badge

Jumat, 17 Mei 2013

PERBAIKI TULISAN TANGANMU


Perbaiki tulisan Tanganmu, mungkin merupakan kalimat yang paling sering didengar oleh anak-anak saya. Nyaris setiap tahun, ketika pengambilan raport diadakan, semua guru di sekolah anak-anak saya pasti meminta pada saya agar membantu memperbaiki tulisan tangan anak-anak saya. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.



Jika sudah begitu, saya hanya tersenyum saja menanggapi permintaan para guru tersebut.
Jujur saja, tulisan tangan saya memang tidak cantik. Entahlah mengapa bisa begitu. Tapi sejak kecil, tulisan tangan saya memang selalu setia dengan bentuk ceker ayamnya. Urek-urek melingkar dan tidak semua orang bisa membacanya. Dulu, ayah selalu membela saya dengan mengatakan bahwa tulisan tangan saya seperti tulisan seorang dokter. Tulisan tangan seorang dokter itu kan terkenal jelek-jelek ya. Hahaha.. saya juga bingung kenapa tulisan tangan dokter terkenal jelek-jelek tidak hingga tidak semua orang bisa membacanya. Dan demikian juga dengan tulisan tangan saya.

Lalu, ketika anak-anak saya lahir dan saya didik sendiri di rumah mulai dari belajar membaca hingga belajar menulis, maka tanpa sadar saya menularkan tulisan tangan saya yang jelek tersebut kepada anak-anak saya (eh, sebenarnya tulisan tangan suami saya bagus. Tapi, kan gak mungkin saya meminta dia untuk mengajarkan anak-anak menulis di rumah setiap hari padahal dia sudah lelah bekerja seharian penuh di luar rumah). Itu sebabnya, pernah suatu hari saya akhirnya berkata pada seorang guru yang sengaja menyediakan waktu khusus untuk berbicara dengan saya di depan kelas ketika pengambilan raport anak saya dilakukan (judulnya sih empat mata bicaranya, tapi karena dilakukan di depan kelas jadi, di depan kami memang bicara empat mata, tapi para orang tua murid yang lain duduk manis memperhatikan kami yang sedang bicara...hahahaha).

"Bu, di rumah sepertinya anak ibu harus dilatih untuk menulis yang bagus deh. Tulisan tangannya itu ... aduuhh... jelek sekali. Saya kesulitan untuk membacanya."

Saya mesem-mesem mendengarnya dan dalam hati berkata sendiri, "Elu belum liat tulisan tangan gue." Tapi, gak mungkin kan saya berkata seperti itu pada guru anak saya. Jadi, dengan sopan saya pun berkata,

"Saya usahakan ya bu. Tapi, kalau ternyata tulisan tangannya tidak berubah jadi cantik, gak papah ya bu. Yang penting kan dia mengerti pelajaran dan bukan sama sekali tidak bisa dibaca tulisannya."

"Masih.... masih bisa dibaca kok tulisannya. Tapi buruk. Mungkin bisa dilatih setiap hari satu halaman deh ketika liburan nanti. Siapa tahu jika sudah berlatih setiap hari untuk menulis indah maka tulisannya jadi berubah jadi indah."

Saya yang semula mesem-mesem mulai tersenyum kecut.

"Nggak selalu yang sudah berlatih bisa berubah sih bu. Jujur saja, tulisan tangan saya juga jelek sih bu aslinya. Nah, sejak kecil saya selalu rajin menulis tapi tetap saja tidak pernah berubah. Itu sebabnya saya tidak terlalu menekankan pada anak saya untuk memiliki tulisan indah karena saya pikir toh kelak ketika dia besar nanti ada penggunaan komputer untuk mengetik dan menggantikan posisi tulisan tangan. "

"Iya, tapi kan dia perempuan bu. Masa sih ada perempuan yang tulisan tangannya jelek. Bisa kok dilatih untuk jadi cantik." Senyum saya kian kecut.

