badge

Jumat, 12 April 2013

Dekat Tapi Naik Taksi


Hari ini, berhubung anak bungsku yang masih SD masih libur (karena kakak kelasnya yang di kelas 6, UAS) maka pagi ini aku hanya mengantar anakku yang SMP saja ke sekolah. Pagi-pagi kami berangkat dari rumah agar tidak terlambat karena sekolah masuk pukul 06.30. Nah, aku akan bercerita tentang apa yang aku  temui di hari ini di sekitar rumahku. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Hmm, jangan mengira bahwa karena masuk sekolah pukul 06.30 WIB maka aku dan anakku berangkat sekolah setengah jam sebelumnya. Jarak sekolah antara rumahku dan sekolah anakku jaraknya sedang-sedang saja sebenarnya. Tidak terlalu jauh, tapi juga tidak bisa dibilang dekat. Tapi, kendalanya adalah, jika kami memilih naik mikrolet, sudah bisa dipastikan akan terlambat meski berangkat dari rumah pukul enam kurang. 

Kenapa? Karena mikroletnya memang hobbi ngetem (yaitu berhenti di pinggir jalan menunggu penumpang; jika bangkunya sudah mulai terisi baru jalan kembali). Dulu, aku pernah membuat percobaan. Ceritanya mau mencoba sebenarnya berapa lama sih waktu yang dibutuhkan jika mengantar sekolah dengan menggunakan mikrolet. Hasilnya: ternyata memakan waktu nyaris 1 jam!!  Wah. Aku dan anakku telat berat (satu hal yang gak enak jika telat itu. Karena anak bungsuku yang masih kelas dua SD itu, harus antri untu mengisi daftar hadir mereka yang terlambat. Lalu, karena setengah jam pertama di sekolahnya diisi dengan membaca ayat-ayat Al Quran secara berjamaah, karena terlambat maka anakku ini harus membaca ayat-ayat Al Quran sendirian di depan guru piket. Mana dengan posisi berdiri lagi. Duh, kasihan).
Nah, itu sebabnya setiap pagi aku menggunakan taksi ke sekolah waktu mengantar anak-anakku.

Kenapa taksi? Mahal dong?

Nah, jika itu pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam kepala kalian, maka aku berani menjamin bahwa ongkos taksi yang aku bayar setiap pagi itu tidak mahal. Hanya Rp10.000 (sepuluh ribu) setiap hari.

Kenapa bisa murah? Memangnya taksi mau dibayar semurah itu?

Mau, jika kita memilih taksi yang kita percaya. Terus terang, sampai detik ini aku masih percaya pada dua merek taksi saja, yaitu Blue bird dan Ekspress. Lain dari itu tidak percaya.
Aku pernah naik taksi merek lain, begitu turun, mereka protes karena aku beri uang Rp10.000. Di argo memang hanya tercantum harga 8900.

"Bu, bu. Kurang bu. Ada biaya minimum payment."

"Hah? Biaya apa tuh? Gak ah. Itu sih berlaku jika saya memesan taksi lewat telepon. Ini kan saya berhentikan dari pinggir jalan."

"Tapi bu, masa Cuma sepuluh ribu. Jika murah begini, lebih baik ibu naik bajaj saja. Ini taksi loh. Ah, Kampungan sekali ibu ini. Taksi kan ada AC-nya, sejuk pula, berbeda dengan bajaj. Naik bajaj saja, tidak boleh semurah ini. Masa taksi disamakan denga bajaj. Kurang bu."

Aduh. Waktu kejadian itu, hatiku tuh langsung berdebar-debar menahan emosi. Kesaaaaaal sekali. Karena, aku sudah berbulan-bulan selalu naik taksi ketika mengantar anakku sekolah (dan memang hanya dengan dua perusahaan taksi terpercaya itu saja sih; ini sedang uji coba naik merek perusahaan lain) dan tidak pernah ada supir taksi yang protes ketika aku memberi mereka uang sepuluh ribu. Jarak sekolah anakku tidak terlalu jauh memang; jadi harga yang tercantum di argo selalu tidak jauh dari angka 9000. Jadi, jika aku memberi uang sepuluh ribu, si supir taksi masih untung seribu.  Tapi ini? Hadeuh.

