badge

Rabu, 28 Agustus 2013

Serupa tapi Tak Sama Sebagai Sesama Saudara Serumpun



Alhamdulillah, liburan keluarga saya tahun ini destinasinya adalah jalan-jalan ke Yogyakarta. Bisa dikatakan, ini jalan-jalan saya yang sebenarnya. Dalam arti, saya ke Yogya itu niatnya memang jalan-jalan dan mengerti mau kemana-mananya. Karena dulu waktu saya masih kecil, sebenarnya orang tua saya pernah mengajak saya jalan-jalan ke Candi Borobudur, Prambanan dan Parang Teritis serta wilayah Yogyakarta yang terkenal lainnya, tapi saya tidak ingat sama sekali pengalaman tersebut. Jadi, ini jalan-jalan kedua ke Yogyakarta dalam sejarah hidup saya tapi sekaligus jalan-jalan pertama ke Yogyakarta yang saya ingat bagaimana detilnya. (*aduhh.. ribet ya bahasanya si Ade ini?? Xixixixi)


Enaknya jalan-jalan di usia yang kita sudah cukup matang untuk mengerti segala sesuatunya itu adalah, kita bisa merekam semua kegiatan kita dan menggabungkan rekaman kegiatan itu dengan pengetahuan yang kita miliki yang lain yang ada di ingatan kita. Itu sebabnya saya amat antusias sekali ketika berkunjung ke Candi Borobudur, Candi Prambanan, Keraton, dan pantai Parangteritis.

Jujur. Setelah waktu kecil dahulu saya ke sana, baru kali ini saya melihat kembali Candi Borobudur setelah pemugaran dalam arti setelah reservasinya di tahun 1973 hingga 1983 itu. Candi Borobudur diakui oleh UNESCO sebagai salah satu world Heritage di tahun 1991. Bentuknya memang megah sekali. Dan setelah masa reformasi ini, maka ada kebebasan bagi umat Budha untuk memakai candi ini sebagai salah satu tempat ibadah mereka, maka ada beberapa aturan baru yang diberlakukan. Salah satunya adalah: kita dihimbau untuk mengenakan pakaian yang sopan. Itu sebabnya disediakan sebuah kain untuk menutupi tubuh bagian pinggang ke bawah.



Candi Borobudur ini memang adalah candi agama Budha. Terlihat dari banyaknya relief tentang sejarah hidup Sidharta Gautama yang terdapat di seluruh dinding Candi Borobudur. Riwayat hidup Sang Buddha Gautama dimulai pada saat para dewa di surga Tushita mengabulkan permohonan Bodhisattva untuk turun ke dunia. Di dunia, Bodhisattva menjelma menjadi manusia bernama Buddha Gautama. Cerita ini bisa dilihat dari teras pertama candi Borobudur (FYI: ada  9 teras berundak dan sebuah stupa induk di puncak Candi Borobudur  yang terdiri dari 6 teras berdenah persegi dan3 teras berdenah lingkaran).

Daaaannnn.... ini dia foto-foto waktu liburan ke candi Borobudur lalu. 


ini sang Budha sedang memberikan pelajaran pada murid-muridnya di bawah pohon Bodi





Sayangnya, saya tidak mencatat lebih jauh perihal cerita tentang riwayat hidup Sang Budha Guatama ini karena keterbatasan waktu yang saya miliki di masa jalan-jalan ini. Dari Candi Borobudur, saya juga mendatangi candi Prambanan. 


penyusunan candi Prambanan ini urutannya adalah: candi utama  yang ditujukan untuk dewa, dan candi pendamping yang diberikan untuk kendaraan yang dipakai oleh para dewa tersebut dalam menjalankan tugas keseharian mereka. Jadi, memang selalu berpasangan dan berhadap-hadapan peletakannya.


Nah; kebalikan dari Candi Borobudur yang merupakan tempat peribadatan umat Budha, maka candi Prambanan adalah tempat peribadatan umat Hindu. Sama seperti di candi Borobudur, di sinipun kita diharapkan memakai kain yang disediakan untuk menghormati tempat peribadatan umat Hindu tersebut.

Candi Prambanan, adalah wilayan kawasan candi yang diperuntukkan untuk Dewa-dewa di agama Hindu. Ada tiga candi besar di Prambanan yaitu candi yang diperuntukkan bagi dewa Wisnu, Brahma dan Syiwa. Masing-masing candi besar itu didampingi oleh candi pendamping yang lebih kecil. Dan pada reliefnya, terdapat cerita tentang kisah Ramayana, dengan kisah cinta Rama dan Shinta yang terkenal tersebut.


ini foto-foto relief dimana Rama membawa pasukannya untuk menghadapi Rahwana yang telah menculik istrinya, Shinta.