"Saya perempuan bu guru, tapi tulisan saya juga tidak indah. Ibu mau lihat tulisan saya?" Lalu saya mengambil sebuah kertas kosong dan mulai menyalin sebuah tulisan di buku. Bu guru akhirnya terbelalak dan terdiam (mungkin stress?? Entahlah).

"Ya sudah, coba saja dilatih di rumah bu anaknya. Siapa tahu tulisan tangannya bisa berubah jadi lebih indah."

Dan akhirnya, saya jadi kian rajin menyuruh anak saya untuk berlatih menulis tapi setelah melihat kenyataan tidak ada perubahan yang berarti, saya berhenti memintanya berlatih. Kasihan juga nanti dia stress sendiri. Yang penting dia bisa mengikuti semua pelajaran yang dia terima. Itu sudah cukup.

Sayangnya, harapan semua guru sepertinya selalu sama dimanapun anak saya sekolah. Tiga anak, tiga sekolah, tiga guru, keluhannya sama semua. "PERBAIKI TULISAN TANGANMU".
Akhirnya, ketika hal ini terjadi lagi anak bungsu saya, saya sebenarnya sudah mulai agak kebal dengan teguran tersebut. Tapi , masih berusaha untuk mengingatkan anak bungsu saya agar mau berhati-hati menulis tangan agar tulisan tangannya indah.

"Hati-hati nulisnya nak. Ingat, mana yang harus di atas garis, mana yang harus di bawah garis."
Begitu terus nasehat saya dan itu membuat anak saya menulis amat hati-hati. Dia baru kelas satu SD, lalu naik ke kelas dua SD, tapi selalu berusaha untuk menuruti nasehat saya untuk hati-hati menulis. Hasilnya, karena hati-hati itu dia selalu keluar kelas paling belakang dibanding teman-temannya. Akibatnya, setiap hari dibanding dengan teman-teman sesama ibu-ibu yang lain, saya termasuk ibu yang paling belakang keluar dari sekolah karena harus menunggu anak bungsu saya yang menulis lamaaaaa sekali.

Tapi saya tidak pernah marah. Saya insya Allah sabar menungguinya. Hanya saja, kesabaran saya rupanya selalu digoda oleh sentilan omongan dari ibu-ibu yang lain.

"Bu, anaknya belum keluar kelas? Lama ya? Nggak bisa nangkep pelajaran atau gimana sih?"

"Ah, nggak. Anak saya pandai kok. Dia mudah menerima pelajarannya. Tapi memang nulisnya lama. Karena saya minta dia untuk menulis yang indah dan bagus."

Penjelasan saya tetap saja terdengar mengada-ada sepertinya di telinga para ibu-ibu tersebut. Jadi, mereka bertanya lagi, dan lagi.

"Apakah anaknya suka ngobrol di kelas jadi akhirnya terlambat mengerjakan tugas dari bu guru?"

"Apakah anaknya tidak kelelahan keluar kelas paling belakangan terus?"

"Anaknya masih kemudaan sih kali ya umurnya masuk SD? Jadi masih suka berkhayal sendiri."

"Eh, saya tadi lihat anak ibu ditegur oleh bu guru karena belum selesai menulis loh."

Arggh. Akhirnya kesabaran saya tergoda juga. Hingga saya pun akhirnya menegur anak saya,
"Dik, kenapa sih kamu keluar kelas belakangan terus. Kenapa sih nggak mau nulis yang cepat gitu, jadi bisa pulang sama-sama waktunya dengan teman-teman kamu yang lain."

Mendengar teguran ini, anak saya hanya menatap saya dengan pandangan protesnya.

"Jadi ibu maunya aku nulis cepat atau nulis lama nih?"

"Kenapa kok kamu malah nanya ibu?"

"Iya, karena kalau aku nulisnya cepet, tulisanku jadi jelek. Kalau tulisanku jelek, nanti aku ditegur sama bu guru. Ibu juga kan ditegur sama bu guru aku? Nah, kalau mau tulisanku bagus, itu berarti aku pasti nulisnya jadi lama. Sekarang, ibu maunya aku nulis cepat atau nulis bagus jadinya? Bingung aku."

