badge

Jumat, 26 April 2013

Ibuku, Perempuan Yang Mengajarkan Aku Tentang Pahala Ibadah Yang Usianya Lebih Panjang Dari Usia Fisik Manusia



Ibuku aslinya adalah orang Sumatra Selatan. Kedua orang tuanya, asli dari Sumatra Selatan, tepatnya dari dusun Kayu Ara, Kabupaten Musi Banyuasin. Ibuku adalah perempuan inspiratifku sepanjang ingatanku dan Dan Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga dengan tema: perempuan inspiratifku.

Ibu, lahir dari nenekku yang merupakan anak tunggal. Ada kisah tersendiri dari lahirnya nenekku. Nenekku ini, lahir dari pasangan suami istri yang tidak menduga akan dikaruniai seorang bayi perempuan yang cantik. Tapi kedua pasang suami istri ini tidak putus berharap lewat doa dan ikhtiar. 


Hingga suatu hari di bulan Ramadhan, selesai shalat taraweh, si istri duduk di pinggir jendela lebar di rumah panggung mereka. Dia terkejut, karena dia melihat hari begitu terang benderang. Begitu terang hingga pohon tebu itu terlihat mulai dari ujung daun hingga ujung batang yang mengarah ke akar! Akhirnya, dia pun berteriak pada tetangganya.

"Oi, kenapa hari begitu terang?" 

Temannya bingung dan menjawab bahwa cuaca amat gelap gulita saat itu. Sang istri pun langsung gemetar ketakutan dan langsung mendirikan shalat sunnah sambil memohon ampun. Dia mengira akan menerima azab karena penglihatannya yang tidak lazim ini. Tapi kemudian tetangganya itu berteriak lagi padanya, "Jangan-jangan itu lailatul Qadar? Ayo cepat mohon sebuah permintaan." Dan segera sang istri memohon permintaan, yaitu dia ingin diberi keturunan. Dia tidak peduli meski usianya sudah tidak muda lagi untuk mendapat keturunan (ini jaman dahulu dan di dusun pedalaman, jadi di hamil serta melahirkan di usia yang tidak muda itu rasanya resikonya amat berat). Dan benar saja, tidak lama kemudian sang istri pun hamil, kehamilan pertama dan terakhirnya. Sayangnya karena hamil di usia tua, maka si anak memiliki fisik yang kurang sehat. Dialah nenekku, Hasunah.

Nenek Hasunah lalu menikah dengan kakekku (di Sumatra Selatan, kami menyebutnya bukan kakek tapi nenek anang; artinya nenek lanang alias nenek laki-laki). Dari pernikahan dengan nenek anang ini lahir lima orang anak, dan ibuku adalah anak keduanya. Kondisi fisik kurang sehat nenek ine (artinya nenek betine yang artinya nenek perempuan) menurun pada keturuannya. Yaitu kami semua dikaruniai penyakit asma dan bakat diabetes. Di usia 3 tahun, nenek anang memboyong istri dan anak-anaknya pindah ke Bandung dan menjalankan usaha sebagai seorang tukang jahit di sana.

Karena ibunya sakit-sakitan, maka ibuku menjadi dekat dengan kakak tertuanya. Kemana-mana mereka selalu bersama. Ibuku juga lebih senang bermanja-manja pada kakaknya ketimbang pada ibunya yang sakit-sakitan. Pernah ada satu peristiwa dimana ketika kecil ibuku merasa iri dengan sepatu yang dipakai oleh teman-temannya. Semuanya model-model terbaru, sementara sepatu yang dipakainya adalah model yang kuno dan murahan mengingat ayahnya hanya seorang tukang jahit yang juga harus membiayai pengobatan ibunya secara terus menerus. Tapi, yang namanya anak-anak, ibuku tetap ingin sama dengan teman-temannya. Lalu, dia curhat pada kakaknya (yang terpaut usia 2 tahun saja dengannya). Kakaknya itu bukannya mengusahakan, malah menasehati ayah mereka, "Sepatunya masih bagus kok. Jika sepatu tidak rusak, jangan dibelikan ayah. Boros."

