Langsung ke konten utama

RUmah Masa Kecil #2: Yang Aku Sukai tapi Dibenci Ayahku

Hubunganku dengan ayah dekat sekali.
Entah mengapa aku dan ayah bisa dekat satu sama lain. Sejak kecil, kami banyak menghabiskan waktu berdua. Seperti setiap jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB maka, aku dan ayah akan segera duduk anteng di depan televisi untuk mengikuti acara TVRI: Dunia Dalam Berita. Ini seperti menjadi acara wajib bagi kami berdua.Nah, setelah acara Dunia Dalam Berita selesai, biasanya kami akan saling mengingat apakah malam itu akan diputar film silat mandarin berseri di televisi ataukah tidak. Sekali lagi, karena aku dan ayah sama-sama menyukai film silat mandarin berseri. Tapi, jika suasana di sekitar televisi ramai oleh orang-orang lain selain kami berdua, itu sudah bisa dipastikan bahwa film silat Mandari berseri tidak diputar malam itu setelah acara Dunia Dalam Berita karena pasti ada acara hiburan. Entah itu acara musik ataukah drama TVRI. Itu sebabnya orang-orang selain kami berdua ramai duduk menanti di depan televisi. JIka acara hiburan musik atau drama TVRI tidak diputar, pasti mereka sudah pada bubar jalan kembali ke kamar masing-masing.


Ibu sering kesal melihat aku dan ayah begitu dekat. Karena, kedekatan itu membuat ayah tanpa sadar selalu membelaku jika aku berbuat salah dan itu membuat ibu jadi tidak bisa marah-marah amat hebat di depanku. Tapi, ya memang tidak ada yang perlu dimarahi juga sih. Aku termasuk anak yang penurut, berprestasi dan tidak banyak ulah ketika masih kecil kecuali.... selalu merasa gak terkekang karena tumbuh sebagai anak perempuan.

hahahaha... alaasan yang konyol ya. Tapi, demikianlah adanya. Menjadi anak perempuan jaman dahulu (tahun 1970 an hingga awal 1980 an) itu, dimana kultur budaya keluargaku amat ketat menjaga anak perempuannya membuatku kesulitan untuk melakukan apa yang aku sukai. Banyak hal yang tidak boleh dilakukan sekaligus banyak hal yang ternyata harus diterapkan. Fiuh. Mengesalkan. Tapi, kalau dipikir-pikir sekarang, semua kultur budaya itu baik sekali ternyata. Karena itu mendidik aku untuk menghargai diriku sebagai seorang perempuan yang "elegan".

Tapi, karena aku disayang banget sama ayahku, ayah sering membelaku dan diam-diam membolehkanku melakukan apa yang dilarang ibu.

Seperti aku dibolehkan memanjat pohon jika ayah ada di rumah. Tapi jika ayah pergi aku tidak boleh memanjat pohon. Aku juga boleh naik kuda jika kami sedang berlibur dan menghabiskan waktu akhir pekan menginap di Villa di Puncak, Bogor, tapi kudanya tidak boleh berlari kencang-kencang. Ya, lmayan lah.

Hanya saja, ada satu hal yang aku sukai tapi ayah amat benci jika aku melakukan itu. Yaitu ayah tidak suka melihat aku memanjat genteng rumah dan duduk-duduk di atas genteng atau rebahan di sana. Meski hanya sebentar sekalipun. Padahal aku suka banget melakukan itu karna ... aku suka memandang langit. Aku suka menatap awan yang bergerak dan merasakan cahaya matahari menyinari seluruh kulitku.

Ayah gak suka. Ayah akan langsung mencubit perutku jika tahu aku melakukan itu dan itu bukan cuma cubitan biasa tapi cubitan yang setelah dicubit lalu diputar. Rasanya sakit sekali.

"Nak, kamu perempuan. Kamu boleh melakukan apa saja tapi tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu dan mempermalukan diirimu sendiri kelak. Jadi, jangan diulangi lagi ya."

Nah... ini dia genteng rumahku itu.

jika ingin naik genteng, naiknya dari sini

ini pemandangan yang aku dapat dari atas genteng

ini tempatku biasa duduk dan rebahan


ini pemandangan lain yang aku dapat dari atap, yaitu bagian dari rumahku yang lain yaitu kamarku sendiri

----------------------------------
Penulis: Ade Anita

Komentar

  1. Ya ampuuun berarti dulu mbak Ade tomboy juga ya sampe manjat2 ke atas genteng segala :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh.... tomboy sih nggak... cuma aku suka memandang langit sejak dulu.

      Hapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…