badge

Minggu, 22 Desember 2013

Teringat Padamu, Ibu

Dulu, ketika sebelum aku menikah, ayahku yang lumayan romantis sering membangunkan kami anak-anaknya di pagi hari di hari ibu, tanggal 22 Desember setiap tahunnya sekedar untuk mengingatkan bahwa ini adalah hari ibu. Jadi, pagi-pagi ayah akan semakin gencar dengan ritualnya membunyikan besi yang menjadi pegangan di tangga berputar menuju kamar kami yang ada di lantai dua. Besi dipukul dengan sendok sayur dari besi juga. Bunyinya berisik sekali. Luar biasa gaduh. Ayah memang mengadopsi cara efektif membangunkan kami tersebut dari latihan militernya ketika ayah ikut wajib militer ketika kuliah dulu.

"Hei... hari ini hari ibu nih. Ayoooo... ibu hari ini biar santai, kalian yang beres-beres rumah dan masak."

Ibuku biasanya cuma cemberut pura-pura marah karena digoda seperti itu oleh ayah. hehehe.... ibu tahu, anak-anaknya tidak ada satupun yang bisa masak. Tapi, karena ayah berkata seperti itu jadi ibu memberi perintah apa saja yang harus dikerjakan.

"Ayo, hari ini ke pasar dulu ya. Beli ini nih.... (ngasih secarik kertas yang berisi belanjaan)... terus masak ini nih... (ngasi perintah apa saja yang harus dikerjakan dengan semua belanjaan itu)."

Dan mulailai kami anak-anaknya bereksperimen. Hasilnya? Biasanya sih ancur... dan dapur luar biasa berantakan. Dan satu sama lain pada cemberut karena ada yang merasa tidak diperlakukan dengan adil. Maklum, kami bersaudara tidak selalu kompak. Selalu ada figur bossy, dan selalu ada figur pingin diangkat jadi boss, dan selalu ada figur yang merasa diperlakukan sebagai pekerja kelas bawah. hahahaha...
Biasanya kalau sudah begitu, ayah dipastikan akan turun tangan.
Dia akan datang ke dapur dan membantu kami memasak. Jika pun ternyata masakan gagal, ayah akan mengajak kami untuk makan di luar di hari istimewa itu.

Ibuku memang orang yang tidak bisa diam. Ketika di hari istimewa hari ibu (jujur ya, ayahku amat mengistimewakan hari ibu, bahkan lebih istimewa ketimbang hari ulang tahun istrinya; entah mengapa), dia akan mencari-cari kerjaan lain.

"Sudah.. biar bae anak-anak yang begawe. Enga terima beres bae." (bahasa dusun Sekayu, Sumatra Selatan, yang artinya: "sudah... biar saja anak-anak yang bekerja. Kamu terima beres saja.")

Setelah aku dewasa, aku baru tahu kenapa ayah begitu menghargai peringatan hari ibu lebih tinggi ketimbang hari ulang tahun istrinya. Ini aku tanyakan pada ayah ketika ibu sudah meninggal dunia dan ayah jadi begitu rajin datang ke rumahku untuk menghabiskan waktu paginya.

"Hari ulang tahun itu kan sebenarnya hari sedih. Berkurang lagi satu tahun jatah umur kita di dunia. Jadi, makan-makan saja untuk mengingat, bukan untuk merayakan. Tapi kalau hari ibu, kita harus bersyukur ada ibu. Coba liat sekarang, pas ibu sudah tidak ada, jadi terasa timpang kan semua-muanya? Karena ibu yang biasa mengerjakan semuanya untuk kita. Tanpa ibu, kita jadi kerasa nggak bisa apa-apa."

Hmm...
iya sih.
Itu bener banget.

Dulu, aku selalu marah-marah setiap kali aku pergi ke luar kota dan menitipkan kunci rumah di rumah ibuku;  ibu selalu mendatangi rumahku dan membereskan rumahku.

"Ibu, ade kan udah gede. udah nikah dan punya anak. Kenapa sih musingin banget rumah ade berantakan atau nggak. Mending ibu santai aja di rumah, nitip kunci kan bukan berarti minta diberesin rumahnya!"

Setelah ibu meninggal dunia, kondisi menjadi terbalik. Ketika aku pulang dengan keadaan yang kelelahan dan cucian kotor menumpuk, entah kenapa aku amat berharap bisa pulang ke rumah yang rapih dan sudah tersedia masakan. Huff... jika saja ibuku masih ada.

Yang lebih parah lagi adalah ketika aku sakit dan harus masuk rumah sakit. Ketika aku pulang kembali ke rumah, dan mendapati rumah yang berantakan, tidak ada masakan, pekerjaan rumah tidak selesai tapi malah bertumpuk, yang aku ingat adalah ibuku.
"Duh, jika ada ibu. Pasti ibu tidak akan membiarkan aku yang baru pulang sakit ini harus segera bekerja lagi dalam rutinitas pekerjaan yang tiada habis, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga."

Huff. Aku rindu ibuku.
Ibuku yang sering marah-marah, tapi hatinya lembut dan penyayang. Ibu marah karena berharap anak-anaknya yang dablek mau berusaha untuk sempurna. Ibu punya patokan tertentu yang harus dipenuhi dan ketika anak-anaknya santai, ibu pun marah.

