Langsung ke konten utama

Evaluasi Ramadhan a la Ade Anita

Alhamdulillah, bulan Ramadhan baru saja berlalu. Kini, saatnya untuk mengevaluasi diri sendiri agar hasil didikan bulan Ramadhan yang satu bulan penuh itu bisa dipertahankan di 11 bulan berikutnya. Kemarin, Mahfud MD di ceramah hari raya Idul Fitri di Masjid Al Azhar mengatakan bahwa hendaknya, berakhirnya Ramadhan itu dijadikan langkah awal untuk memulai hari baru, langkah baru dalam menyongsong kehidupan tanpa penjagaan dari suasana Ramadhan yang sakral, tanpa iming-iming hadiah pahala ibadah yang berlimpah.

Sesungguhnya, kita sendiri juga belum tahu apakah semua amal ibadah yang kita lakukan sepanjang bulan Ramadhan kemarin itu apakah memiliki kualitas istimewa, atau bagus, atau biasa saja alias rata-rata, atau malah buruk. Duh, Naudzubillah min dzaliik. Semoga semua amal ibadah yang kita lakukan sepanjang bulan ramadhan kemarin diterima oleh Allah SWT. Aamiin.
Taqabbalallahu minna wa minkum.

Berarti, sekarang kita bisa memulai rundown apa saja yang kita lakukan di bulan Ramadhan lalu agar bisa kita pertahankan di 11 bulan berikutnya.

1. Berpuasa. Amal ibadah puasa di selain bulan Ramadhan statusnya adalah ibadah Sunnah. Semoga kita bisa menjalankan ibadah sunnah berpuasa di bulan berikutnya.

2. Shalat Fardhu itu sudah pasti insya Allah jika tidak ada halangan apa-apa. Karena memang kewajiban kita bukan. Tapi, shalat sunnahnya nih gimana. Jika sepanjang bulan ramadhan kita rajin mendirikan shalat sunnah rawatib, semoga di bulan-bulan berikutnya kita bisa diberi kemampuan mendirikan shalat sunnah rawatib juga.

3. Shalat malam setiap malam. Ini untuk menggantikan posisi shalat taraweh yang dahulu selalu kita lakukan saban malam. Nilainya memang bernilai sunnah tapi jika ikhlas dijalankan semoga shalat ini bisa menghindarkan diri kita dari perbuatan keji dan munkar.

4. Bersedekah dan berinfaq.
5. Memelihara diri agar tidak terperangkap dari perbuatan yang mengumbar hawa nafsu. Jika di bulan Ramadhan kita bersemangat melakukan puasa dari rasa lapar dan haus juga berpuasa dalam kaitannya dengan memerangi hawa nafsu, maka di bulan-bulan berikutnya tentu hal ini diusahakan untuk  dilanjutkan.

6. Membaca Al Quran. Beberapa tahun yang lalu, yaitu tepatnya sejak tahun 2001, yaitu tahun dimana saya belajar membaca Al Quran secara lebih serius ketimbang tahun-tahun sebelumnya (sampai memanggil guru privat ke rumah), di bulan Ramadhan saya hanya bisa menyelesaikan surat Al Baqarah saja. Ketika menyelesaikan satu surat ini di malam takbiran itu rasanya luar biasa sekali. Lalu, setelah masuk bulan Syawal saya meneruskan membaca surat lanjutannya hingga akhirnya ketika bertemu bulan Ramadhan tahun berikutnya, saya sudah sampai pertengahan Al Quran. Lalu terus berlanjut lagi di bulan syawal dan seterusnya dan akhirnya ketika datang lagi bulan Ramadhan di tahun berikutnya, akhirnya saya bisa khatam Al Quran. Dengan begitu, saya perlu waktu 3 tahun untuk khatam Al Quran. Malu sebenarnya mengingat usia saya yang sudah tua. Tapi, saya memang baru serius belajar Al Quran di usia yang sudah tidak muda lagi. Sudah ada anak pula, waktu itu masih kecil-kecil lagi dan sehari-hari tidak ada asisten rumah tangga. Pernah saya sampai menangis menitikkan air mata karena merasa putus asa lupa-lupa terus hurufnya itu dibaca apa.

Solusinya, saya membeli Al Quran yang disertai huruf latin di bawahnya. Jadi, jika saya bingung saya bisa membaca huruf latinnya. Kadang sekedar untuk mengecek apakah dugaan saya benar itu terbacanya apa. Lalu, saya juga memasang MP3 Murattal Al Quran untuk membiasakan diri mendengar panjang pendek cara bacaannya. Saya tidak pernah berhasil mengejar kecepatan para Qori itu dalam membaca Al Quran. Tapi... maju terus pantang mundur.

Kendalanya satu: saya seorang yang tidak percaya diri alias minderan. Jadi, jika sedang membaca lalu ada orang lain di dekat saya, maka saya memelankan suara saya. Takut ditertawakan atau dicela: "ihh, sudah tua belum bisa baca Al Quran." Nah, rasa minder ini yang membuat saya tidak bisa belajar membaca Al Quran setiap saat dan dimana saja. Mental saya memang belum mental juara yang tahan celaan dan gak mempan tertawaan. Jadi, nunggu sepi dan gak ada orang dulu, atau menunggu ketika semua orang tidur atau lagi pada bepergian dulu baru bisa mencuri waktu untuk menyelesaikan bacaan.

Alhamdulillah semuanya sekarang sudah lebih baik sekarang. Setidaknya, saya bisa lebih percaya diri jika harus membaca dan ada orang di dekat saya. Tidak perlu berhenti dulu.
Nah.. semoga semua ini bisa lebih bagus lagi di bulan-bulan berikutnya dan semakin baik dan semakin baik lagi. Semoga Al Quran kelak bisa menyelamatkan saya di akherat nanti.

7. Menjaga diri agar tidak merugikan orang lain dan Menjaga diri agar bisa memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan.
8. Tetap berprestasi dan menghasilkan yang terbaik; tanpa sedikitpun meninggalkan sifat tawakkal.
9. Tetap berusaha untuk ikhlas setiap saat, setiap waktu, dimana saja, kapan saja, pada apa saja, pada siapa saja.
10. Belajar untuk senantiasa bersabar dan bersyukur.

Bismillah.. mari kita jelang bulan ramadhan tahun depan. Semoga kita dipertemukan lagi dengan bulan ramadhan tahun depan.  Aamiin.


Penulis: Ade Anita

Komentar

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…