Hahahaha. Saya tertegun sejenak tapi langsung tersenyum sendiri mendengar protesnya. Rupanya saya lupa bahwa dalam proses belajar selalu ada dua sisi yang terjadi, berlatih pelan-pelan agar kualitasnya terjaga baik; atau mengerjakan dengan cepat demi mengejar target kuantitas. Dalam hal ini, anak saya dengan kesederhanaannya telah mengajarkan saya akan hal tersebut.

"Ibu maunya kamu menulis yang baik deh. Bagus, rapi dan bisa dibaca. Gak papah nulisnya lama, yang penting hasilnya bagus. Ya udah, ibu akan sabar nungguin kamu lagi."
anak saya yang tertinggal sendirian di kelas karena teman-temannya sudah pada pulang semua

Sejak itu, telinga saya menjadi tertutup terhadap omongan ibu-ibu lain yang iseng gak ada kerjaan selain memberi komentar terhadap kondisi orang lain yang tidak dia ketahui.
Ah. Tulisan tangan.. tulisan tangan.



ini surat anak saya untuk saya yang dia tulis dengan amat hati-hati. Begitu hati-hati, hingga ketika dia akan menunjukkan surat itu, dia lupa memberi petunjuk. Jadi dia memberi petunjuk dengan hal yang luar biasa: petunjuk dengan huruf-huruf yang ditulis model mirror efek, tulisan tangan yang ditulis terbalik meski dia tidak melihat cermin ketika menulisnya


===============
Penulis: Ade Anita
Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri”


5 komentar:

  1. Hahaha itu Hawna ya, diplomatis seperti ibunya :D
    Ada teman saya, perempuan, cerdas tapi tulisan tangannya paling jelek di antara teman2 sekelas. Entah, apa genetika ya mbak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan genetika, tapi yang ngajari dia nulis pertama kali mungkin seperti aku orangnya,mpunya tulisan tangan yang buruk

      Hapus
  2. Hehhe.... Sy sering negur anak yg tulisannya kurang bagus sambil bercanda... Menyemangati agar lebih memperbaikinya.
    Parahnya, sy yg prnah d tegur Fatur, salah seorang siswa kls 3 SD. "Bu, tolong dibaguskan tulisannya", katanya sambil memicingkan mata melihat whiteboard. Saya menjawab sambil terbahak "Maaf Nak, tulisan Bu Isma ini sudah yg paling maksimal".

    BalasHapus
  3. Masalah tulisan tangan ya Mba Ade? hehehe...
    menikmati proses, biarkan si bungsu belajar dengan berlahan ;-) semoga kelak tulisannya bisa lebih "bagus" dari sang bunda;-)
    Anak saya yang masih di TK belakangan ini kerapkali diberi PR oleh ibu gurunya, sebenarnya hanya PR menulis ulang sebuah kata dan penjumlahan atau pengurangan di bawah 10.
    Nah yang jadi masalah tulisan ibu guru yang akan dicontoh anak,berubah-ubah kemungkinan guru yang menuliskan PR berbeda-beda misal pada huruf a, m, n, r, g, dll. Kadang ada huruf-huruf yang yang tidak jelas dan susah untuk ditiru anak yang baru belajar.
    "Ini huruf apa sih Mi?" tanya putra saya sambil bergantian melihat bukunya dan daftar abjad yang tertempel di dinding, ternyata dari tadi dia mencocokkan dan tak menemukan persamaan dengan daftar huruf yang ada. ketika saya perhatikan, tulisan bu guru memang agak sedikit asal-asalan, wajar saja jika anak bingung ;-)

    BalasHapus
  4. baru baca, lucu banget mbak..
    dimana-mana emak-emak itu "usil" ngomongin anak orang lain ya..
    noted deh, biar bisa badak klo mengalami kejadian serupa tapi tak sama lainnya di sekolah anak :D

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...