badge

Rabu, 15 Mei 2013

Hari Dimana Rasa Takut dan Berani Terjadi Dalam Satu Waktu Karena Bertemu Dengan Seorang Eksibisionis


 Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.

Hari Dimana Rasa Takut dan Berani  Terjadi Dalam Satu Waktu Karena Bertemu Dengan Seorang Eksibisionis itu terjadi di salah satu hari kerja, di suatu siang. Siang itu amat terik. Banyak orang yang akhirnya memilih untuk tinggal di dalam rumah yang teduh. Bahkan ayam dan bebek yang biasanya berkeliaran di selokan yang ada air dinginnya, juga memilih untuk berteduh di dalam kandang mereka yang teduh. Dan pohon-pohon rindang yang satu dua masih tersisa di    pinggir jalan adalah tempat berteduh pavorit para pedagang dan pembeli. Sayangnya, di seputar radius 20 meter sekitar rumahku, tidak ada pohon yang rindang tersebut.  Itu sebabnya suasana lengang dan sepi menjadi  begitu dominan.


Sepanjang gang yang sempit yang terbentang vertikal   tepat berada  di depan rumahku terlihat amat sepi.  Demikian juga  di sepanjang jalan besar yang melintang tepat di depan pagar rumahku, suasana juga amat sangat sepi. Bahkan lalat yang biasanya terbang kesana kemari pun tidak terlihat satu ekor pun.  Di suasana siang seperti inilah tiba-tiba anakku minta izin untuk ke warung guna membeli cemilan yang menyejukkan. Ice Cream (gundukan manis yang rasanya dingin dan akan segera meleleh di dalam mulut hingga menyebarkan aroma manis dan rasa dingin ke seluruh tubuh. Siapa yang tidak mengidamkannya di hari yang panas terik begini?)

"Oke, tapi hati-hati ya. Dan jangan terlalu lama, karena ibu harus ke apotik beli obat."
"Iya, sebentar kok. Aku naik sepeda."
"Eh, ajak adikmu saja sekalian. Dengan begitu ibu nggak usah nungguin kamu lagi kalau mau ke apotik. Cuma nebus obat sebentar kok."
"Oke."

Setengah jam setelah kepergian anakku, aku akhirnya memutuskan untuk tidak menungguinya pulang.  Aku harus  pergi menebus obat di apotik. Obatnya sebenarnya obat racikan, tadi pagi aku sudah memasukkannya di apotik rumah sakit Tebet, tapi mereka mengatakan perlu waktu dua jam hingga obat itu selesai.  Itu sebabnya aku tinggal saja. Nah, sekarang aku tinggal mengambilnya, sebelum obat itu tertumpuk dengan obat yang belum diambil  oleh pasien lain dan  lama lagi menungguinya siap ambil.

 Maka, aku pun pergi berjalan kaki menelusuri jalanan yang amat sepi dan lengang  seorang diri.  Hingga tiba-tiba di tengah-tengah gang yang sepi  tersebut, seorang lelaki memanggilku dengan suara tergesa.

"Mbak.. Mbak... tolong mbak."

 Suaranya serak dan parau dan seperti setengah merintih.  Reflek aku menoleh (dan keputusan untuk segera menoleh ini akan aku sesali di kemudian waktu).  Aku berbalik dan menghadap ke arahnya. Seorang lelaki duduk di atas sepeda motornya, memakai helm berwarna hitam. Dia langsung membuka tutup helmnya, dan menyerigai ke arahku. Lalu, tiba-tiba saja dia menyibak jaket yang menutupi kedua pahanya hingga terlihatlah ... alat vital yang ...  dan sambil menyeringai  dengan suara lenguhan dia langsung memainkan alat vitalnya tersebut, tepat  di depanku!

Astaghfirullah. Aku amat sangat terkejut, campur jijik, juga takut. Ya, rasa takut  terasa begitu dominan.  Aku mundur beberapa langkah, tapi lelaki itu malah menyerigai kian senang.  Wajahnya terlihat amat puas. Lalu dia  mengucapkan beberapa  kata-kata joroknya (baca = porno), campur desah dan lenguh  yang menjijikkan, juga senyum yang memuakkan. 

