Langsung ke konten utama

#Prompt11-a: Pembayaran

Mata Taufik tidak berkedip. Bola matanya berputar-putar di tempat sementara suara desis kecil terdengar dari mulutnya. Sesekali, bola matanya terangkat ke depan. Pada sepasang muda mudi yang sedang asyik ngobrol di depan meja kasirnya. Pasangan yang mesra. Tangan cowoknya sesekali terangkat untuk sekedar menyapu poni yang jatuh di atas kening ceweknya. Tapi melihat itu semua hati Taufik malah semakin merasa dongkol. Sebal. Sementara jemari Taufik terus bergerak lincah menghitung uang receh yang amat banyak di hadapannya dengan mulut berdesis.
"Maaf ya mas, kami berdua pasangan pengantin baru. Baru kemarin kami menikah. Di rumah kebetulan ada banyak sekali duit sisa nyawer, jadi bayar jusnya pake duit receh sisa nyawer aja mas. Gak papah kan."
Jika ingat kalimat tersebut, hati Taufik kembali mendongkol. Lalu kembali menghitung uang receh yang terdiri dari pecahan lima puluhan, seratusan, dan dua ratusan itu. Astaga! Bahkan duit receh dua puluh limaan juga ada. Huh.


==================
Tulisan ini diikut sertakan dalam tantangan mingguan #prompt 11: nota, MOnday Flash FIction

Komentar

  1. ini sebenernya lucu dan twistnya ada :)))) eksekusinya mbak masih hadeh... Tunggu remake dariku ya :D semoga bisa lebih asik :D

    BalasHapus
  2. jadi ingat pas bulan muda, yanti dan suami kehabisan uang cash sementara atm ngantrinya ga nahan. Ya sudah, keluarlah uang2 receh buat belanja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha... aku juga nulis ini inget kejadian itu yanti. Make duit receh buat bayar sesuatu dan si kasir ngedumel sendiri. xixixixi

      Hapus
  3. Padet, tapi masih kurang menggambarkan watak si tokoh aku. Andai ditambahkan sedikit pemaparan selain cuma mendesis dan mendongkol :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm, soalnya maksa gak boleh lebih dari lima paragraf. xixixixi. next time better

      Hapus
  4. jadi ingat kalo lagi bokek hehehe..receh dan ribuan sungguh berharga buat jajan :P

    BalasHapus
  5. ini cerita taufik yang keberapa ya , yang saya temukan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang namanya taufik emang lagi nain daun mbak

      Hapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…