Langsung ke konten utama

Apakah Islam juga memandang wanita adalah makhluk yang jelek segala-galanya?


Benarkah Wanita Itu Jelek Segala-Galanya
Kafemuslimah.com, rubrik Wanita Bertanya Ulama Menjawab – Monday, 22 November 2004
Tanya:
Dalam Nahjul Balaghah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Wanita itu jelek segala-galanya; apa yang ada padanya adalah jelek, tak dapat Tidak! “
Bagaimana penafsiran Ustadz terhadap perkataan ini? Dan apakah perkataan ini menggambarkan pandangan Islam terhadap kaum wanita ?

Jawaban: 
Ada dua haikan yang harus kita terapkan dengan jelas dan terang
Pertama bahwa yang menggambarkan pandangan Islam terhadap suatu hal ialah firman Allah Azza wa Jalla dan sabda Rasulullah saw., sedangkan perkataan seseorang selain Rasul boleh diambil dan boleh ditotal. Al Quranul Karim dan Sunna Nabawiyah yang shahih itu sajalah yang merupakan dua sumber ajaran Islam yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan). Tetapi kadang-kadang terjadi kesalahpahaman terhadap keduanya atau salah satunya.
Kedua menurut para peneliti dan ulama bahwa menisbatkan sebagian dari apa yang termaktub dalam Nahjul Balaghah kepada Ali r.a. tidaklah tepat. Dalam hal ini mereka mempunyai dalil-dalil dan bukti-bukti. Tidak diragukan algi bahwa dalam Nahjul Balaghah terdapat beberap akhutbah dan perkataan yang oleh seorang peneliti dan pembaca yagn jeli dinilai tidak menggambarkan zaman Imam Ali, baik mengenai ide maupun uslubnya. Karena itu, tidak boleh berhujjah dengan segala apa yang dimuat dalam Nahjul Balaghah dengan menganggapnya sebagai perkataan Ali r.a.
menurut ketetapan dalam ilmu-ilmu Islam bahwa menisbatkan perkataan kepada orang yang mengatakannya itu tidak dapat terealisasi kecuali dengan isnad yang shahih dan bersambung. Karena itu perlu kita pertanyaan apakah pernyatan tersebut mempunyai isnad shahih yang bersambung ke Imam Ali r.a.
Bahkan seandainya perkataan ini diriwayatkan dari Ali r.a. dengan sanad yang shahih dan bersambung melalui perawi-perawi yang adil dan terpecaya, niscaya perkataan itu wajib ditolak karena bertentangan dengan prinsip dan nash-nash Islamiyah. Ini merupakan informasi cacat sehingga perkataan tersebut wajib ditolak, walaupun isnadnya jelas.
Bagaimana mungkin Ali r.a. mengucapkan perkataan seperti itu padahal beliau membaca kitab Allah yang menetapkan persamaan wanita dan pria pada asal penciptaan, taklif (penugasan), dan pemberian balasan. Allah SWT berfirman:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak….”(An Nisa 1)
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. “(Al Ahzab 35)
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain …”(Ali Imran 195)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. “(Ar Rum 21)
Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya wanita itu adalah belahan (partner) laki-laki”(HR Ahmad dan Abu Daud dari Aisyah r.a.)
“Dunia itu adlah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan ialah wanita yang shalihah” (HR Muslim, Nasa’i , dan Ibnu majah).
“Ada tiga hal yang termasuk unsur kebahagian anak Adam, yaitu: wanita shalihah, tempat tinggal (rumah) yang baik, dan kendaraan yang baik.”(HR Ahmad dengan isnad yang shahih)
“Barangsiapa yang diberi wanita shalihah oleh Allah berarti ia telah ditolong olehNya atas sebahagian agamanya; karena itu, hendaklah ia bertakwa kepada Allah mengenai sebagian yang tersisa.“(HR Thabrani dan Hakim. Beliau berkata, “Sahih isnadnya”)
Jadi bagaimana mungkin Ali r.a. berbeda padangan dengan ayat dan hadits ini sehingga mengatakan, “Sesungguhnya wanita itu jelek segalanya?”
Sesungguhnya fitrah wanita itu tidak berbeda dengan fitrah laki-laki: keduanya menerima kebaikan dan kejelekan, petunjuk dan kesesatan, sebagaimana firman Allah SWT:
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 
.Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
“(Asy Syams 7-10)
Bagaimana mungkin Ali menggambarkan wanita itu jelek segala-galanya, tak dapat tidak? Bagaimana mungkin Allah menciptakan sesuatu yang jelek secara mutlak, kemudian menggiring manusia kepadanya karena membutuhkan dan memerlukannya?
Orang yang mau merenungkan alam semesta ini niscaya tahu bahwa kebaikan di alam ini merupakan asal (pokok) dan asas, sedangkan kejelekan yang tampak pada kita adalah juz’i dan nisbi (parsial dan relatif). Kejelekan itu tenggelam dalam kebaikan yang bersifat menyeluruh, umum, dan mutlah. Dalam kenyataannya, kejelekan merupakan kelaziman dari kebaikan (yakni sudah merupakan kelaziman bahwa di samping kebaikan yang umum itu ada kejelekan). Karena itu munajat yang dipanjatkan Nabi saw kepada Tuhannya diantaranya berbunyi: “Wasyarru laysa ilayka” yang artinya “Dan jekelekan itu tidak dinisbatkan kepadaMu”.
dalam AlQuran disebutkan:
“… Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”(Ali Imran:26)
Dr Yusuf Qardhawi
disarikan dari Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 1
Gema Insani Pers

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…