Langsung ke konten utama

Catatan akhir tahun 2012: Hadiah Yang Diinginkan


[Keluarga] Tahun 2012, anak saya Hawna, genap berusia 6 tahun.  Dia sudah kelas dua sekolah dasar di tahun ini, terhitung sejak Juli lalu. Sama seperti anak-anak lain seusianya, jika diajak shalat, dia belum bisa konsentrasi sebagaimana anak-anak usia lebih tua darinya. Tubuhnya berdiri tegak, tapi pinggulnya kadang megal-megol menari diam-diam. Sesekali, saya mendengar senandung kecil amat lirih keluar dari mulutnya.



"Stt.. Hawna. Kalau shalat, gak boleh nari atau nyanyi.  Tapi harus baca bacaan shalat."
Ketika teguran ini saya lemparkan padanya, dia hanya menatap saya polos. Bola matanya sebening kristal, dan wajahnya  benar-benar polos tanpa dosa. Menggemaskan. Di usia ini, kulit yang dia  miliki masih sehalus dan selembab kulit bayi. Empuk juga, dan bentuknya membulat sebagaimana wajah kanak-kanak lain (toddler).

"Aku gak tahu baca apa."

Saat itulah saya sadar sesuatu.

Islam, mengeluarkan himbauan agar para orang tua mengajarkan anak-anak mereka untuk mendirikan shalat. Perintah ini amat jelas tertera dalam Al quran dan Al Hadits.
Itu sebabnya, sejak masih kanak-kanak, hendaknya tiap anak sudah diperkenalkan untuk shalat. Saya dan suami sudah sejak anak-anak usia dini diperkenalkan shalat. Mereka disediakan perlengkapannya, mulai diajak untuk ikut shalat berjamaah (karena otomatis mereka akan belajar gerakan shalatnya, meski belum bisa baca apa-apa). Dan sekarang, di usia 6 tahun 6 bulan, Hawna sudah bukan hanya dibiasakan untuk ikut gerakan shalat dan mengetahui  waktu shalat saja, tapi harus sudah ditambah hafalan bacaan shalatnya. Saat saya minta dia untuk diam dan membaca bacaan shalat, Hawna hanya menguasai bacaan shalat: surat Al Fathihah dan bacaan surat Al Quran yang lain.

Akhirnya, saya pun mulai mempersiapkan bacaan yang harus dihafalnya. Saya ketik bacaan itu (saya memang menunggu dia bisa membaca lancar dahulu baru meminta dia menghafal macam-macam) di selembar kertas, lalu melapisi kertas itu dengan isolasi lebar yang bening agar mudah dipegangnya kemana-mana.

Akhirnya, selama beberapa hari, bahkan minggu, Hawna komat-kamit menghafal. Ketika jeda iklan muncul di televisi saat dia sedang menonton acara kartin kesukaannya. Sambil makan, menjelang tidur, di dalam taksi di tengah kemacetan jalan raya, atau ketika sedang tidak ada kegiatan apa-apa di rumah. Tapi ini bukan jaminan dia jadi cepat hafal. Selalu saja ada bagian yang terlupa ketika saja mengujinya. Jadi, Hawna pun kembali giat menghafal lagi. Bahkan, kertas itu dibawa serta ketika kami bepergian ke mall. Sambil menemani saya berbelanja, dia menghafal bacaan shalat. Ketika lelah dan bosan, dia mulai melihat rak-rak yang menjual aneka boneka lucu di mall.

Dari berbagai mall, dari sekian banyak boneka, ada satu boneka yang selalu dia raih dan timang-timang. Wajahnya menjadi lembut dan matanya meredup bahagia ketika menimang boneka tersebut. Saat itulah saya mendapat ide.



"Dik, jika kamu bisa menghafal bacaan shalat lengkap, boneka itu akan jadi milikmu."
"Hah? Bener nih bu?" Mata mungilnya langsung berkerjap-kerjap tidak percaya. Saya mengangguk dan melihat anggukan saya, Hawna langsung melompat gembira. Lalu, seperti kena booster, dia semakin giat menghafal. Bahkan beberapa kali dia mengabaikan acara televisi kegemarannya. Dan, hari pengujian terakhirpun tiba. Kali ini ayahnya sendirilah yang akan mengujinya. Ujisnnya ujian lisan dan dia sama sekali tidak boleh melihat catatan hafalannya.




Dan hasilnya....alhamdulillah. Hawna lulus ujian lisan dan akhirnya berhasil memperoleh boneka yang dia inginkan.



Subhanallah. Sebuah pencapaian, tidak akan dapat diraih tanpa sebuah usaha. Dan sebuah usaha bisa mengalami sebuah akselerasi jika terdapat reward yang sesuai harapan. DAN INILAH HIKMAH YANG AKU PETIK DI TAHUN 2012 ini. Alhamdulillah.

---------------
Penulis: ade anita.

Komentar

  1. bener banget.. setiap pencapaian mesti ada usaha keras untuk bisa mendapatkannya =D

    BalasHapus
  2. alhamdulillah akhirnya Hawna berhasil mendapatkan bonekanya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, dia senang banget dengan bonekanya.. mendapatkan perlu perjuangan soalnya.. hehehe

      Hapus
  3. Barrakallah Hawna..

    mupeng liat ibu dg anaknya #_#

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…