Langsung ke konten utama

Cara Mengirimkan naskah ke Penerbit Naura


Cara Mengirim Naskah ke NouraBooks

Halo! Kamu suka menulis dan punya banyak ide menarik untuk dibagi kepada pembaca? KabariNoura Books!

Kami menerima naskah berupa:
  1. Fiksi, dalam bentuk novel; baik untuk remaja dan dewasa
  2. Nonfiksi, dalam bentuk kisah inspirasi, catatan perjalanan, bisnis praktis, memoar, humor, psikologi populer, keislaman populer, kesehatan, parenting; baik untuk remaja dan dewasa
  3. PCPK (Penulis Cilik Punya Karya): novel pendek, yang ditulis oleh anak-anak usia 7-14 tahun

Kriteria naskah:
1.      Merupakan karya asli
2.      Belum pernah dipublikasikan oleh penerbit lain atau pernah terbit tetapi telah habis masa kontraknya dengan penerbit sebelumnya.
3.      Tema unik dan tidak pasaran.
4.      Tidak mengandung unsur-unsur pornografi dan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)  
5.      Ditulis dengan rapi (logis dan sistematis).
6.      Memiliki peluang pasar (marketabilitas) yang bagus.
7.      Disertai sinopsis

Prosedur Pengiriman:
Jika naskah telah memenuhi kriteria tersebut di atas, kirimkan beserta:
1. Surat pengantar.
2. CV (Daftar Riwayat Hidup) dengan alamat lengkap, surel, dan nomor telepon yang dapat dihubungi.
Naskah yang dikirimkan jika berupa hard-copy sebaiknya adalah hasil print-out atau fotokopi (bukan asli/master) dan jika atau soft copy, adalah hasil ketik computer baik dalam bentuk MSword atau pdf.
·         untuk fiksi dewasa, minimal 200 halaman, spasi ganda, font times new roman 12.
·         untuk fiksi remaja, minimal 150 halaman, spasi ganda, font times new roman 12.
·         untuk nonfiksi, minimal 150 halaman, spasi ganda, font times new roman 12.
·         untuk PCPK, 60-80 halaman, spasi ganda, font times new roman 12.
4. Kirim ke:
Redaksi Penerbit Noura Books:
Jl. Jagakarsa Raya No.40 RT 07/04
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620
Telp : 021 78880556
Fax  : 021 78880563

Email: redaksi@noura.mizan.com


Keterangan:
·         Jangka waktu evaluasi naskah maks. 3 bulan.
·         Kabar tentang kelayakan terbitnya akan kami akan beritahu via telepon atau surel.
·         Naskah tidak akan dikirimkan kembali kepada pengirim kecuali disertai perangko yang mencukupi.
·         Apabila naskah layak terbit, akan dilanjutkan dengan pembuatan Surat Perjanjian Penerbitan (SPP).

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…