badge

Minggu, 19 Mei 2013

Politisi oh politisi



Jangan-jangan, lama-lama aku jadi sebal beneran nih sama semua yang namanya politisi? Berita tentang mereka kian lama kian bikin mangkel.

gambar kartun politik ini diambil dari sini


Jadi ingat, dulu, ustad almarhum Zainudin MZ pernah juga memiliki pemikiran untuk masuk ke arena politik dengan mendirikan sebuah partai politik. Tapi, belakangan, beliau akhirnya mengundurkan diri dari partai yang dibesarkannya dengan alasan:

"Saya, dulu merasa bahwa dengan masuk ke dalam lingkaran politik yang dekat dengan kekuasaan, kita bisa memberikan suara kita lebih dahulu daripada orang yang berada di luar lingkaran. Karena, otomatis sebagai anggota DPR/MPR, saya ikut serta dalam pembuatan undang-undang dan menyampaikan aspirasi umat lebih dahulu pada pemerintah. Tapi, setelah berada di dalam, ternyata kondisinya bertolak belakang dengan apa yang saya bayangkan ketika berada di luar lingkaran.  Setelah di dalam, terjadi lobi-lobi, kesepakatan, harus memikirkan kepentingan anu, kepentingan itu, dan akhirnya... saya menemukan diri saya sudah berubah menjadi sosok yang dahulu saya kritik dan tidak saya sukai. Akhirnya, saya pun mengundurkan diri dari kancah politik dan kembali ke lingkungan dakwah.  Dunia politik itu ternyata... mampu mengubah seseorang menjadi sewarna dengan mereka dan tidak ada yang berhasil untuk tetap memiliki warna tersendiri.". (sumber: satu jam bersama Zainudin MZ di tvone)

Jujur saja, saya salut dengan keputusan ustad yang satu ini. Dan senangnya, karena kembali bisa mendengar semua ceramahnya lagi.

Ngomong-ngomong soal Ustad, Ustad AA GYM juga dulu mengaku pernah diwanti-wanti oleh para pendengarnya untuk tidak melakukan 2 (dua) "P", yaitu Poligami dan (terjun ke) Politik. Yang pertama, tentu saja merupakan sebuah aturan yang sudah diatur oleh Allah SWT demi kemaslahatan Umat Islam itu sendiri. Maka, AA GYM menolaknya. Tapi yang "P" yang kedua, dia sepakat. Terjun ke dunia Politik memang sebaiknya dihindari oleh seorang pendakwah.
Tapi, bagaimana jika tidak ada sama sekali para pendakwah yang terjun ke dunia politik? Bagaimana kita bisa mempengaruhi dan mengontrol perkembangan dunia perpolitikan kita agar tidak melenceng hingga mereka melahirkan aturan perundang-undangan yang justru melenceng dari aturan agama Islam?

Nggak usah takut. Rakyat tetaplah masih yang paling utama menentukan nasib sebuah bangsa. Jadi, tidak semua nasib bangsa Indonesia ditentukan oleh para tuan dan nyonya yang ada di gedung DPR/MPR itu.

Jadi.... ketika ada seorang ustad yang diduga melakukan korupsi setelah duduk di bangku politisi? Ah, itu mah biasa.

Jadi, ... ketika ada seorang yang cerdik dan pandai yang diduga melakukan korupsi setelah duduk di bangku politik? Itu juga sudah diperkirakan semua orang.... mungkin tinggal menunggu waktunya saja untuk kabar tentang itu mencuat ke permukaan.

Jadi, ... ketika ada seorang yang santun dan baik hatinya tiba-tiba diberitakan melakukan korupsi setelah menjadi seorang politisi? Ya sudah biarin saja. Biasa itu.

