Langsung ke konten utama

Ketika Hidungku Kembang Kempis

Setelah bulan lalu bisa dikatakan aku nyaris amat sangat jarang update blogku ini, maka menjelang akhir oktober ini terasa amat luar biasa buatku. Bagaimana tidak? Karena ada banyak sekali kesempatan yang aku dapatkan di bulan oktober ini dan itu langsung serta merta meluruhkan seluruh rasa kecewaku karena tidak bisa meng-update blogku ini. Aku merasa amat tersanjung. Asli.


Hal-hal yang amat aku syukuri dan bikin hidungku kembang kempis karena merasa amat tersanjung  itu adalah:
1. Setelah melalui penghitungan yang ketat dan bahkan draw dalam voting di group Be A Writer (aku dan eni martini masing-masing mendapatkan 25 suara, tapi ternyata Yeni Mulati Ahmad, penulis senior di group BAW belum memberikan suaranya dan dia memberikan suaranya padaku hingga genap aku menang satu angka), akhirnya aku terpilih sebagai Writer Of The Month di blog BE A Writers Indonesia. Waw senangnya. Kalian bisa membaca wawancara yang dilakukan oleh Admin untuk rubrik Writer of the month itu di group BAW Indonesia disini.



2. Kelanjutan dari dipajangnya profileku ini, alhamdulillah Pakde Cholik mengajakku untuk menjadi bintang tamu di tebak wajah model yang ada di Blogcamp miliknya. Hari pertama, Pakde memberikan clue untuk menebak wajah modelnya, besoknya jawabannya sudah bisa dilihat di blogcamp. Pemenangnya mendapat hadiah. Seru sekali ide Pakde ini.

ini foto yang diambil dari blognya Pakde Cholik, Blogcamp
3. Terakhir, karena kegiatanku yang rutin mengantar kakakku, maka aku jadi punya ide untuk menuliskan semua pengalamanku mendampingi kakakku itu. Nah, ketika aku menghubungi beberapa pihak terkait untuk rencana penulisan buku tersebut, subhanallah... sambutan mereka luar biasa sekali. Waahh... aku jadi kembali merasa tersanjung. Mereka semua kooperatif dan bersedia memberikan informasi apa saja yang aku butuhkan demi kelancaran rencanaku itu.
Aih senangnya.

Semoga semuanya kelak berjalan dengan manis.
Rupanya, segala sesuatu itu jika kita lakukan dengan penuh keikhlasan maka ganjaran yang kita peroleh terasa amat sangat manis sekali. Alhamdulillah ya Robbi, terima kasih untuk semua karuniamu.

Komentar

  1. berkahnya aku kebagian mbak, berkat menang menebak namanya mbak ade di kuisnya pakde :)

    BalasHapus
  2. wahh aku g tahu kuisnya hehe

    sukses terus buatmu mbak

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…