Ibuku tentu saja kesal. Sementara keinginan untuk memiliki sepatu model terbaru terus menggelitik hatinya. Akhirnya, diam-diam dia pun mulai 'merusak' sepatunya dengan cara, jika berjalan diseret-seret langkahnya. Tapi, sepatunya itu ternyata kuat sekali teksturnya. Ayahnya memesannya langsung dengan pesanan khusus di pengrajin sepatu (jadi diberi jahitan dobel dan sol sepatunya dibuat lebih tebal dari sepatu biasanya. Rasanya memang jadi berat, layaknya sepatu untuk tentara, tapi dijamin amat kuat dan awet). Kesal karena sepatunya tidak rusak-rusak, akhirnya dia mengendurkan tali sepatunya.

Setiap pagi, dia pergi sekolah selalu dibonceng sepeda ontel oleh kakaknya. Nah, pagi itu, sepatu yang talinya kendur padahal body sepatunya berat itu pun terlepas dari kaki di tengah jalan. Ibuku diam saja tidak memberitahu karena memang berharap sepatu itu hilang. Sesampai di sekolah, barulah dia memberitahu kakaknya. Kakaknya kaget luar biasa dan akhirnya mereka kembali menyusuri jalanan dengan "JALAN KAKI SAMBIL MENUNTUN SEPEDA". Padahal, jarak antara rumah dan sekolah itu tidak dekat (ini jaman dahulu loh dimana sekolah belum banyak jumlahnya) dan jalanan di Bandung itu kondisi fisiknya menurun dan menanjak silih berganti. Belum lagi sepanjang jalan ibu dimarahi oleh kakaknya. Syukurlah sepatunya bisa diketemukan.  Si kakak akhirnya kasihan juga melihat semua usaha ibu demi mendapatkan sepatu baru. Akhirnya, kakaknya ini pun ikut membantu membujuk ayah mereka agar mau membelikan sepatu baru untuk ibuku. Tapi akibatnya, jatah sepatu baru kakak ibuku jadi hilang. Ibuku senang luar biasa dengan sepatunya tapi kenyataan bahwa kakaknya jadi tidak bisa punya sepatu baru juga, membuatnya sedikit menyesal. Dia pun kian sayang pada kakaknya ini. Dan mungkin ini adalah pelajaran kehidupannya yang pertama, bahwa 

"suatu saat kita akan dihadapkan pada sebuah pilihan. Siapa yang harus dipilih? Menyenangkan diri kita sendiri atau orang lain? Memilih menyenangkan diri kita sendiri, akan menyenangkan hati kita pasti tapi sekaligus juga melahirkan sebuah rasa bersalah. Tapi memilih menyenangkan orang lain dengan ikhlas akan menyenangkan hati kita dan orang lain tersebut."

Pelajaran kehidupan yang ternyata membentuk ibuku menjadi sosok yang penyayang dan suka berbagi pada orang lain.

Aku ingat di tahun 2005, yaitu dua tahun setelah kematian ibuku (ibu meninggal dunia pada 18 april 2003) ketika suatu hari rumah saya diketuk oleh seorang tukang sol sepatu (tukang sol sepatu ini memang langganan ibuku sejak aku mash kecil dahulu. Dia hafal semua wajah anak-anak ibu. Bahkan ketika aku pindah ke rumah sendiri dan masih satu daerah dengan tempat si tukang sol berjualan, si tukang sol tetap rajin menyapaku jika lewat depan rumahku). Ketika aku keluar rumah, kulihat dia masih memanggul kotak solnya dan berdiri di muka pintu.

"Eh, ada apa mang?"
"Neng..., numpang tanya. Kata orang-orang, ibu sudah meninggal dunia ya neng?"
"Iya pak, sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu."

Si tukang sol langsung menurunkan kotak jualan yang dipanggulnya. Juga menurunkan topi lebar yang dipakainya dan meletakkannya di depan dada. Wajahnya sedih, bahkan aku melihat genangan air mata di pelupuknya.

"Innalillahi wainnailaihirajiun. Aduh, sedih bapak. Maaf ya neng. Bapak benar-benar merasa kehilangan ibu." Lalu si tukang sol itu termenung dan merunduk. Aku ikut hanyut dalam rasa sedihnya.