Jadi.... ketika ada seorang yang sederhana dan bersahaja, baik dan sholeh tiba-tiba menyatakan diri berhenti jadi politisi dan ingin kembali ke jalur dakwah.... ITU BARU LUAR BIASA. LIKE IT... LOVE IT.
--------------------------------
Penulis: Ade Anita 

11 komentar:

  1. Sependapat dg pendapat alm. Ustadz Zainuddin MZ...politik yg terlalu banyk lobi sana sini menjadikan politik di negeri ini amburandul, ga jelas mau dibawa kemana negeri ini, seolah jargon "siapa mendapatkan apa" terpampang jelas. Seolah politik hanya utk bagi2 kursi dan kue, kalo merasa kurang trus cakar2an..duhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu yang bikin aku bingung. Kenapa kebijakan yang dibuat untuk kepentingan banyak orang harus dipolitisasi dan ditunggangi oleh mereka untuk cari muka paea pendukungnya?

      Hapus
  2. Sama mbak.. mereka itu kalau mau jadi calek bukan jutaan yang dikeluarkan untuk sana-sini, tapi puluhan juta mbak..
    maka itu kalau udah jadi di kursi yang dia maksud, dia balikin harta kekayaan mereka dengan cara korupsi mbak, kalau enggak mana mau...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh..waktu pemilu kemarin ada banyak caleg yang gagal terpilih jadi aleg lalu meminta kembali barang2 yang sudah mereka beri waktu kampanye... Untunglah mereka tidak terpilih

      Hapus
  3. Saya cuma tonton 2 acara TV: berita dan kartun, hehe...
    Dan dari acara berita itu saya mengikuti perkembangan politik di negeri ini. Peduli amat, yang katanya media massa itu lebay lah, menggiring opini publik lah, membentuk persepsi penonton lah... peduli amat... yang saya tahu ada asap pasti ada api, gak mungkin media massa memberitakan satu berita tanpa ada sebabnya...
    Begitu juga dengan kasus korupsi yang tengah menimpa orang yang harusnya tidak terlibat sama sekali dengan hal2 hina macam itu... Banyak kawan2 saya yang membela, dibilangnya tabayun dulu lah... husnuzhan dulu lah... Duh, rasanya sulit banget buat berpikir positif dengan orang2 yan bermain lansung dalam dunia politik bahkan ustadz sekalipun...Karena dunia politik adalah dunia penuh intrik, benar salah itu sudah kabur, tidak ada lagi hitam dan putih, dan pastinya dunia penuh KEPENTINGAN... kepentingan untuk berkuasa, untuk partai, uang, dll...

    Wa Allahu Alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata..kita punya pendapat yang serupa ya...

      Hapus
  4. Sebenarnya saya itu risih melihat dunia politik negeri kita amburadul seperti itu, katanya bersih tapi nyatanya banyak yg main wanita juga. katanya gak korupsi tapi ya ketangkep juga.

    tapi jadinya mirip, kok bisa orang2 kotor seperti itu berada di jajaran parlmenen indonesia. apalagi artis2 tu.. haduuhh hancur deh hancuurr...

    BalasHapus
  5. dakwah memang pilihan yang lebih tepat
    klo politisi cepat naik daun cepat juga gugurnya
    begitu gugur langsung ditiup angin tanpa bekas, namun klo dakwah akan sll terkenang dunia dan akhirat selama dakwah dijalan yg benar. namun demikian ada juga politisi yg jujur, satu dalam seribu

    BalasHapus
  6. sesuai dengan pernyataan ROsul dalam hadits riwayat imam ahmad nomor 17680, ini era mulkan jabariyyah, Al qur-an dan sunnah sudah jauh dari kehidupan para pemimpin

    BalasHapus
  7. Entah mengapa keadannya sekarang kaya gini, banyak orang yang mengaku ngaku sebagai orang yang berjalan atas nama Alloh dan demi rakyat, tapi pada kenyataannya................ahh, sudah sangat sulit mencari orang yang bersih di politik negeri ini

    BalasHapus
  8. Salut dengan KH Zainudin, saya sudah sangat kangen dengan suaranya yang dulu sering ada di radio sebelum maghrib

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...