"Memangnya saya harus bayar berapa menurut bapak?" (aku mulai bertanya dengan nada ketus karena asli jengkel dengan semua komentar si supir taksi).

"Minimum payment itu lima belas ribu bu." (aku terdiam, lalu memandang anak bungsuku dan berbisik padanya. "Nak, kamu turun di depan pagar sekolah saja ya, Ibu tidak antar sampai depan kelasmu pagi ini.".... anakku langsung bingung dan bertanya kenapa. Aku jawab saja bahwa dia lakukan saja itu. Alhamdulillah anakku menurut dan dia pun turun sendirian di depan pintu gerbang dalam sekolahnya. Lalu, aku menatap si supir taksi.

"Ya sudah, kembalikan uang sepuluh ribu saya pak." (si supir taksi mengembalikan uang sepuluh ribu yang aku berikan padanya tadi dan menatapku bingung. Kian bingung karena aku memasukkan uang sepuluh ribuku ke dalam dompet lagi dan aku tidak bergerak turun dari taksinya).

"Loh, gak jadi turun bu?"

"Nggak. Saya ada urusan lain yang harus saya kerjakan. Jalan pak."

"Mau kemana bu?"

"Sudah, jalankan saja pak. Bapak minta lima belas ribu kan? Tidak mau sepuluh ribu? Ya sudah, nanti saya bayar lima belas ribu. Sekarang jalangkan taksinya."

Dengan wajah bingung, si supir taksi menjalankan taksinya dan taksi pun melaju. Nah saudara-saudara, sebenarnya aku tidak punya tujuan lain selain mengantar anakku. Tapi, hatiku sedang panas terbakar oleh rasa protes dan marah karena hardikan si supir taksi yang nyinyir ini. Jadilah aku jadi ikut-ikutan kasar.

"Kemana bu?" Si supir taksi menatapku lewat kaca spion.

"Depan belok kiri." Aku pun mulai menggiring perintah kepada si supir taksi. Aku menggiringnya memasuki jalan kecil berkelok-kelok yang berlaku dua arah. Jalan kecil berkelok-kelok yang ada di belakang sekolah anakku. Dulu, aku pernah jalan-jalan mencari alamat seseorang  dengan mobil dimana adikku sebagai pengemudinya. Kami lewat jalan-jalan kecil ini dan adikku sepanjang jalan terus saja menggerutu karena merasa lelah harus melewati jalan sempit itu. Jalan itu asli sempit, hanya muat satu mobil kecil sebenarnya jadi kalau sedan besar pasti agak merepotkan, dan banyak yang menaruh pot bunga di depan rumah, ditambah lagi ada selokan yang masih terbuka sehingga jika mobil salah arah rodanya, bisa masuk terperosok ke dalam selokan. Masalah akan bertambah parah jika dari arah sebaliknya tiba-tiba hadir mobil lain yang juga akan maju. Terpaksa salah satu harus jalan mundur. Jalan kecil dua arah itu memang cobaan besar bagi para pengemudi. Dan di jalan yang menyusahkan semua pengemudi mobil itulah aku menggiring taksi yang aku tumpangi, yang supirnya telah membuatku jengkel dan tersinggung.

"Waduh, sebenarnya ibu ini mau kemana sih? Masih pagi ini, sudah bikin saya keringatan." Aku diam bergeming. Tidak ada senyum sedikitpun di bibirku, mataku hanya tertuju pada argo taksinya. Menunggu angka yang tertera di sana bergerak persis di angka lima belas ribu.

"Depan belok kanan pak."

"Salah pak, ternyata seharusnya kita masuk di belokan sebelum ini. Mundur lagi pak ke belakang."

"Belok kiri pak. Hati-hati pak, di depan ada lubang besar di pinggir jalan." Sekilas aku melirik ke pelipis si supir taksi yang mulai dipenuhi dengan keringat. Punggungnya tegak mengawasi jalan, khawatir roda depannya masuk ke dalam selokan terbuka yang ada di pinggir jalan kecil tersebut. Tapi aku sudah terlanjur tersinggung dengan ucapannya tadi sehingga semua peluh dan duduk gusarnya tidak aku gubris. Argo taksi mulai bergerak ke arah tujuh belas ribu rupiah.

"Ya, ini terakhir, depan belok kiri lagi pak." Akhirnya, kami sampai di pinggir jalan besar dan lega. Jalan menuju ke sekolah anakku.