Aku marah, tapi sekaligus juga takut.  Rasa takut  yang begitu dominan hingga membuatku membalikkan badan dan berjalan cepat menjauhinya.  Kakiku gemetar. Dadaku berdebar dan keringat dinginku langsung  mengalir deras.

Astaghfirullah.
Astaghfirullah.

Ucapan istighfar terucap berulang kali dalam hatiku.  Hatiku yang kian mengerucut karena rasa takut yang amat sangat.  Allah, lindungi Aku. Aku takut. Lindungi aku. Doaku kian kencang dan memburu di dalam hati.

Sementara di belakang punggungku aku masih mendengar lelaki itu tertawa mengejekku, berselang-seling dengan ucapan pornonya dan idiom-idiom kasar hubungan seksual,  sekaligus tertawa senang.  Dia sakit jiwa, dan yang dia derita adalah kelainan seksual Eksibisionis. Tapi, jalanan begitu sepi, suasana begitu lengang, bagaimana jika dia ingin berbuat lebih jahat lagi padaku? Itulah yang membuatku kian takut.  Hingga, seketika, ada sebuah nasehat yang melintas di kepalaku. Nasehat dari beberapa orang teman dan saudaraku yang pernah mengalami hal yang serupa.

 "Lelaki yang sakit jiwa kayak gitu, harus dilawan. Jika kita terlihat takut, dia malah kesenangan. Semakin kita terlihat takut dan tertindas karena ulahnya, maka dia malah bisa mencapai orgasme yang sempurna. "
"Cara paling efektif untuk melawan lelaki eksibisionis adalah: hina dia - hina anunya - dan robohkan keperkasaannya dengan menghina keperkasaannya." 

Tapi sungguh aku adalah perempuan yang manja, cengeng dan penakut. Tidak masuk di kepalaku bagaimana cara melawannya?  Bagaimana jika aku menangis tiba-tiba dan dia jadi malah semakin di atas angin? Argh,...  aku tidak berani !!....

Langkahku kian dipercepat dan gang sepi yang aku lalui jadi terasa amat sangat panjang  hingga ujung gang terlihat menjadi begitu jauh.  Aku sudah benar-benar ingin menangis rasanya ketika tiba-tiba  aku teringat bahwa anak perempuanku belum pulang dari warung.
Anak perempuanku. Ya Allah, dia pergi membeli ice cream di warung.  Aduh! Dia bahkan pergi berdua dengan adiknya yang juga perempuan! Aduh! Aku merinding.

Oh, bagaimana jika anak perempuanku pulang lewat jalan ini dan orang gila itu masih ada disana? Bagaimana jika orang gila itu menakut-nakuti anak perempuanku? Bagaimana jika anakku menjadi terluka karenanya? Bagaimana jika anak perempuanku mengalami trauma karenanya? Bagaimana.... bagaimana... bagaimana...?
Aku tidak rela siapapun melukai anak-anakku. TIDAK AKAN PERNAH!!

Dan tiba-tiba saja rasa takut  di dalam diriku menguap. Seketika aku membatalkan rencanaku untuk  kabur, kuhentikan aksi  jalan cepatku, membalikkan badan lalu  melangkah dengan langkah amat sangat berani dan percaya diri menghampiri lelaki gila yang sedang mempermainkan alat kelaminnya tersebut.  Setelah jarak kami cukup dekat (+/- 1 meteran), dengan gaya ketus dan judes, aku berkata sinis dan kejam ke arahnya:

