?

    Trus suatu ketika ... saya yang haus informasi ttg lomba ini dapat info audisi menulis ... (lupa apa) tapi gak jelas. Jadi karena melihat ada nama mbak Ade di note itu, saya bertanya ke mbak Ade (lagsung di wall kayaknya) ... eeh gak dijawab sama mbak Ade .. sedihnya ...

    Lama baru saya sadar kalo di note itu ada naman mbak Ade karena orang yang menggandakan note itu tidak menghapus nama mbak Ade di bagian atas note-nya :D

    Itu tahun 2011, sekitar awal tahun. Jadi sudah 3 tahun yg lalu saya hampir berkenalan dengan mbak Ade :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaahh... maafffff... kayaknya bisa jadi aku gak tau waktu itu. Gapteknya masih stadium 4 waktu itu. Sekarang dah lewat kondisi kritis.. gapteknya tinggal gejala2 aja..hahahha

      Hapus
  4. aku 7 tahun bersama facebook mbak :)

    BalasHapus
  5. Hohoho 2008 itu aku masih belajaran bikin blog, belum facebookan.

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…