Ngomong-ngomong tentang candi Hindu yang diwakili oleh candi Prambanan ini, saya jadi teringat dengan Candi Angkor Wat yang terdapat di Kamboja. Kebetulan tulisan ini memang dibuat dalam rangka menjawab sebuah pertanyaan terkati dengan tugas hari kedua #10daysfor ASEAN:

Sudah pernah berwisata ke Candi Borobudur? Menurut penjelasan ahli sejarah, relief Borobudur ada kemiripan dengan Candi Angkor Wat, yang berada di Kamboja. Padahal, Borobudur dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat ada.  Apakah ini menandakan bahwa negara-negara di ASEAN itu serumpun? Apa pendapatmu mengenai hal itu?

Sebenarnya saya tidak tahu pendapat ahli sejarah mana yang dipakai dalam pertanyaan tersebut sehingga si "ahli sejarah" itu berani mengatakan pendapat bahwa ada kemiripan antara Candi Angkor Wat dan Candi Borobudur. Karena, jika dilihat dari segi tempat peribadatan, tentu saja keduanya berasal dari agama yang berbeda dan tentu isinya otomatis berbeda. Terlebih, jika melihat dari isi reliefnya, jelas sekali kedua candi ini berbeda isi cerita reliefnya. Karena Candi Angkor Wat, dari cerita yang saya dengar dari teman-teman yang pernah berkunjung ke sana menceritakan tentang kisah Ramayana dan Bharatayuda. Sama seperti relief yang terdapat di Candi Prambanan mungkin lebih tepatnya. Bahkan kalau diperhatikan, bentuk candi Angkor Wat dan candi Prambanan malah lebih mirip sih, khas bentuk candi agama Hindu yang menggambarkan menara tinggi langsing yang disebut Puncak Meru. Sedangkan candi Borobudur menceritakan tentang kisah hidup Sidharta Gautama. 

candi Angkor Wat. Lihat penyusunannya yang mirip dengan Candi PRambanan.  gambar diambil dari sini
candi angkor wat yang mirip candi prambanan. gambar diambil dari sini



Jadi, mari kita abaikan pertanyaan yang berdasarkan pernyataan ahli sejarah tersebut. Persamaan bentuk candi-candi di beberapa negara ASEAN itu menandakan satu hal: bahwa sejak jaman dahulu bangsa-bangsa di ASEAN itu sudah dipersatukan lewat jalur agama dan perdagangan.


Melalui jalur penyebaran agama dan jalur perdaganganlah sejak dahulu nenek moyang negara-negara ASEAN saling berhubungan satu sama lain dan saling melakukan kerjasama. Mereka melakukan pertukaran ilmu pengetahuan, barter informasi, dan akhirnya saling membantu perekonomian satu sama lain. Belakangan, melalui kerja sama ASEAN, kerjasama ini kian ditingkatkan dalam berbagai bidang yang saling menguntungkan satu sama lain insya Allah. Jadi, bukan tidak mungkin kelak kerjasama negara-negara ASEAN bisa menjadi kekuatan sosial ekonomi dan politik tersendiri seperti halnya negara-negara di Eropa sana dalam UNI EROPA.

Lalu pertanyaan berikutnya; apakah negara-negara ASEAN itu serumpun? Ini mah sudah jelas ya jawabannya: YA.

Kata ahli sejarah antrolopologi (nara sumbernya dari sini nih), di dunia ini sebenarnya manusia itu terdiri dari empat ras besar. Yaitu ras Kaukasia
(yang umumnya terlihat dari kulit yang putih kemerahan, hidung mancung, tubuh tinggi, rambut berwarna terang), ras Mongolian 

(yang umumnya terlihat dari kulit yang kuning, mata yang mengecil, dahi pendek), ras Negro 

(yang umumnya terlihat dari kulit yang hitam, mata bulat, dah lebar), dan terakhir ras Australoid
semua gambar tipe ras manusia ini diambil dari sini
(yang ditandai dengan mata bulat, kulit coklat tua, rambut keriting).

Nah, masyarakat ASEAN masuk dalam ras Mongoloid konon. Tapi, tentu saja sudah terjadi percampuran akibat perkawinan silang. Terlebih dahulu, beberapa wilayah ASEAN pernah dipersatukan dalam beberapa kerajaan besar yang pernah ada di Tanah Air kita, Indonesia, yaitu kerajaan Sriwijaya dan lalu kerajaan Majapahit.  Oleh bangsa Khmer, orang-orang yang berasal dari kerajaan Sriwijaya ini mereka sebut dengan orang-orang Melayu (narasumber dari sini)

gambar diambil dari sini


ini wilayah jangkauan kerajaan Majapahit (daerah yang diarsir). gambar diambil dari sini
nah ini peta perdagangan yang terjadi sejak jaman dinasti bangsa China yang tanpa terasa akhirnya menghubungkan seluruh wilayah ASEAN karena selain berdagang terjadi juga proses tukar menukar budaya. Gambar diambil dari sini


Nah, jika dilihat dari sisi ras dan sisi penyatuan wilayah akibat masa dinasti kerajaan-kerajaan jaman dahulu itu, tentu bisa dikatakan bahwa antar bangsa-bangsa di ASEAN, kita masih satu rumpun.