"Lurus pak, di depan sekolah depan sana saya turun." Taksi melaju perlahan. Si supir taksi sudah bisa kembali menyandar di sandaran kursinya. Tidak lagi duduk dengan tegang dan mata penuh awas. Di depan sekolah anakku, taksi pun berhenti.

"Loh? Bu? Ini kan sekolah dedek tadi?"

"Iya memang. Tadi saya memang mau turun di sini, tapi bapak gak mau dibayar sepuluh ribu. Jadi saya ajak muter dulu. Ini, saya bayar sesuai dengan argo ya pak." Aku buru-buru turun setelah meninggalkan uang pas Rp18.500. Sebelum si supir taksi sadar dan naik pitam, aku buru-buru menyeberang dan masuk ke dalam gerbang sekolah anakku. Seluruh tangan dan kakiku gemetar. 

Astaghfirullah. Aku baru saja mengerjai supir taksi. Takut sekali. Takut jika dia marah dan balas dendam.

Tapi, syukurlah supir taksi yang hanya bengong sesaat langsung tancap gas dengan suara menderu.
Fiuh.
Ugh.
Lega.
Lega banget.
Dan seterusnya, jika mengantar anakku sekolah lagi, yang jaraknya sebenarnya dekat dengan rumahku itu, aku tidak lagi berani naik taksi selain merek taksi yang aku percaya. Atau naik mikrolet. Mending jalan kaki saja sekalian jika taksinya tidak ada. Karena jika jalan kaki sebenarnya hanya memakan waktu 25 menit saja. (bedanya kalau jalan kaki baju pasti basah oleh keringat... hehehehe, kecuali mungkin jika sambil jalan kita nenteng AC).
-------------------




Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri

20 komentar:

  1. pyuuuh turut berdebar dan ngerasa jengkel sama si supir taksi mba. Aku selama di jakarta juga cuma berani naik taksi 2 merk itu, yg lain ngga deh :D

    BalasHapus
  2. iya, aku sebenarnya deg degan Windi pas ngerjain si supir taksi... tapi, setelah dia lewat, rasanya puaaaaassssssss banget. Fiuh. Never under estimated a house wife. hehehe.

    BalasHapus
  3. idih gila saja itu si supir taxi, uang 6900 kan lumayan banget tuh, bisa beli bawang seperempat kg, skali2 enggak apa2 Mak, hehe.. BTW jalan sambil nenteng AC malah lbh keringetan kali Mak.. Salam kenal.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga.. iya bener.. apalagi kalo jalan kaki ke bogor ya.. hehehe

      Hapus
  4. aduh aduhh... sopirnya skrg kemana?? hehe...

    salam kenal dulu ya Mak.. :)

    ijin follow juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga.. supirnya udah aku laporin sih ke perusahaan taksinya.. tapi gak tau deh ditindak lanjuti apa nggak...

      Hapus
  5. hai Mak salam kenal yaa
    hadeuuh baru petama kali maiin niyy..

    Supir taksi memang terlalu ya..
    sama aku juga kalo pas dines ke jakarta..
    pakenya taxi bluebird aja, lebih aman :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya pake taksi blue bird atau ekspress aja insya Allah lebih aman

      Hapus
  6. Balasan
    1. nanti kalo naik taksi hati-hati ya.. apalagi pas ke jakarta

      Hapus
  7. aku juga cuma percaya ama 2 merek itu mbak.tapi pernah kefefet naik merek lain 2 kali.gara-gara gak ada merk langganan.
    *rasain lu pir belin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, aku akhirnya cuma percaya dua merek itu saja

      Hapus
  8. wkkkkkkkkkkkk lucu kali kisahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ssttt.. jangan keras2 tertawanya

      Hapus
  9. Kok begituh, sopir taksi oh supir taksi *aneh....

    Salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, supir taksinya emang matre.. salam kenal juga

      Hapus
  10. huft... seru, menegangkan, dapat info baru...jadi kapan2 ke Jakarta sudah tau taksi yang bisa dipercaya...
    -salam kenal-

    BalasHapus
  11. Hhhhhh.....kasian juga tu...
    Tapi memang harus digituiinn biar kapok
    :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, aku juga aslinya takut sebenarnya tapi... dah kadung kesel dan marah

      Hapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...