badge

Senin, 01 Oktober 2012

Jangan Main-Main Dengan Keluguan


catatan tentang: Jangan main-main Dengan Keluguan

by Catatan Ade Anita on Friday, 28 September 2012 at 15:08 ·
PERINGATAN: TULISAN INI DITULIS BERDASARKAN KISAH NYATA, ADAPUN JIKA DI DALAMNYA DITEMUI NAMA-NAMA, ATAU LOKASI ATAU PERISTIWA YANG MENGINGATKAN ANDA PADA SESUATU, ITU HANYA BERSIFAT KEBETULAN SAJA.

-------------------
Siang menjelang.
Peluh menganak sungai di kening, tengkuk, leher, di sela-sela rambut dan di bagian yang tidak bisa dilihat oleh orang lain (dan memang terlarang untuk dilihat oleh orang lain yang bukan mahrom).
Fiuh.
Capek.


Tapi aku dan anakku (sebut saja namanya Melati), tetap bisa tersenyum-senyum karena memang sejak tadi asyik ngobrolin hal-hal yang tidak penting, yang kebetulan amat sangat banyak bertebaran di sekeliling kami. Hal-hal tidak penting yang patut ditertawakan atau layak dibuat lelucon atas nama keisengan (kemarin waktu aku ulang tahun, anakku sempat mendoakan aku agar makin gak  iseng, tapi kaarena kata gak-nya dicoret jadilah sifat isengku tidak hilang). Tiba-tiba, di hadapan kami diparkir sebuah mobil yang mentereng. Kami, aku dan Melati anakku, menunggu semata karena kami masih sayang pada nyawa kami dan tidak ingin terjadi peristiwa yang tidak diinginkan (ini akibat gosip yang beredar yang mengatakan bahwa perempuan yang menyetir mobil itu lebih ceroboh ketimbang lelaki). Setelah mobil di hadapan kami terparkir rapi, akhirnya keluarlah seorang perempuan yang cukup menor dan langsing dan... ehem... megal megol. Dia langsung tersenyum lebar ketika melihatku. Kami memang saling mengenal satu sama lain. 

Aku mengenal perempuan ini, sebut saja namanya Mawar, sejak anakku dan anaknya masuk ke sekolah yang sama. Gayanya setengah genit, dengan mata yang sering melirik, dan terkadang aku sering menangkap basah dia sedang mencuri pandang ke arah lelaki yang ehem.. seksi dan yummy. Gaya dia berbicara selalu mengayun, setengah merenggut, suara mengalun manja, dan aihh... kenes deh.
Beberapa bulan yang lalu, dia sering bercerita bahwa setiap pagi, ketika dia bangun tidur, dia selalu meraih ponselnya terlebih dahulu sebelum kakinya menyentuh lantai kamar.

"Hah? Rajin amat? Buat apa?"
"Iya bo', soalnya kata temanku, kecantikan sejati seorang perempuan itu baru terlihat ketika dia baru bangun dari tidurnya di pagi hari."
"Jadi?"
"Temanku itu penasaran, aku cantik alami apa nggak sih? Jadi dia minta aku untuk foto diriku pas aku bangun tidur, terus fotonya dishare deh ke dia."
"Hah?"
"Ih, jangan bilang hah dong say, bau tau. Bilang wow gitu."

Dia mencubit pipiku sambil mengirimiku sebuah kecupan jarak jauh. Muah. Aku mingkem. Bingung mau komen apa, tapi gayanya itu loh... aduh.. tangannya selalu melambai, bibirnya selalu merenggut basah, dan dadanya selalu dibusung-busungkan. 

Ah. Perempuan.
Jika saja ada cermin yang bisa mengatakan dengan jujur, apakah kita cantik hari ini, pasti cermin ini akan laris manis dipesan orang, dibeli oleh para perempuan, mengalahkan penjualan tas Furla yang sekarang menjadi tas sejuta ummat.  Atau bahkan mengalahkan penjualan handphone merek BB yang kabarnya penjualan tertinggi ada di Indonesia.

Nah, si Mawar ini, memang terkenal di kalangan teman-temanku. Dia memang tergolong perempuan tipe agresif yang baik hati (sekali lagi, tolok ukurnya hanya karena teman-temanku bilang, dia rajin membagikan tips dan trik tentang apa yang harus dilakukan oleh perempuan di tempat tidur agar para suami tidak bisa ke lain hati dan lain tubuh. Baik sikap, penampilan, pakaian, dan juga "tehnik dari kotak mendatar, tiga huruf di tengahnya huruf E". hahahaha..*eh? Kok aku malah ketawa? Duh, maaf. Aku ketawa spontan karena tanpa dia sadari, aku jadi tahu apa yang dia lakukan di dalam kamarnya, dan bahkan... hmm.. berapa ukuran...hmm.... *tengok kiri kanan: ada anak kecil nggak ya?*...duh, kasih tahu nggak ya? .. mm..  bahkan... ssttt...  aku jadi tahu berapa ukuran...sstt...  kamar tidurnya. hahahaha).

Mawar juga terkenal sebagai miss mix and match. Nah, siang itu, dia mengenakan pakaian serba merah marun. Baju kaus ketat hingga terlihat setiap lekuk yang dia miliki di bagian tubuh bagian atasnya (seperti lekuk leher, ketiak, dll). Sayangnya, karena ada peraturan untuk mengenakan pakaian "sopan" di dalam lingkungan tertentu, maka, sebuah bolero dia kenakan di atas atasan super ketatnya. Berpadu serasi dengan rok lebar bunga-bunga yang menerawang yang dia kenakan. Sebuah kacamata lebar a la Jacky O bertengger di atas hidungnya. Begitu melihatku, dia langsung melambai dan menaikkan kacamata lebar ini ke atas jambul rambutnya dengan gaya yang amat elegan. Seksi-seksi gimana gitu.

