Langsung ke konten utama

Perlu Weker atau Bisa Bangun Sendiri?

Pagi ini, ada sapaan yang cukup menggoda dari Twitternya Delta FM di acara Morning Show Bersama Farhan dan Asri Welas. Pulang antar sekolah anak-anak, aku jadi mengikuti timeline twitternya Delta FM deh. hahaha.
Pertanyaan yang dilemparkan oleh dua penyiar ini adalah: Kalau pagi, perlu weker atau bisa bangun sendiri?



Jawaban para tuwib lucu-lucu. Ada yang bilang mereka bisa bangun sendiri karena sudah terbiasa bangun pagi, ada yang bilang gak perlu weker karena punya tante yang suaranya setiap pagi pasti bikin orang yang lagi tidur bangun; ada juga yang bilang gak perlu weker karena setiap hari selalu shalat tahadjut dan gak tidur lagi.

Aku jadi ingat; dulu aku tuh sebenarnya gak pernah tergantung dengan weker seperti sekarang. Waktu kecil, ayahku selalu rajin membangunkan anak-anaknya. Kami semua, anak-anak memang tidur di lantai dua. Tangga menuju ke lantai dua itu, terbuat dari tangga rolling dengan pegangan besi. Ayah akan memukul-mukul tangga tersebut dengan sendok besi yang besar sehingga bunyinya luar biasa berisik. Jadi, otomatis kami semua jadi terbangun setiap pagi.

Sebelum ayah melakukan ini, kami anak-anaknya dibangunkan setiap pagi dengan cara yang lebih gila lagi. Yaitu, salah seorang saudara sepupuku memasang klakson Truk di tangga tersebut.

gambar diambil dari kaskus

Nah... jadi setiap pagi, kami tuh seperti sedang tinggal di barak-barak tentara saja.
BONG....
BONG...
BONG...
Berisiknya luar biasa dan amat sangat menjengkelkan!
Barulah setelah saudara sepupuku itu selesai sekolahnya (jadi selama sekolah dia memang tinggal di rumahku) dan ditempatkan bekerja di luar kota, kami semua terbebas dari "barak tentara". hahahaha.

Eh tapi saudara-saudara.... kok ya ternyata bertahun-tahun hidup dengan weker yang mengganggu tersebut, bikin telinga kami toleransi terhadap suara berisiknya jadi tinggi. Kebetulan, ayah dipindahkan tugas ke bagian audit sehingga mengharuskan dia sering pergi ke luar kota. Maka, sebelum pergi ayah membelikan kami weker.

Pertamanya weker ayam. Bunyinya:
KUKURUYUKKKKK (versi ayam digital). Kami sama sekali tidak terbangun.

Jadi, ayah mengganti wekernya dengan weker bergambar masjid dan menyuarakan suara azan.
Etapi... tetep tidak terbangun.

Lalu, diganti lagi wekernya dengan weker kotak warna pink dengan wajah mister smile di badan jamnya dan  bunyinya (suara digital dengan akses mirip robot perempuan yang kenes-kenes a la Jepang gitu):
BANGUN... BANGUN... BAAA..AA... NGUUUNNN... (jadi suara pertama cepat, kedua agak lama intonasinya, suara ketiga dipanjangin... buat orang normal ini amat mengganggu tapi buat kami: sama sekali tidak tergugah.

hahahahaha.
gaswat kan toleransi telinga kami waktu itu. Jadi, suatu hari ceritanya ada seorang saudara dari Kalimantan nih. Dia melihat aku dan memberiku sebuah ilmu untuk bangun tidur tanpa tergantung pada weker.

"Sebelum tidur, kamu baca basmallah 21 kali. Lalu berdoa, "ya Allah, bangunkan aku pukul berapa gitu."

Akhirnya, aku pun mempraktekkannya. Waktu itu aku sudah duduk di bangku kelas 6 SD. Dan ajaib, ketika paginya aku bermimpi didatangi oleh seorang kakek-kakek tua berambut lurus panjang berjanggut lurus panjang juga dan semua rambut dan janggutnya warnanya putih dan si kakek sendiri memakai kain Ihram putih juga. Dia menyapaku: "Ade... ayo bangun, Sudah jam... sekian."

Aku langsung terjaga.
Bingung.
Dan melirik ke aram jam ternyata benar, sudah jam segitu.
Lalu melupakan mimpi itu dan segera bersiap untuk pergi ke sekolah.
Malamnya aku praktekkan lagi dan keesokan paginya si kakek datang lagi padaku.
Dan itu terus berlangsung selama bertahun-tahun, hingga aku berusia dua puluhan, hingga aku menikah. Aku jadi akrab dengan si kakek. Tidak tahu namanya siapa tapi dia selalu setia membangunkan aku. Malahan dia mengingatkan "Ade, bangun, shalat tahadjut dulu. Ayo."

Sayangnya, setelah aku melahirkan, si kakek tidak pernah muncul lagi. Dan akunya, ya alhamdulillah jam biologisku sudah terpasang untuk bangun jam yang sama kisarannya setiap hari.

Lalu, sejak tahun 2001, perlahan, karena terlalu seringnya aku menepis jam biologis yang bangun, akhirnya jam biologisku mulai kacau. Dan aku mulai bangun kesiangan dan akhirnya... sampai sekarang aku jadi tergantung pada weker lagi.
(Belum pernah nyoba sih pake bacaan yang diajarkan waktu kecil itu sih. Kayaknya, lebih enak pake weker).

Komentar

  1. hehe... ceritanya lucu sekaligus mengherankan ttg mimpi Si Kakek itu. Saya jadi senyum2 sendiri sebab saya susah banguunn... :D. alarm hp nada sengaja berisik itu ga selalu sukses ngebangunin. Yah, tipsnya menarik utk dicoba. Siapa tahu ketemu kakek, eh... bangun maksudnya :D

    BalasHapus
  2. Kalau skrg wekerku pakai alrm HP Mba..
    Tapi pernah waktu masih kecil dulu di kampung nenek, wekernya suara ayam berkokok..sakti kan jaman dulu, denger ayam berkokok aja bisa bangun hehehe

    BalasHapus
  3. Dulu, aku paling susah bangun pagi. Tapi sekarang, ada weker alami... suara suami,"dek..dek.. bangun, solat jamaah yuk, dek..." Haha

    BalasHapus
  4. Aku juga susah bangun pagi mbak. Dirumah pasti paling belakangan, padahal harus nyiapin sarapan + bekal makan siang orang serumah. Jadinya gedumbrangan tiap hari. Mereka juga gak mau bangunin, milih beli di kantin daripada bangunin aku. Jadi bangun paginya untung2an.Tapi aku gak mau tau juga, biarpun cuma punya waktu 30 menit tetep maksa semua harus siap heheheee....

    BalasHapus
  5. hahahaha hanya bisa tertawa sendiri,,,, :D

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…