Langsung ke konten utama

Komunitas Ideal Versi Ade Anita (bagian kedua)


Masih Bicara tentang apa itu Komunitas Ideal. Ada beberapa komunitas lain yang aku ikuti dan lagi-lagi aku ikuti mereka berawal dari kegiatanku di dunia maya. Jadi, komunitas ini terbentuk lewat pertemuan-pertemuan di internet.Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.


Ketika kita secara sadar memasuki sebuah komunitas dan akhirnya memutuskan untuk terlibat aktifi di dalamnya, secara tidak langsung kita sudah menunjukkan kecenderungan pilihan subjektif  yang kita miliki. Komunitas memang umumnya terbentuk karena sesuatu yang sama yang dimiliki oleh beberapa orang.  Di daerah tempatku tinggal saat ini, ada komunitas para penjual sate madura; ada komunitas para pemilik peternakan sapi di kota Jakarta, dan anakku sulungku bahkan ketika SMA bergabung dengan komunitas pengguna Bike To School.

Dengan kata lain, sebuah komunitas terbentuk karena adanya kesamaan dan kebetulan kita memiliki juga kesamaan itu dalam diri kita. Kesamaan bisa bermacam-macam: bisa hobbi yang sama, pekerjaan yang sama, tempat tinggal yang sama, kegemaran memakai sesuatu yang sama, punya group band atau penyanyi idola yang sama, dan lain sebagainya. Tapi, hal ini tidak selalu lalu menjadi sebuah kesimpulan bahwa komunitas pasti selalu hal-hal yang bersifat positif saja. Nah, saya pingin cerita tentang komunitas yang saya ketahui justru terbentuk karena setiap anggotanya memiliki rasa kebencian yang sama terhadap sesuatu. Ya. Bahkan karena sama-sama membenci sesuatu dan mendapati ternyata ada orang lain yang juga punya rasa benci yang sama maka bisa membentuk sebuah komunitas. Lalu, apa saja yang dibicarakan ketika mereka berkumpul? Tentu saja semua bumbu dan hal-hal yang bisa menyuburkan dan membangkitkan rasa kebencian itu sendiri agar rasa benci itu terus bertahan.

Saya tidak sengaja mengetahui komunitas tersebut (maaf, tidak akan saya sebutkan nama komunitasnya). Awalnya, tentu saja karena saya melontarkan sebuah pemikiran tertentu. Kebetulan, pemikiran tersebut ternyata bertentangan dengan suara mayoritas. Akibatnya sudah bisa diduga kan? Berdatanganlah beraneka ragam pendapat dan komentar negatif terhadap saya. Tapi, saya terus bergeming dengan pendapat yang saya yakini tersebut. Akhirnya, seorang teman mengajak saya untuk bergabung dengan sebuah komunitas yang isinya adalah orang-orang yang membenci sesuatu yang saya yakini tersebut. Wah. Ibarat kata, saya diajak masuk ke dalam sarang harimau padahal saya adalah seekor kelinci yang lucu dan montok. Hehehehe. Akhirnya, saya pun menyembunyikan diri saya disana. Mengamati dan mendengarkan saja semua komentar dan berita-berita yang berkembang dalam komunitas dengan hati yang kebat kebit menahan emosi.

"Tahukah kalian bahwa xxxxx telah melakukan kebohongan pada publik? Ini beritanya... awalnya xxxx dulu menyatakan bahwa....." (dan di pojokan saya hanya bengong dan melongo membaca kabar bohong tersebut.)

"Iya benar yang dikatakan oleh saudara xxx, bahwa beliau memang sudah melakukan itu. Hal ini pernah juga saya dengar dari xxxx bahwa xxxx bahkan sampai berani melakukan xxxx" (duhai! Saya hanya bisa mengurut dada! Sambil diam-diam istighfar. Dan begitu seterusnya. Nyaris di setiap kali pertemuan yang dibicarakan adalah api dan api dan api kebencian. Sedangkan komentar yang terlontar untuk menanggapi serupa dengan bensin dan bensin yang terus mengobarkan api kebencian tersebut.

Tidak ada habisnya.
Fiuh.
Huff.