Pernah suatu hari, ibu marah-marah hebat pada salah satu saudaraku (oh ya, pengumuman nggak penting: aku termasuk anak yang tidak pernah dimarahi oleh ibuku.. heheheheh... *peace). Malam hari, kebetulan aku sering kena insomnia, aku pernah menangkap basah ibuku yang diam-diam masuk ke kamar saudaraku itu. Saudaraku itu sedang tertidur pulas. Ibu lalu mengelus kepala saudaraku itu, memandang wajah saudaraku itu dengan wajah sayang dan .... bersimbah air mata. Ibu menyesal telah bertindak kasar pada saudaraku itu. Tapi... ibu dididik dari kecil untuk tidak boleh meminta maaf pada anak-anak, karena itu akan menurunkan wibawa orang tua. Jadi... ibu hanya bisa menangis diam-diam, dan menyesali diam-diam juga. Dan aku cuma bisa jadi penonton diam-diam juga. Pura-pura tidur padahal merhatiin.

Ibu juga pernah menangis dan memelukku erat-erat ketika aku kelas dua SD. Ibu baru saja pulang dari ambil rapor dan raporku kebakaran. Semua nilainya merah semua, kecuali pelajaran agama dan kesenian (menyanyi).

"Penembai?" kata ayah, yang bertanya dalam bahasa Sekayu yang artinya kenapa. Ibu dan ayah memang sering berkomunikasi dengan bahasa Sekayu di rumah.
"Ika... gurunya ade bilang ke aku bahwa ade tuh ediot. kitek diminte masuke ade ke sekolah lain bae."
"Ai... ndak mungkin ade ediot." (ayah menolak dengan keras sambil menatap ke arahku yang duduk mengkerut karena baru saja selesai dimarahi ayah karena raporku merah semua). Ibu lalu membawaku ke psikolog dan aku pun mengikuti rangkaian test dan hasilnya, aku punya IQ yang di atas rata-rata. Tapi... kenapa rapornya merah semua? Psikolog memberi beberapa nasehat.

"Aku cari guru les bae amon mitu." (ibu lalu berinisiatif untuk mencari guru les untukku. Di tahun 1978, sekolah SD belum banyak jadi untuk mindahin sekolah rasanya sulit. Mencari guru les privat lebih enak).

Akhirnya, aku ikut les privat. Guru les privatku sabar menuntun dan memberi tips-tips khusus. Aku memang punya kekurangan untuk dis-orientasi arah. Karena kekurangan ini, aku menjadi sulit untuk membaca, menulis dan berhitung. Itu sebabnya raporku merah semua. Yang biru hanya dua pelajaran, agama (karena di jaman orde baru yang anti komunis, semua anak tidak boleh mendapat nilai merah di pelajaran agama; kecuali jika dia memang tidak punya tuhan atau terang-terangan mengaku sebagai komunis. Tapi, memangnya ada?) dan kesenian (kesenian karena tidak pernah nulis atau baca, isinya hanya menyanyi dan menggambar saja).
6 bulan les privat, aku bisa mengejar semua ketertinggalanku. Bahkan berhasil masuk peringkat 5 besar di semester akhir kenaikan kelas.

Itu sebabnya ketika aku pada akhirnya berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri : Universitas Indonesia, di perayaaan keberhasilanku masuk UI, ibu menyempatkan diri memelukku erat-erat di kamar mandi kampus.
"Ade.. .terima kasih ya nak. Kamu sudah berusaha keras dan ngeyakinin ibu bahwa ibu nggak salah mercayaain kamu bahwa kamu emang bisa berhasil."

Ya. Ibu memang selalu percaya padaku. Bahwa aku tidak idiot seperti dipersangkakan oleh guruku dulu.
Ibu juga percaya bahwa aku sama dengan anak-anak lain dan dia sukses mengembangkan rasa percaya diriku.
Ibu, dengan semua kesederhanaannya, telah berhasil mendidik aku menjadi seperti sekarang.

Itu sebabnya aku teringat ibu lagi di hari ibu ini.
Ibu.... terima kasih ya... maafin ade banyak salah dulu. Dan selalu membuat rusuh hatimu.




17 komentar:

  1. Hiks... Terharu. Semoga dosa2 ibu mbak ade diampuni, dilapangkan kuburnya, dimudahkan timbangan amalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin Allahumma Aamiin.. terima kasih untuk doanya

      Hapus
  2. Pengalaman yang tak terlupakan dengan ibu, selamat hari ibu :)

    BalasHapus
  3. Ibu adalah pahlawàn tanpa tanda jasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. sejajar dengan guru ya... di Islam, ibu adalah madrasah untuk anak2nya

      Hapus
  4. terhari mbak....ibunya juga hebat, selamat hari ibu ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ya enci... selamat hari ibu juga untukmu

      Hapus
  5. ibu itu segalanya ya Mak.. mari sama-sama berdoa untuk Ibu Mak Ade, semoga dilapangkan kuburnya, amal ibadahnya diterima Allah SWT... amiiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin allahumma aamiin.. makasih ya

      Hapus
  6. Wah, asyik banget mbak. Masa kecil yang harus selalu dikenang dan diingat, tuh. xixixi...Apalagi bagian makan di luar itu. xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, keluargaku emang doyan makan-makan

      Hapus
  7. Ai paca nian ade bercerito.om membacanya sangat terharu........Semoga Almarhumah ditempatkan dialam surga dan kasih sayangnya menjadi teladan kehidupan kita didunia

    BalasHapus
  8. terharuuuuu......
    semoga amal ibadah ibu mba ade diterima Allah, dilapangkan kuburnya, dan mba ade sekeluarga senantiasa dalam lindungan Allah....aamiin

    BalasHapus
  9. Jika bercerita tentang ibu, pasti cerita itu selalu membuat terharu.
    Semoga ibu nya mbak di ampuni seluruh dosa2 nya.


    BalasHapus
  10. ibu kaulah wanita yang mulia. derajatmu 3 tingkat dibanding ayah...

    *Sambil nabuh rebana*

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...