"KASIHAN  YA  LO, NGGAK  ADA  YA PEREMPUAN  YANG  MAU    SAMA  ELO  KARENA  PUNYA  LO  KECIL BANGET. NGGAK  LAKU-LAKU  KAN LO?  PERCUMA,  DIPAMERIN  JUGA  TETEP  AJA  NGGAK  LAKU,  KECIL  BANGET, LETOY  LAGI  NGGAK  BISA  BANGUN... MENDING  JADI  BANCI  AJA  SEKALIAN... ATAU  JADI PEREMPUAN  SEKALIAN, TOH  JADI  LAKI-LAKI  JUGA  PERCUMA, NGGAK  DIANGGAP  KARENA  PUNYA  LO  TERLALU  KECIL. NGGAK ADA BAGUS_BAGUSNYA.  KASIAN. ... DASAR BANCI!... BANCI!... MAMPUS AJA LO!!!"

Lelaki yang sedang mendesah dengan seringai paling memuakkan yang pernah aku lihat itu kontan terperangah mendengar makian dan bentakan dariku. Dia menatapku , bengong dan bingung.  Dan aku merasa benar-benar di atas angin sekarang. Alat vitalnya yang semula "perkasa" langsung layu detik itu juga.

"KENAPA  NGGAK   DISUNAT  AJA  SEKALI  LAGI  BIAR  SEMPURNA  JADI  PEREMPUAN?"

Aku kembali  menyemprotkan makian terakhirku. Lalu  langsung membalikkan tubuhku, dan berjalan dengan langkah secepat mungkin menjauhinya.  Di belakang punggungku tidak lagi aku dengar suara tawa atau desah, yang ada adalah suara tinju yang terdengar beberapa kali meninju jok motor.  Sementara suara genderang terdengar bertalu-talu di dalam dadaku. Amat sangat ramai dan rusuh.  Untuk pertama kalinya, aku tampil menjadi pemberani.  Seumur-umur, itu adalah rentetan makian dan hinaan pertama yang keluar dari mulutku.  Bahkan aku bisa mengatakannya dengan amat sangat lancar tanpa sebutir air matapun yang keluar.  Lututku gemetar, ujung jemariku juga gemetar... tidak percaya aku  punya keberanian luar biasa seperti  tadi.  Hingga detik berikutnya, tiba-tiba akal sehatku mengajukan pemikiran lain.
'De, gimana kalau dia marah lalu ingin mencelakakan kamu? Jalan ini amat sepi, tidak ada yang tahu jika kamu dicelakakan olehnya?'

Ya Tuhan, tiba-tiba sifat penakutku  muncul lagi. Hingga membawaku berlari menuju ujung gang dan mencari bantuan. Gerombolan  tukang ojek yang mangkal di pertigaan jalan aku datangi.

"Pak...pak.. tolong, ada lelaki gila yang mempertontonkan burungnya ke perempuan yang lewat di gang itu. Tolong pak."

Para tukang ojek hanya tertawa, "Biar saja bu, nanti juga dia pergi."

(Aku kesal): " Nggak bisa pak.  Anak saya sebentar lagi akan lewat gang itu, saya tidak mau anak saya diganggu olehnya. Tolong usir lelaki gila itu pak."

Aku berkata tegas dan keras. Para tukang  ojeg langsung terperangah mendengar teguranku. Akhirnya, ramai-ramai para tukang ojek berjalan  menuju gang. Melihatku datang bawa gerombolan tukang ojek, laki-laki yang (kini) sedang tertunduk lesu sambil menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya itu terkejut. Segera dia mengenakan helm, mengancingkan celananya dan menyalakan motornya, langsung pergi  dengan kecepatan tinggi.

Huff....
Syukurlah. Semoga tidak ada lagi yang diganggunya. Setidaknya, tidak pernah dia mengganggu anak-anakku.

 (Ini kisah nyata yang terjadi di  awal Juni 2012).
----------------------
Penulis: Ade Anita 
 “Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri” 



34 komentar:

  1. Untuk kesekian kalinya baca kisah ini, masih saja tak terbayangkan, seorang Ade Anita bisa begitu berani ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangankan dirimu, aku saja bingung, darimana keberanian itu muncul dan kenapa keberanian itu menghilang dan tidak pernah kembali lagi. hahaha.

