badge

Senin, 29 April 2013

Prompt #11: Nota: Papa, maafkan aku


gambar diambil dari sini


Peluh sebesar jagung yang merekah karena terkena panas panggangan muncul di pelipis Ratri. Hatinya tercekat. Matanya diam-diam menatap lima orang rekan kerjanya yang duduk di meja di depannya. Ruang kantornya memang tidak ada sekat antara meja satu dengan meja lain. Bahkan peletakan meja diatur berbentuk lingkaran sehingga setiap orang bisa mengawasi orang yang lain dalam mengerjakan tugas masing-masing. Kecil kemungkinan untuk melakukan transaksi atau bahkan kecurangan di tempat yang seterbuka ini.
Ya, inilah keterbukaan yang diusung oleh kantor auditor independent tempat Ratri bekerja. Dan saat ini, mereka semua sedang melakukan audit terhadap kantor tempat ayah Ratri bekerja.

"Bagaimana? Apakah kamu ingin mengerjakan hal lain terlebih dahulu atau kamu tetap ingin dilibatkan?" Kemarin, Bos Chandra sudah memanggil dirinya secara khusus ketika tahu bahwa ayah Ratri menjadi salah satu petinggi di perusahaan yang akan mereka audit keuangannya.

"Sip bos, saya bisa tetap bersikap profesional. Bagi saya, tidak ada yang namanya urusan pribadi atau keluarga jika berhadapan dengan tindak korupsi maka muaranya hanya satu: menegakkan kebenaran."

"Yes, I knew I always  count on you, girl." Dan mereka pun bekerja, dan Ratri terlibat dan kini Ratri merasa perutnya melilit menahan sakit yang luar biasa.

Ratri sudah menghitung seluruh pengeluaran dan pemasukan berkas-berkas yang ada di hadapannya dan jumlahnya tetap tidak berubah. Masih sama dengan hitungan sebelumnya dan juga masih tetap sama dengan sembilan kali hitungannya yang lain.

Fiuh. Papa, kenapa bisa begini, pa? Ratri ingin menjerit rasanya. Seharusnya dia minta cuti saja kemarin ketika Bos Chandra bertanya. Tapi sekarang, semua sudah jadi bubur. Jika berhadapan dengan tindak korupsi maka muaranya hanya satu: menegakkan kebenaran. Bahkan meski itu amat sangat berat untuk dilakukan.

Ratri kembali melirik kertas nota tanda pembelian jus yang ada di meja kerjanya. "Maafkan aku papa. Seharusnya, papa gak boleh terlalu gegabah menggelembungkan uang senilai tiga puluh enam ribu rupiah itu menjadi tiga puluh enam juta rupiah. Tapi aku masih tetap mencintaimu. Hanya saja...." Huff. Ratri tahu besok dia harus minta cuti dari kantornya.

gambar diambil dari sini

============
Penulis: ade anita
Tulisan ini diikut sertakan dalam mengerjakan tantangan menulis Flash Fiction di MOnday Flash Fiction Prompt #11: Nota

25 komentar:

  1. "Maafkan aku papa. Seharusnya, papa gak boleh terlalu gegabah menggelembungkan uang senilai tiga puluh enam ribu rupiah itu menjadi tiga puluh enam juta rupiah"

    ketahuan korupsi nie, ga bisa bayangkan klo harga jus jadi 36 juta

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya maksudnya ini cerita korupsi

      Hapus
  2. wah si papa gimana toh. pasti dilema bgt nih Ratri :)

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. masih ragu ini bener gak ya FF-nya rini?

      Hapus
    2. Kalau menurut saya, selama endingnya dipelintirkan sehingga pembaca tidak akan menduga, udah masuk twist kok mba Ade.. :)

      Oh iya. Ini Si Ratri memilih untuk cuti adalah keputusan yang bener nih. Daripada kena bias kepentingan ya? Dilema bener nih kalau saya jadi dia.. :D

      Hapus
  4. jusnya dari buah apa sih harganya bisa sampai segitunya? hihi

    BalasHapus
  5. Just jus..OMG

    semua terpaku ama jusnya, hehe

    BalasHapus
  6. gimana ceritanya tuh 36 ribu bisa berubah jadi 36 juta? hehe... ceritanya bagus mbak, tapi saya kira ada sedikit penjelasan soal penggelembungan itu, eh.. udah end :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh, iya, soalnya aku pikir kalo Flash fiction itu cerita mini dengan akhir yang dibiarkan mengambang tanpa penyelesaian

      Hapus
  7. phewww, brapa kali lipat tuh :D, jus apa yang harganya segitu? :D *just emassssss :))))

    BalasHapus
  8. ah, gegabah tingkat tinggi. Kenapa notanya ga dibuang dan diganti nota abal-abal... (lha, malah ngajarin korupsi.. )

    Ini pertanyaannya, mbak.. secara niat korupsi, bukti nota jus rasanya terlalu gegabah dibiarkan saja, tidak dilenyapkan. Kecil, tapi terlalu penting untuk diabaikan

    BalasHapus
  9. aku suka dengan ceritany..kreatif dan keren..cm agak risih di bagian 36rb jadi 36juta,...kayaknya mark upnya agak berlebih xixixi

    BalasHapus
  10. Dilema cocok juga jadi judul postingan ini ya? #eh

    Waduh si papa korupsinya kebanyakan, kalau 360 ribu mungkin nggak bakal ketahuan :)

    BalasHapus
  11. penggelembungannya kelewatan. koruptor baru ini mesti hehe.. atau jangan-jangan salah ketik ketambahan tiga angka nol?

    BalasHapus
  12. 36.000 jadi 36.000.000, jusnya dapet berapa gentong itu ckckck...:D

    BalasHapus
  13. kurang pengalaman korupsi nih papanya, sampai bisa ktauan hihihi..

    BalasHapus
  14. Whaaaaaaaaaaaaaaa... ada Ratri!! *gagal fokus*

    BalasHapus
  15. Mbak usul dan saran dalam membuat fiksi logika nomor satu.. Emang ada jus seharga segitu?
    Sipp selamat terus menulis

    BalasHapus
  16. bagus nih FFnya, tapi keknya sudah ketebak sejak awal sih :)

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...