Langsung ke konten utama

Tutorial Sederhana Cara Menikmati Es Mambo

Putri bungsuku, Hawna, punya daftar riwayat alergi yang cukup banyak. Itu sebabnya dia jarang sekali jajan sembarangan dan rada-rada "milih" makan dan minumnya. Kadang, kalau aku lagi menghayal gara-gara kepingin tapi malu ama badan yang udah terlanjur kegemukan, putriku ini rada-rada nggak nyambung ama khayalanku.



Seperti ini misalnya:
"Duh.. panas-panas ini, enaknya tuh beli es krim yang dilapisi coklat. Terus kita duduk di atas ban yang berbentuk perahu-perahuan yang dilarung di atas kolam renang yang airnya dingin sejuk." (khayalan emaknya)

"Emang makan es krim enak apa panas-panas gini?" (pertanyaan anaknya)

"Ya enaklah... Bayangin lelehan es yang udah ada pemanisnya itu ngalir di tenggorokan kita yang lagi kering karena kegerahan gini... duh.. mantap." (khayalan emaknya)

"Hmm... aku gak bisa bayangin bu. Kan aku gak pernah makan es krim." (oooooo.... aku langsung bangkit dari posisi mengkhayalku.).."Memangnya, es krim itu dingin banget ya? Enak ya? Manis ya?" (ishh... kalau aku ini seorang satpam, maka pasti aku akan menghukum diriku sendiri untuk push up 50 kali karena udah nggak tahu diri mengkhayal di depan anak kandung sendiri yang menderita alergi dan tidak pernah merasakan hal-hal nikmat yang aku khayalkan itu... duh, nyesel mengkhayal)

Nah... beberapa hari yang lalu, di sekolah ada yang jual es mambo ke sekolah. Tapi, isinya susu sapi merek Diamond. Waaahh... aku jadi ingat, Hawna suka nih pastinya. Tapi.. hiks. Esnya dingin. Untungnya, si penjual ini, sesama ibu-ibu yang nungguin anaknya di sekolah sih, bawa es mambo susunya gak pake termos. Jadi, aku lihat esnya mulai mencari dan mencair dan mencair. Waaahh... aku jadi dapat ide. Jadi, aku beli deh esnya. Aku pikir, Hawna kan pulang sekolah masih satu setengah jam lagi, jadi sepertinya es ini sudah mencair sempurna pas dia pulang nanti. Berarti, sama seperti anak-anak lain  teman-temannya Hawna yang suka jajan, Hawna bisa juga nih merasakan apa itu makan es mambo. Dan benar saja, begitu dia muncul, aku langsung sodorin esnya ke dia. Bungkusnya saja yang es, isinya sih sebenarnya susu biasa karena esnya emang udah mencari. Tinggal embunnya saja yang sisa di bungkus luarnya.

"Nih... coba deh." Hawna melihat es yang aku sodorkan dengan pandangan bingung.
"Boleh?"
"Udah gak dingin."
Dengan wajah sumringah, Hawna langsung meraih es mambo yang aku sodorkan dan berlari ke teman-temannya sambil berteriak..."Ehh.... aku sama dongggg.. jajan es jugaaaa..." Lalu bersama teman-temannya yang mengudap es mambo beneran (karena para ibu mereka menitipkan es tersebut di kulkas kantin sekolah), mereka tertawa-tawa kegirangan. Tapi, gak lama kemudian Hawna mendatangiku lagi.

"Bu.. makannya gimana?"
"Digigit saja." Wajah Hawna bengong dan menatap es mambonya dengan pandangan bingung. Dibolak balik hingga akhirnya matanya terhenti menatap lilitan simpul mati es mambo tersebut.
"Buka iketannya gimana?" (waaaa... aku baru sadar. Hawna kan selama ini gak pernah jajan es mambo. Tentu saja dia tidak tahu bagaimana cara menikmati es mambo itu. Jadi, sambil menahan senyum, aku pun memberikan tutorial sederhana cara menikmati es mambo.)
"Makannya bukan dari atas nak, tapi dari bawah. Jadi, iketannya justru ditaro di bawah. Nah, bagian bawahnya, kan ada ujungnya tuh, digigit kecil sampai berlubang... coba deh ... kayak tikus lagi gerogotin kantong gula... nah... kalau sudah, langsung diisep air yang keluarnya... eh... badannya gak boleh diremas terlalu kencang. Nanti cepat habis esnya."
hahaha.... lucu ya anak-anak itu. Pengalaman pertama mereka atas sesuatu yang sudah khatam kita ketahui kadang bikin kita lupa bahwa mereka.. belum tahu apa-apa dan masih harus dibimbing.


Komentar

  1. senang ya anak2 membuat es mambo, anakku awal ya gak tau es seperti itu dinamakan es mambo

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya .. anakku asli gak tau cara makan es mambo itu gimana

      Hapus
  2. waduh, alergi dingin sampai ga bisa maem es? hm... yang sabar ya dek :)

    BalasHapus
  3. pasti senang ya Hawna bisa makan es juga, meski sudah cair. Anak2ku kalo beli es jeruk atau es teh yg dibungkus plastik, cara makannya juga sama seperti itu, dari bawah dilubangi dikit :)

    BalasHapus
  4. wew.. seger itu keliatannya..hehe
    tp sekarnag lagi musim dingin jadinya gk minum es dulu..takut sakit..hihi

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…