Langsung ke konten utama

#LiburanCeria: Wedang Ronde Pertama Untuk Hawna

Hawna putri bungsuku, pengalaman kuliner nusantaranya belum banyak. Hal ini karena lidahnya yang tidak terbiasa mengecap aroma pedas sejak kecil. Di rumah, memang hanya aku saja yang senang makanan pedas. Suamiku dulu senang, tapi sejak ada masalah dengan lambungnya maka dia menghindari makanan pedas atau berbumbu kuat. Karena hanya aku saja yang doyan pedas padahal harga cabe lumayan mahal, akibatnya menu masakan yang aku buat sehari-haripun amat sangat jarang yang pedas atau beraroma bumbu yang kuat.



Di rumah aku lebih senang memasak makanan Chinese Food. Bumbunya amat sederhana, cukup bawang putih, garam, merica. Tidak ada yang lain. Mengolahnya juga cepat. Nanti tinggal personil lauknya saja yang divariasikan. Sebagai selingan aku beberapa kali memasak masakan Indonesia tapi dengan penyesuaian lidah khas keluargaku yang tidak kuat pedas. Jadi, yang namanya gulai di rumahku itu dijamin tidak pedas sama sekali. Yang namanya bumbu rujak atau bumbu bali, mungkin agak pucat warnanya karena memang keberadaan cabenya dihilangkan (padahal justru cabelah yang membuat warna bumbu masakan Indonesia menjadi meriah). Kelanjutan dari efek pola masakan rumahku adalah: kami semua tidak terlalu tahan dengan masakan pedas atau berbumbu kuat. Pedas disini bukan hanya pedas yang ditimbulkan oleh cabe tapi juga oleh jahe.

Nah, hari pertama liburan di Yogyakarta, setelah makan siang, shalat, istirahat bongkar koper, jalan-jalan sebentar di Ambarukmo Plaza, mampir di butik batik Soga yang ada di dekat Hotel Paku Mas untuk membeli kain batik, pukul lima sore kami beranjak naik taksi ke arah Malioboro. Taksi pertama menolak karena menurut mereka jalan ke Malioboro itu macet. Taksi APV berikutnya barulah bersedia. Sistem Argo berlaku di taksi besar ukuran mobil Zenia ini. Lumayan kan. Lalu, kami tiba setelah azan maghrib berkumandang.

Wah. Jadilah kami memutuskan untuk shalat maghrib dulu di masjid yang ada di samping Pasar Beringhardjo. Selesai shalat maghrib, suamiku mengajak untuk jajan Wedang Ronde. Sebelumnya, anak bungsuku, Hawna belum pernah tahu apa itu wedang ronde.

"Aku berdua ibu deh. Pedas ya?" (hawna mulai ragu)
"Nggak terlalu. Enak kok, jadi bikin anget perut. Ada manisnya juga selain rasa pedasnya." (aku berusaha meyakinkan Hawna. Jadilah karena dia tetap ragu maka aku dan dia makan satu mangkuk berdua. Hawna belum yakin bisa menghabiskan satu mangkuk sendiri padahal makanan sisa itu kan mubazir ya.. hehehe)

Lalu, aku mulai menyuapi dia Wedang ROnde. Butir sagu sebesar kelereng yang berisi gula merah dan kacang tumbuk itu dia suka sekali.
"Nah, yang kamu suka itu namanya Ronde."
"Enak ya bu. Gak pedas. Manis."
"Iya, tapi airnya juga gak pedas kan. Tapi malah bikin anget perut. Iya gak?"
"Iya, aku suka."

Alhamdulillah.
"Nah, kalo ronde itu bulet-bulet warna putihnya, terus wedang itu yang mana?" (hawna mulai mengamati isi mangkuk wedang rondenya. Di dalam mangkuk itu selain kuah jahe manis, juga terdapat ronde, kacang tanah, potongan roti, dan potongan kolang kaling. Perbedaan Wedang Ronde dengan Sekoteng di Jawa Barat terletak pada personil di dalamnya. Pada sekoteng masih ada tambahan lagi yaitu kacang hijau dan potongan jahe kecil yang garing serta susu kental manis. Wedang Ronde tidak memakai susu kental manis).

"Wedang itu artinya air minuman. Jadi, Wedang Ronde itu artinya minuman yang disajikan dengan Ronde di dalamnya. Begitu." (akhirnya suamiku menjelaskan pada putri bungsuku itu tentang arti wedang ronde. Kelak, sepanjang liburan kali ini suamiku memang akhirnya juga bertindak sebagai guide yang seksi (*oke, seksinya dicoret, ini pendapat pribadiku hehehe). Dia selalu sigap menjelaskan segala sesuatu tentang Yogyakarta)

Dan inilah kami yang sedang menikmati wedang Ronde di depan masjid.





Sudah pernah mencoba Wedang Rondekah? Cobain deh .. enak.

foto diambil dari sini

Bersambung ke cerita selanjutnya deh

=======================
penulis: ade anita

Komentar

  1. iya, enak. Anakku yg pertama juga suka minuman yg ada jahenya. Karena itu minuman surga, gitu katanya ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…