Lebih tegasnya lagi, masih oleh para ahli antropologi, bahasa yang digunakan oleh bangsa-bangsa ASEAN juga bisa dikatakan masih satu rumpun bahasa, yaitu bahasa Melayu Polinesia. Itu sebabnya ada beberapa penggal kata yang mirip-mirip antara wilayah di sesama negara-negara ASEAN. Bahkan saya sendiri. Setiap kali liburan ke Malaysia dan Singapura, selalu merasa seperti sedanga pulang kampung karena ada banyak sekali kosa kata bahasa Melayu di Singapura dan Malaysia yang mirip dengan kosa kata bahasa Palembang.

Itu sebabnya, budaya antara negara-negara ASEAN pun mirip-mirip. Gerakan tariannya, model pakaiannya, jenis masakannya, kegiatan kesehariannya, dan adat kebiasaannya.  Jadi, ya, mungkin kita semua harus lebih bijaksana dalam sikap dan penyampaian pandangan jika ada pihak-pihak yang "mengompori" bahwa salah satu negara tetangga kita telah mencuri budaya kita. Karena, pada dasarnya, karena berasal dari nenek moyang yang sama maka mereka pun memang punya sesuatu yang kita tuduh dicuri dari negara lain itu. Jadi, mereka mungkin saja tidak mencuri tapi memang punya. Hanya saja sama nama tapi berbeda rupa. Atau sama nama tapi berbeda rasa. Jadi serupa tapi tak sama. 

Misalnya saja, Rendang. Di Malaysia, ada juga rendang. Tapi memang rasanya berbeda dengan rendang Padang. Mereka lebih banyak cita rasa kari-nya karena terpengaruh juga dengan budaya India; sedangkan Rendang padang lebih banyak cita rasa santan dan bumbu berempahnya. Tapi, sama-sama disebut rendang (dan karena saya pernah merasakan perbedaan dua jenis rendang ini, saya pribadi lebih suka rendang Indonesia).


gambar diambil dari sini


Atau batik. Di Malaysia memang terdapat batik dan itu jelas berbeda motifnya dengan Batik Indonesia. Batik mereka lebih mirip Batik Kalimantan; dengan pola besar-besar dan didominasi oleh gambar bunga Raflesia, Anggrek dan  kembang sepatu. Tidak sekompleks seperti batik kita yang berupa-rupa bentuk dan ragamnya seperti model parang, mega mendung, dan sebagainya (aku kurang mengerti tentang motif batik).
batik Indonesia. Gambar diambil dari sini


batik malaysia. Gambar diambil dari sini



Ya... intinya, sebagai sesama saudara serumpun, hidup berdampingan secara rukun dan damai haruslah dinomor satukan ketimbang terus menerus melihat pada persaingan dan situasi yang tidak kondusif. Dengan begitu, insya Allah kita semua bisa mencapai persatuan sebagai satu masyarakat serumpun. 
Karena hanya melalui sebuah persatuanlah maka sebuah kawasan bisa menjadi kuat.
Insya Allah.


berbagai macam ucapan selamat dari berbagai negara ASEAN. Gambar diambil dari sini

-------------
Penulis: Ade Anita

bahan bacaan: 
- Sejarah Candi Borobudur (http://www.websejarah.com/2012/02/sejarah-berdiri-candi-borobudur.html)
- MIsteri Sejarah Angkor Wat (http://paranormalindonesia1.blogspot.com/2011/11/misteri-sejarah-angkor-wat-keajaiban.html)
- sejarah agama budha di Indonesia (http://www.wihara.com/forum/topik-umum/1005-sejarah-agama-buddha-di-indonesia.html)
- Menjenguk masa silam di Angkor Wat (http://sejarah.kompasiana.com/2011/07/15/menjenguk-masa-silam-di-angkor-wat-378040.html)

8 komentar:

  1. Wah foto-foto di Borobudurnya bagus, Mbak..Senang banget ya yang liburan :)

    BalasHapus
  2. penjelasan tentang rumpunnya mencerahkan sekali :)

    BalasHapus
  3. Saya malah belum pernah ke kedua-duanya. Baru niat saja untuk berkunjung. Padahal banyak tiket pesawat murah ke Siem Riep atau ke Jogjakarta. Ah semoga tahun2 mendatang bisa menyempatkan berkunjung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. datang ke sana deh.. eh.. lain kali aku tulis juga deh liburan ke candi borobudur itu enaknya ngapain aja.. heheh

      Hapus
  4. Wuiiiiih....punya mbak Ade komplit banget.
    ternyata..tulisan peserta lomba ini banyak yang bagus-bagu ya, hehee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener... makanya deg degan juga..

      Hapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...