Langsung ke konten utama

Bisnis Tempat Kost Dekat Rumahku


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama dengan tema Sekitar Rumahku.

Rumahku ini sudah aku tempati sejak tahun... 2000. Berarti sekarang sudah genap 13 tahun aku tinggal disini. Lokasi rumahku bukan di dalam kompleks, tapi di tengah perkampungan. Dulu, banyak rumah orang betawi aslinya sebenarnya. Tapi, karena rumahku bisa dikatakan berada di dalam kota yang dekat dengan perhentian bus, halte busway, pintu masuk dan keluar jalan tol, pasar, perkantoran, sekolah dan pusat bisnis dan ekonomi lainnya, termasuk juga beberapa kantor milik pemerintah dan stasiun kereta api, maka harga tanah di wilayah rumahku melonjak tinggi dengan amat cepat. Harga tanah di sekitar rumahku jika dijual bisa sepuluh kali lipat dari nilai yang tertera di NJOP. Cukup menggiurkan kan untuk penduduk betawi asli yang umumnya punya tanah lebar-lebar. Akhirnya, satu persatu tanah milik penduduk asli betawi pun dijual. Tetangga lamaku yang orang Betawi asli itu kini banyak yang pindah tinggal di pinggir kota Jakarta seperti ke wilayah CIlebut, Bojong, Citayem. Sebagai gantinya, mulailah berdiri rumah-rumah megah dan menjamur juga tempat-tempat kost-kostan.



Kost-kostan di sekitar rumahku laku keras. Tidak heran jika beberapa orang Betawi yang masih bertahan akhirnya menyulap rumah mereka menjadi tempat kost-kostan. Jadi, rumahnya dibuat bertingkat. Sebelah atas dibuat dalam bentuk kamar-kamar dengan kamar mandi di dalam kamar. Sedangkan di bawah, ditempati oleh si empunya rumah. Atau, ada juga yang justru di bagian bawahnya dibuat dalam bentuk kamar-kamar kost yang berderet-deret, plus kamar mandi dan dapur umum, sedangkan bagian atasnya ditempati oleh empunya rumah. Bahkan, di sekitar rumahku ada yang rumahnya dibangun hingga tiga lantai! Dua lantai khusus untuk kost-kostan dan satu lantai ditempati sendiri oleh empunya rumah. Nah, istilah untuk kamar-kamar ini adalah pintu. Jadi, jika bicara tentang kost-kostsan, maka kita akan mengatakannya seperti ini:

"Mau nyari  kos-kosan nih. Ada gak?"
"Ada. Mau yang kamar mandi di dalam atau kamar mandi di luar?"
"Kamar mandi di dalam saja."
"Oh, ya sudah, itu di  pojokan sana ada kamar kosong tuh kayaknya. Kos-kosan 10 pintu." (nah, 10 pintu di sini artinya, satu lokasi kos-kostsan itu, tersedia 10 kamar yang disewakan).

Bisnis kost-kostan memang merupakan bisnis yang menguntungkan. Satu pintunya harganya berkisah antara Rp500.000 (lima ratus ribu rupiah) sampai dengan Rp2.500.000 (dua juta lima ratus ribu rupiah). Umumnya, kost-kostsan murah, yang harganya lima ratus ribu itu, hanya berupa kamar kosong saja. Sedangkan jika kamar sudah ada kamar mandinya harganya di atas tujuh ratus ribu (Rp700.000). Tapi, di sekitar rumahku, selain kamar mandi di dalam, yang dicari itu juga yang punya dapur umum. Yaitu dapur yang bisa dipakai oleh siapa saja di dalam lingkungan kost tersebut dengan peralatan masak yang sudah disediakan. Jadi ada kompor, dispenser, dan tempat cuci piring serta panci-pancinya. Mungkin karna umumnya mereka yang kost adalah pekerja kantoran yang pulangnya selalu setelah azan Isya berkumandang. Biasanya mereka sudah makan di luar, jadi sampai rumah tinggal tidur. Tapi petidak jarang mereka juga ingin masak sesekali. Setidaknya goreng telur dan masak mie.

Nah, jika satu pintu harganya Rp1.000.000 saja, jadi jika punya 10 pintu, otomatis si empunya kost-kostan bisa mengantungi uang Rp10.000.000 sebulan. Lumayan kan? Itu tanpa bekerja loh apa-apa loh. Cukup menunggu setoran dari para penyewa saja. Itu sebabnya bisnis kost-kostsan benar-benar bisnis yang amat menjamur di daerah sekitar rumahku. Gosip-gosipnya, ada loh artis yang naik daun karena terlibat kasus hukum sehubungan dengan kepemilikan obat terlarang, dikabarkan punya kost-kostan dengan 700 pintu!! Ada juga artis dangdut perempuan yang setelah merasa sekarang sudah mulai kurang laku, juga terjun di bisnis kost-kostsan. Kabarnya sih, dia sampai punya 500 pintu dengan harga kisaran satu pintunya itu Rp2.000.000 (dua juta rupiah) setiap bulan.
Ups. 
Glek. 
Mantap ya.
Tertarik gak untuk bangun tempat kost-kostsan?

Komentar

  1. Ayo mbak Ade, bisnis kos-kosan juga. Lumayan kan, nungguin kos sambil nulis dan ngeblog :D

    Oya, saya dari blog mbak Leyla, ngeklik nama mbak Ade di komen, yang muncul ini:

    The Blogger Profile you requested cannot be displayed. Many Blogger users have not yet elected to publicly share their Profile.

    If you're a Blogger user, we encourage you to enable access to your Profile.

    Ada settingan yang harus diubah supaya bisa masuk ke blog mbak Ade, tapi saya tidak tahu yang mana. Untung saya ingat nama blognya, tinggal ketik ade maka karena sudah tersimpan di memori, alamat blog keseluruhan langsung muncul. Kalo tidak, orang gak sampai ke sini karena yang mucul tulisan yang di atas itu saja.

    Oya, koq mbak Ade gak komen di link 8 Minggu Ngeblog Minggu 1? Supaya peserta lain bisa langsung ke sini, masuknya dari sana :)

    Sukses ya mbak ngontesnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oya, saya liat anak2 nonton film UP, yang ada videonya di bawah situ. Tidak selesai karena nontonnya sambil lalu-lalang, tapi bisa nangkap sebagian jalan ceritanya. Aduh, biarpun animasi tapi mengharukan sekali kisah cinta mereka ya :)

      Hapus
  2. Bisnis kos-kosan ini memang gak ada matinya. Mau juga ah... hehehe

    BalasHapus
  3. Betul, ibu saya jg bgerak dbidang ini.. hehe.. lumayan bisa biayain adek2 kuliah... salam kenal ya, mak.. :)

    BalasHapus
  4. Usaha yg bikin dilema kata teman saya..
    Kalo gak hAti2 jalanin.x bisa jadi tmpat * salH*
    Hhh
    :-)

    BalasHapus
  5. iya emang benet, bisnis kos2an memang menjanjikan apalagi jika tinggal di kawasan bisnis, perkantoran atau kampus. Salam kenal ya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…