Langsung ke konten utama

Model Meja Mesin Jahit Idamanku

[Lilfestyle] Pagi ini, aku kembali menyelesaikan tulisan calon novelku yang belum juga selesai-selesai. Fiuh (ngelap keringat). Hari masih pagi ketika aku bingung sebenarnya nama kepala tempat tidur di bagian kaki tempat tidur apa ya? Jadilah aku buka google. Ketemu sih, ternyata disebut juga papan bawah tempat tidur. Rasa nggak sreg dengan namanya sebenarnya. Tapi, sementara itu yang aku dapat dari hasil mencari di google.


Karena merasa belum terlalu sreg, jadi aku terus menelusuri gambar-gambar tempat tidur dan keterangan tentangnya hingga tiba-tiba aku bertemu dengan sesuatu yang berbeda dengan tempat tidur. Eh.. uujung-ujungnya malah mencari gambar ini. hahahaha.

Sstt... jangan berpikir yang tidak-tidak. Ini memang tidak ada hubungannya dengan model tempat tidur tapi juga bukan berarti masih ada kaitannya dengan kegiatan tidur. Ini tentang mesin jahit.

Yup. Mesin jahit.
Sebenarnya, aku suka menjahit. Di rumah, ketika aku akhirnya berhasil mempersembahkan seorang bayi perempuan yang cantik pada suamiku (hehehehe bahasanya hiperbola ya), suamiku menghadiahkan padaku sebuah mesin jahit otomatis dengan beberapa pilihan bentuk jahitan. Di tahun 1999 model ini masih amat jarang di Indonesia, jadi suamiku membelinya di Sydney, Australia.  Senang sekali. Lalu sejak itu karena sadar model ini masih jarang di Indonesia aku jadi rajin berburu perlengkapan mesin jahit. Bukan hanya sekedar kapur jahit atau karbon jahit saja, tapi aneka bentuk Bobbin, aneka bentuk sepatu jarum, aneka bentuk kancing, dan juga... setumpuk buku pola dan buku model pakaian. Itu belum termasuk langganan majalan Stiches, Craft, dan berbagai macam buku ensiklopedia menjahit.
Ugh. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memelototi semua gambar-gambar tersebut. Sambil melihat gambar lalu menghayal. Juga memikirkan cara membuatnya.

Jadi terima jahitan? Nah... itu yang aku nggak mau. Aku tuh orangnya paling malas kalau diburu-buru oleh orang lain. Aku mau mengerjakan sesuatu itu ya terserah dengan gayaku saja. Kalau lagi mengerjakan terus ada yang nelepon atau datang atau sms dengan bertanya,
"De, gimana? Sudah belum? Mau dipake buru-buru nih."

Waaa... alamat jadi hilang mood dan nggak beres deh pengerjaannya. Selesai sih selesai tapi aku tidak suka aja dengan finishingnya. Kalau sudah nggak suka dan benar-benar kehilangan mood, biasanya aku kembalikan lagi pada yang meminta pesanan agar dia mencari orang lain. Aku malas diburu-buru gitu. Karena ini maka aku tidak berencana untuk menerima jahitan.

Oke kembali ke soal jahitan lagi dan hasil pencarian mesin google.
Ketika menelusuri aneka bentuk furniture, aku menemukan bentuk mesin jahit yang dahulu pernah amat sangat aku idam-idamkan. Aduh. Sejak pertama kali melihat model mesin jahit ini di Sydney dulu, aku sudah jatuh cinta, dan sekarang ketika aku menemukan model ini kembali di mesin pencari Google, aku baru sadar bahwa ternyata rasa cintaku padanya belum luntur.
Aku tetap suka dan pingin dia jadi milikku suatu hari kelak.

Eh...sebenarnya saat ini mesin jahit canggihku sudah punya meja sendiri. Yaitu meja belajar Albatros yang bisa dilipat dan ditutup hingga jadi seperti lemari buku.  Tapi, menjahit disana tuh nggak nyaman. Tempatnya sempit. Lutut kita ketika sedang menggerakkan dinamo sering menabrak sudut bawah meja. Belum lagi jika menjahit gamis atau celana panjang maka tidak bisa leluasa menggeser pakaian karena ujung pakaian yang lari ke depan akan menabrak dinding lemari. Belum lagi penerangan lemarinya yang kurang. Pendek kata, rasa puas memakai lemari buku plus meja belajar sekarang sebagai tempat untuk menjahit itu cuma yaaa.... 40% deh. Mungkin karena memang pada dasarnya meja ini diperuntukkan bukan untuk menjahit ya. Tapi untuk belajar dan menyimpan buku.

Nah... jadi, ini dia model mesin jahit yang bikin aku kesengsem lagi. Lihat deh.. cantik-cantik banget dan semua space yang ada diperuntukkan untuk memberi kenyamanan bagi pemakainya.








Komentar

  1. bagus2 ya mejanya.tapi kayaknya aku suka yg luas bawahnya deh.leluasa.secara aku gemuk.xixixi... mbak ade.aku pengen bisa jahit.xixixi

    BalasHapus
  2. alamatnya dimana yaa ??

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…