"Hai jeng... baru datang ya?" Dia langsung menghampiriku, dan mencium pipiku, cheek to cheek, tanpa minta ijin dulu. Semerbak parfumnya langsung membelai hidungku. Segar sekali wanginya.
"Duh, jeng, aku kira aku sudah telat datangnya. Eh, nggak tahunya masih ada jeng. Syukur deh, berarti aku nggak telat ya." Selesai berbicara, dia menghapus keringat di keningnya dengan punggung tangannya. Aku hanya diam. Seperti biasa. Aku sudah tahu, tanpa aku harus berbicara, dia seperti biasa akan mendominasi pembicaraan. Jadi, lebih baik aku diam menunggu dan memberi kesempatan pada Mawar untuk berbicara.
"Duh, capek deh aku jeng. Biasa deh. Si Papih tuh, bangun kesiangan, jadi minta dihibur dulu. Aduh... capek deh. Kalau nggak dibujuk dengan cara itu, bisa-bisa dia pergi kerja tuh dengan wajah cemberut. Ya, begini deh tugas kita sebagai istri ya Jeng. Menyenangkan hati suami. Memberinya service yang memuaskan kapan saja. Jadi telat deh aku datang." (eh-sumpah-deh-loh-ye-ini-sebenarnya-penting-nggak-sih-buat-dilaporin-ke-orang-lain?)

Mungkin karena aku diam saja, akhirnya dia mulai melirik ke arah anakku, si Melati. 
"Eh, ini siapa nih? Kenalan dong sama tante Mawar..." Malu-malu anakku menyambut uluran tangan temanku ini. 
"Ih, senyumnya ... polos banget. Uhhh, manis banget deh. Kamu masih lugu banget ya. Semoga nanti kalau sudah besar nggak belagu." (aku tersedak secara virtual... maksudnya, sebenarnya tersedak tapi belagak biasa saja. Komen si Mawar jika dia harus berbicara selain yang bertema tentang tiga-kotak-di akhirnya-huruf-X memang sering terkesan... mm... maaf, bodoh. Kadang ngeselin, tapi ya... mau bagaimana lagi. Ini tips dariku jika kalian bertemu dengan dia; jangan pernah meminta pendapatnya tentang berbagai macam perkembangan di dunia ini, apalagi tentang urusan politik, tapi tanya saja tentang yang satu itu, kolom menurun-tiga kotak-depannya huruf S. Dia selalu berbunga-bunga jika diminta pendapat tentang yang satu ini dan dengan senang hati akan membagi-bagikan ilmunya pada siapa saja. Bisa jadi, jika saja ada pembagian gelar Profesor honoris kausa untuk bidang yang satu ini, mungkin Mawar masuk menjadi salah satu kandidatnya mengingat semua kepakaran dia.

"Eh, tante mau tanya nih. Melati sekolah di mana sih?" (lalu anakku menyebut nama sekolahnya, yang untuk kepentingan bersama terpaksa aku rahasiakan).
"Aih... itu kan sekolah anak tante... kelas berapa?" (kembali anakku menyebut tingkat kelasnya, yang kembali terpaksa aku rahasiakan di tulisan ini).
"Ooh, pantasan mukanya unyu-unyu banget. Memang masih kecil toh Melati. Eh... ngomong-ngomong, kelasnya Melati yang mana?" (okay, you know kan apa yang terjadi seterusnya? Idem dito lah).
"Loh, sama lagi sama anak tante. ... berarti sekelas dong sama anak tante. Olala.... Anak tante namanya si (kita sebut saja namanya Pepaya). Melati kenal Pepaya nggak?" Anakku mengangguk malu-malu.
"Eh, kalau kenal. Berteman dong sama anak tante. Sapatahu nanti kalau sudah besar kamu bisa jadi menantu tante. Kan, mamamu dan tante temanan." (hellooooooo.... emang kalau temenan harus jadi besanan?)
"Melati... kenal kan sama Pepaya?" 
"Iya tante kenal. Tapi, Melati nggak mau ah temanan sama Pepaya." (kacamata lebar a la jacky O di atas jambul Mawar langsung melorot.)
"Eh... kenapa? Kenapa sayang?"
"Iya... karena Pepaya itu nakaaaaallll banget di kelas. Hampir tiap hari dimarahi oleh guru-guru aku. Malah, guru aku tuh pernah sampe geleng-geleng kepala bilang ke Pepaya, aduuh, pepayaa, kenapa sih kamu kalau sehari saja nggak nakal?.... teman-teman aku juga pada nggak mau berteman dengan Pepaya. Dia suka ganggu anak perempuan. Tapi juga suka berantem sama anak laki-laki. Ah... pokoknya... aku nggak mau ah temanan sama Pepaya."

Mawar langsung terdiam. Senyumnya langsung menguap. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras. Lalu, lehernya memanjang dan kepalanya terjulur melihat ke arah jauh di belakang kepalaku. Lalu tiba-tiba dia berteriak heboh.
"Eh.... Itu Jeng Anggrek! Aku sudah lama tidak bertemu dengan Anggrek. Jenggggg..." 
Serta merta, Mawar pun pergi meninggalkan aku dan Melati. Tanpa pamit, tanpa basa basi.
hadeuhhhh... (sementara aku hanya bisa menahan tawaku sambil melirik Melatiku yang lugu. Kadang, keluguan itu bisa setajam belati ya ngomong-ngomong.)

---------------------------
penulis: ade anita (catatan menjelang akhir september).
Like ·  · Share · Delete

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...