Lalu.... apa yang diperoleh dari pertemuan-pertemuan tersebut?
Tentu saja hati yang panas, dongkol, keki dan dendam yang kian menggelembung tak berkesudahan. Dari peristiwa ini, maka saya akan memberikan sebuah kesimpulan baru bagaimana sebuah komunitas ideal itu seharusnya, versi saya sendiri. Yaitu:

1. Komunitas ideal itu, hendaknya adalah komunitas yang menggunakan waktu dan energi para anggotanya untuk hal-hal yang bersifat positif saja. Jangan pernah menghabiskan waktumu untuk berkumpul bersama-sama dengan komunitas yang berisi orang-orang yang akan menghancurkan jiwa dan pikiranmu hingga tanpa sadar dirimu sudah berdiri di tepi jurang kesesatan atau kedangkalan seorang manusia.
2. Komunitas ideal itu, adalah komunitas yang terbentuk karena keinginan dari dalam diri tiap-tiap orang untuk memperoleh kemudahan bagi terbukanya jalan menuju kebaikan para anggotanya. Jadi, jika anggota mulai merasa bahwa selama bergabung dengan komunitas itu dia sama sekali tidak memperoleh nilai-nilai kebaikan, jangan pernah ragu untuk segera keluar dari komunitas.
3. Komunitas ideal itu, pada akhirnya hanyalah sebuah kumpulan individu dan individu yang merupakan manusia biasa. Maksudnya, manusia biasa yang bisa berbuat salah, tidak pernah bisa menjadi sempurna, dan akhirnya akan berakhir dengan kematian. Setelah bertemu dengan kematian, maka tiap-tiap individu akan membawa serta dosa masing-masing. Allah tidak pernah mengenal adanya dosa kolektif; apalagi dosa komunitas. Jadi, jangan pernah memiliki pemikiran, "Ah, kenapa harus takut sih? Kan kita ngelakuinnya ramai-ramai?" Coba bengkokkan dan patahkan himpunan sapu lidi. Keseluruhan sapu lidi itu memang tidak serta merta rusak tapi pasti ada beberapa yang patah dan terpaksa harus ditarik keluar. Dan ketika satu persatu ditarik keluar, himpunan sapu lidi itupun akhirnya luruh dan tidak bisa lagi dipakai. Nah, apakah kalian yakin bahwa kalian akan menjadi batang lidi terakhir yang luruh dan bukan batang lidi pertama yang patah dan harus dibuang keluar?

Jadi. Komunitas ideal? Ya tentu saja komunitas yang tidak bertentangan dengan keyakinan agama kita. Itu yang utama. Berikutnya, tidak lain dan tidak bukan adalah komunitas yang tidak membuat para anggotanya menjadi tersesat (dan lalu tidak tahu arah jalan pulang... aih, jadi mirip lagu).



Bersambung lagi ya ke bagian ketiga. Masih bicara tentang komunitas Ideal, tapi dari perspektif yang berbeda lagi.

--------------
Penulis: Ade Anita
Tulisan ini diikut sertakan dalam #8 minggu ngeblog bersama angin mamiri



Komentar

  1. Jadi penasaran komunitas apaan sih yang dimaksud Mbak? :D
    Oya baru-baru ini Saya jg dimasukkan entah oleh siapa ke sebuah grup yang membenci agama tertentu. Dan habislah tuhan dari agama tersebut dicaci-maki. Walaupun agama tersebut bukan agama Saya rasanya mengumpat mencaci-maki menghina habis-habisan, menghujat, tetap saja membuat hati Saya gundah dan tidak nyaman. Akhirnya Saya keluar dari grup itu. Betul bgt Mbak komunitas ideal itu adalah komunitas yang membuat kita menginput dan output energi positif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mirip dengan itu sepertinya lina. cuma bedanya mereka menamakan diri sebagai "masyarakat..." dan punya lambang komunitasnya, punya kaos yang bisa dipakai anggotanya, punya ikat kepala dan ada email adminnya. heran. padahal kalo gak pake begituan pun malaikat gak bakal ketuker sih menurutku. malaikat tetap bisa nyatet amal buruk mereka.

      Hapus
  2. Ih... serem..ada ya ternyata komunitas seperti itu...

    BalasHapus
  3. Betul mbak yang namanya komunitas, pasti tempat berkumpulnya orang2 yang memiliki minat dan hobi yang sama.. Seperti gamer, penyuka binatang, sampai yang isinya cuma curhat2an.
    Tapi kalau isi komunitasnya sudah berupa keyakinan atau ideologi, pasti kita sulit untuk masuk dan bertahan lama, apalagi kalau dari segi keyakinan sudah berbeda jauh, sama seperti tingkatan dalam kebudayaan, dimana unsur yang bersifat material seperti teknologi, dan seni pasti mudah untuk diterima oleh kalangan siapa saja tanpa memandang statusnya.. Tapi kalau sudah sampai pada dimensi non-material seperti keyakinan dan ideologi, hanya kalangan2 tertentu saja yang bisa masuk, karena sudah mengandung unsur2 nilai dan tradisi

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…