      Hapus
  2. Saya yang cowok aja udah males ngebayanginnya... -_-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya iyalaaahh. Jeruk makan jeruk gitu loh.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Bener. DOrongan keberanian yang aku dapatkan itu lahir dan muncul karena rasa keibuanku yang berkobar. Jika saja aku tidak ingat anak-anakku, aku pasti masih menjadi seorang ade anita yang penakut.

      Hapus
    2. kisshug untuk ibu Ade dan semua ibu di dunia.... (huhuhu...miss my mommi...)

      Hapus
  4. aku juga pernah mbak, waktu jaman smp, ada cowok yang mainin 'anu'nya di depan ku dan teman2 tapi kami naik sepeda dan aku belum mengerti apa yang dia mainkan itu, tapi temanku yang satu memang lebih dewasa dariku langsung tahu dan menyuruhku cepat2 mengayuh sepeda....merindingggg...

    BalasHapus
  5. Ya Allah, makasih sharenya mbak, jadi takut ih..
    ada petikan ilmu yang saya depet mbak, jadi kalau hal tersebut sempat menimpa saya, saya bisa mengatasinya mbak, makasih mbak.. :)

    BalasHapus
  6. waduh mak nita ini keren sekali. gak kebayang kalo saya berada di posisimu mak, mungkin ga tau musti ngapain, ^_^

    salam hangat dari bandung, mak.

    BalasHapus
  7. Demi anak apapun akan dilakukan ya bu :)

    BalasHapus
  8. wah, saya jaman kuliah dulu pernah seperti itu mbak. pas di kos, eh, dia pamer-pamer di depan kos kita yang cewek-cewek. bukannya kita kabur, malah kita ketawain. dianya malah yang kaget, terus pergi deh.

    salut sama mbak ade, apalagi tentang anak mbak ade itu. kudu berani memang, mbak. *pelukpeluk*

    BalasHapus
  9. jadi ingat kakak perempuan salah seorang muridku yang langsung meraung keras ketika bertemu lelaki seperti itu di depan kantor sekolah kami. Kebetulan saat itu saya sedang mengajar di kelas jadi baru tahu kejadiannya setelah jam istirahat karena para guru heboh jadinya.

    BalasHapus
  10. Dulu di belakang kampusku ada jalan tembus yg biasa dipake mahasiswa/i utk pergi/pulang kuliah, dan pernah temen cwe seangkatan yg mengalami kasus spt itu. Pas kebetulan temenku rombongan, ada 3-4 cwe. Dan karena ada 1 yg berani, yg lain jg berani. Akhirnya burungnya pingsan lg tuch hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, keberanian kadang menular

      Hapus
  11. heuheu.. serem amaaaatt. aku belom coba tuuh seberani itu. aku pernah 2 kali ngalamin, sekali di warung soto, aku langsng pergi ngacir. sekali di angkot, langsung buru2 turun aja deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus berani...harus meski sebenarnya aku tuh penakut loh. karena kalau gak gitu, nanti dia ganggu orang lain di daerahku yang suka sepi itu

      Hapus
  12. Salam kenal mba ade, saya kira org-org eksibisionis itu cuma ada di film jepang, secara saya klo liat drama atau pilem jepang, kadang muncul org kyk gt. Dan baru tau dr pengalaman mbak, klo org kayak gitu memang ada, di negara kita pula # duh

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah.. aku malah gak pernah nonton di film jepang ada eksibisionis gitu. Ada toh?

      Hapus
  13. Balasan
    1. iya, serem banget. Jangan sampe deh ketemu

      Hapus
  14. Serem banget ya, Mak, ketemu orang ga waras kayak gitu.

    Waktu saya hendak pulang dari abang-abang sayur, tiba-tiba ada laki-laki gila di sekitar pangkalan kelontong membuka resletingnya. Secepat kilat, mata saya langsung melotot dan menunjukkan jari tengah saya kepadanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaahh.... itu berani banget lagi

      Hapus
  15. Kekuatan yang luar biasa.Demi memberi perlindungan terhadap anak tercinta.