"Ibu itu orangnya baik banget loh neng. Setiap kali bapak lewat depan rumahnya, meski ibu tidak sedang membetulkan sepatu, ibu selalu menawarkan bapak segelas kopi. Dan setiap kali ibu memperbaiki sepatu, bapak tuh bukan cuma diberi upah saja, tapi juga diberi nasi sepiring lengkap dengan lauk pauk dan secangkir kopi. Tidak ada pelanggan bapak yang sebaik ibu. Duh. Semoga Allah melimpahkan keberkahan pada ibu eneng, mengampuni dosanya, dan membalas semua kebaikannya dengan pahala berlimpah. Ibu eneng itu baik sekali."

Jujur saja, semua yang dikatakan oleh si tukang sol sepatu itu benar-benar menginspirasiku.

Bahwa doa yang paling mustajab itu adalah doa orang kecil. Dan bahwa doa yang akan langsung diaamiinkan oleh malaikat itu adalah doa yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Dan bahwa doa yang tulus ikhlas dipanjatkan ketika kita sudah meninggal kelak yang keluar dari orang yang pernah menerima amal sedekah kita itu akan dihitung sebagai salah satu harta yang pahalanya tetap mengalir meski kita sudah meninggal dunia (yaitu ketika semua hal telah terputus secara otomatis bersamaan dengan kematian kita).

Subhanallah. Saya ingin seperti ibu. Memiliki sesuatu yang panjang umurnya bahkan jauh lebih panjang daripada usia fisik kita sebagai manusia.



Bahkan, di tahun 2011, yaitu delapan tahun (8) setelah kematian ibu, ada lagi seorang perempuan yang datang padaku. Aku tahu perempuan ini adalah teman ibuku dulu, dan salah satu tetangga kami.

"Ade.... aduh nduk, saya kemarin menangisssss.... rasanya saya ingin memelukmu, nduk."
"Kenapa bu?"

"Beberapa hari yang lalu waktu saya berbuka puasa. Kamu tahu sendiri kan, suami saya sudah meninggal karena kena stroke. Sebelum suami saya meninggal, semua harta saya habis dijual untuk mengobati suamiku itu. Tapi setelah harta habis semua, suamiku tetap meninggal dunia. Dan saya hidup tidak punya apa-apa lagi. Rumah juga sudah dikontrakin, hanya tertinggal kamar satu. Sementara anak-anak saya sudah tidak ada lagi yang menyantuni saya." (FYI: ibu ini tidak punya anak. Dia sempat mengangkat anak tapi setelah anaknya menikah, si anak hidup terpisah dengannya). Sambil berurai air mata dan memegang kedua belah tanganku hangat, si ibu ini melanjutkan kalimatnya.

"Lalu, kemarin pas mau sahur, di kamar saya sudah tidak ada makanan sama sekali. Saya sudah dua hari berpuasa tanpa sahur dan berbuka hanya dengan air putih. Tapi malam itu, saya bisa sahur dengan makanan pemberianmu yang diletakkan di atas piring pemberian ibumu. Aduhhhh... saya benar-benar terharu mengenang almarhumah ibumu. Semua harta saya sudah saya jual dan yang tersisa hanya piring pemberian ibumu. Ibumu dulu memberikan saya makanan dengan piring itu. Dan malam itu saya makan dari piring itu lagi. Aduh Gusti, saya tuh makan sambil menangis. Setiap suap saya jadi berdoa untuk ibumu, ibumu itu baik sekali. Semoga Gusti Allah membalas semua kebaikannya dengan pahala berlimpah. Karena meski almarhumah sudah tiada, tapi kebaikannya pada saya terus mengalir."

Jujur saja, saya merinding mendengarnya. Ibu benar-benar telah memberikan inspirasi pada saya tentang amal jariah yang tiada pernah putus sepanjang masa; pahala ibadah yang usianya lebih panjang dari usia fisik manusia. Dan cerita tentang kebaikan ibuku terus mengalir dari banyak orang-orang: teman-temannya, saudara-saudara kami, tetangga, tukang jualan, orang-orang miskin, ibu-ibu orang kaya, orang-orang tua, anak-anak muda. Semuanya (termasuk teman-teman sekolah saya).

Oh. Ibu. 
Dan percayalah, jika saya tulis semua kenangan dulu dah sekarang tentang kebaikan ibu saya ini, bisa jadi ini akan menjadi sebuah catatan yang amat panjang. Padahal hati saya sudah terlanjur sesak oleh rasa rindu yang menggelembung dan terus membeludak hingga rasanya ingin meledak. Rindu yang tidak berujung.