    BalasHapus
  16. Sukses menjadi ibu pemberani. Entahlah...mungkin sy langsung ngumpet kemudian mencari anak2 dan mencegah mereka lewat jalan itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku aslinya takut tapi nggak tahu kenapa pas ingat anak2 kok ya jadi berani banget alhamdulillah.. power of the kepepet kayaknya

      Hapus
  17. kurang kerjaan tuh cowok mana ada cewk yg tertarik ngelihatnya malah jijik hihihi...

    BalasHapus
  18. Sepertinya cowok itu melakukan hal demikian karena mengalami depresi berat sebelumnya... Jangan mencelanya karena diri kita bisa saja berbuat demikian... Faktor pemicunya bisa disebabkan kurang percaya diri, pernah dihina oleh lawan jenis, atau merasa dikucilkan dari lingkungan lawan jenisnya...

    BalasHapus
  19. Sebaiknya jangan pernah mencela dan menghina cowok yang seperti itu... Kecenderungan seperti itu bisa saja terjadi, dimanapun dan kapanpun.. Yang penting waspada dan berdoa supaya diberi kesembuhan.. Saya dulu pernah melakukannya di jendela rumah tapi tidak ada untungnya sama sekali... Apalagi kalau dianggap melecehkan meskipun hal itu belum tentu benar..

    BalasHapus
  20. Aku seorang eksib. Awalnya justru aku korban pelecehan. Berawal disebuah rumah sakit aku memeriksakan setelah habis sembuh khitan. Waktu itu smp jadi udah agak gede juga. Kebetulan yg ada perawat dan beberapa mahasiswi perawat. Justru aku dijaddiin praktikum mereka sambil nunggu dokter. Awalnya nolak tp akhirnya nyaman krn mereka sopan. Kelamaan kok aku jadi objek krn ereksi dan semua rebutan megangin. Yg lihatpun makin banyak. Untung dokter datang. Sejak saat itu keinginan eksib muncul. Padahal aku pengen sembuh.

    BalasHapus
  21. Salut sama mak Ade, bisa seberani itu.. Iya mak, kalau inget anak mah yang awalnya kita takut bisa jadi berani..

    BalasHapus
  22. Kejahatan dapat terjadi dimanapun anda berada
    tak mengenal korban baik itu pria maupun wanita, penodongan, penculikan, pemerkosaan dsb
    Jadilah Kuat dan lindungi diri anda serta orang-orang yang anda cintai
    bergabunglah dengan kami di :
    www.bakatsuper.com

    BalasHapus
  23. Aku pernah juga waktu naik taksi di kebon jeruk, aku duduk di depan. Awalnya supirnya mengajak ngobrol biasa, lama2 dia bergerak aneh, saat aku lihat ternyata tangan kirinya mengeluarkan penisnya, supir sialan ini bau ketiak, dan begitu juga saat dia mengeluarkan penisnya, bau amis seperti ikan busuk.
    Dia ngomong kotor, mengajak bersetubuh, rasanya emosi sekali, sekaligus terhina, tapi ngga berani ngomong apapun karena ada teman ibuku yang diperkosa dan dibunuh oleh supir taksi, aku takut dan hanya bisa menangis.

    Saat itu aku pulang lembur jam 9malam jadi kalau teriak pun rasanya percuma. Mungkin karena aku terlihat lemah,bapak itu mulai main kasar, dia menyingkap jilbabku dan meremas2 payudaraku kasar sekali, aku berusaha menutupnya dan memohon untuk berhenti. Karena aku nangis dan meronta sekuat tenaga,sepertinya dia iba atau dia takut, dia menghentikan aksinya dan menurunkan aku di lapangan banteng.

    Pengalaman yang sangat buruk membuat aku trauma untuk menjalin hubungan dengan pria,sudah 8th aku jomblo karena belum berani menjalin hubungan.

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...