-----------------------
Penulis: Ade Anita


24 komentar:

  1. saya suka kali mbak baca makna dari kalimat ini:
    "suatu saat kita akan dihadapkan pada sebuah pilihan. Siapa yang harus dipilih? Menyenangkan diri kita sendiri atau orang lain? Memilih menyenangkan diri kita sendiri, akan menyenangkan hati kita pasti tapi sekaligus juga melahirkan sebuah rasa bersalah. Tapi memilih menyenangkan orang lain dengan ikhlas akan menyenangkan hati kita dan orang lain tersebut."
    sangat bijak sekali maknanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya...mungkin karena demikianlah yang kita temui dalamaa mendulang pengalaman di kehidupan ini.
      Makasih ya Lisa

      Hapus
  2. subhanallah, tulisannya bikin saya netes air mata mbak, jadi teringat almarhumah mama saya juga yyg senang bersedekah. Semoga beliau2 ditempatkan di tempat yg terindah disisiNYA sekarang ya mbak.
    Salam kenal mb Ade Anita, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin Allahumma Aamiin... Salam kenal juga Zaffara

      Hapus
  3. Ya Allah semoga Bunda mendapat tempat di sisiNYA, diterima amal ibadah dan diampuni dosa dosanya. Aq koq jadi sedih ah :'{

    BalasHapus
  4. Al Fatihah untuk ibunda. manusia mati hanya meninggalkan nama baik, dan ibunda orangnya.

    menitik air mata bcnya mba...ingat ibu ku juga. semoga arwah2 beliau mendapat tempat terbaik di sisiNYA, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Allahumma Aamiin semoga Allah memberikan tempat terbaikbdan terindah baginpara ibu kita.

      Hapus
  5. jadi ikut nangis baca kata-kata si tukang sol dan teman ibu... inspiratif sekali mbak... semoga arwah ibu mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
    makasih sudah berbagi :)

    BalasHapus
  6. "Bahwa doa yang paling mustajab itu adalah doa orang kecil. Dan bahwa doa yang akan langsung diaamiinkan oleh malaikat itu adalah doa yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. "
    Semoga kelak berkumpul kembali di surgaNYa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Allahumma Aamin makasih Dwi

      Hapus
  7. terima kasih telah berbagi mbak..

    sangat tersentuh. betapa kebaikan itu akan membekas abadi.

    semoga bunda mb ade diberikan tempat terbaik, semoga kelak dikumpulkan kembali dengan orang2 tercinta di jannahNya.

    sekali lagi terima kasih telah bercerita,mba..

    BalasHapus
  8. Mbak Adeee...Alhamdulillah ya Ibu memiliki amalan setulus itu semasa hidupnya, Insya Allah bermanfaat baginya. Semoga Saya dapat meniru kebaikan Ibu. Semoga amalan2nya menerangi masa tidur panjangnya. Amiin.

    BalasHapus
  9. ternyata usianya sepantaran dg alm Ayahku... beliau jg yg mengajarkan untuk selalu berbagi bahkan jd merasa lebih pelit pada keluarga sendiri.. hi.. hi.. pemikiran yg sempit @_@

    BalasHapus
    Balasan
    1. oo.. ayahmu berarti lahir di tahun 1947 juga ya? jangan2 mereka pernah saling mengenal dulu di jamannya

      Hapus
  10. terharu aku mbak ade.. smoga menjadi amal jariyah ibunya yaa, pun bagi penulis yang mengangkat ceritanya dengan menyentuh hati. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin allahumma aamiin.. makasih doanya.. bikin aku terharu juga

      Hapus
  11. semoga Allah mengampuni dosa Ibu mbak ade, aamiin...
    terima kasih sudah berbagi dan menginspirasi saya....
    ayah dan ibu saya juga orang kayu Ara, ayah saya kelahiran tahun 47 jugaaa... mungkin ayah dan ibu saya kenal sama ibu nya mbak yaaa? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah.. nah.. jangan-jangan ... aduh... ibuku tinggal di bandung sejak dia usia 3 tahun... setelah menikah diboyong ke jakarta.. dan ikut organisasi serasa sekate.. ayahmu jugakah?

      Hapus
    2. btw emma fikri, gimana sih cara mampir ke blogmu, aku gaptek nih.. kalo aku klik fotomu yang muncul google circle.. terus, blognya mana?

      Hapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...