badge

Jumat, 07 September 2012

repost tulisan lamaku di media lama: Ketika Mencoba Jadikan Mimpi Nyata, Inilah Era Barbie Doll

Gepetto amatlah terkejut. Kemarin malam sebelum tidur, batang kayu yang diukirnya hanyalah sebuah patung boneka anak kecil yang masih kaku dan belum lagi halus. Tapi pagi ini, berdiri di hadapannya seorang anak kecil setinggi boneka kayu buatannya. Kulit tubuh anak tersebut masih menyerupai serat-serat kayu, coklat dan menampakkan profil kayu. Di beberapa bagian engselnya, masih terlihat paku dan baut penyatunya. Gepetto menggosok matanya berkali-kali. Apakah mungkin ini boneka kayu yang dibuatnya kemarin? Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan Gepetto.
Gepetto. Jangan terkejut, aku peri biru. Harapanmu telah aku kabulkan. Boneka kayu yang kau buat, kini telah menjadi seorang anak lelaki. Tapi dia belumlah bisa jadi manusia sempurna jika belum melalui ujian untuk mendapatkan hati nurani. Boneka kayu itu, panggillah dia dengan nama Pinokio.Sejak itulah cerita Pinokio, Boneka kayu yang lucu dan jenaka mulai terjalin. Setelah melalui berbagai macam ujian dan cobaan, pada akhirnya Pinokio menjadi anak manusia dan diadopsi oleh Gepetto yang memang tidak memiliki seorang anakpun.

Terlepas dari asal cerita ini dan gambaran tokoh yang bertebaran di dalamnya, cerita Pinokio menggambarkan sebuah harapan dari banyak orang tua untuk dapat memperoleh anak. Tapi tak ada harapan yang bisa terpenuhi dengan mudah begitu saja. Perlu ada perjuangan agar harapan itu bisa terpenuhi. Dan ketika harapan itu ternyata hanya tinggal harapan, maka jangan langsung putus asa dan melupakan semua harapan dan berhenti berdoa. Masih ada keajaiban yang akan datang pada siapa saja yang tidak pernah putus asa yang datangnya dari Yang Maha Pencipta.

Bicara tentang harapan dan usaha untuk meraihnya, ada cerita lain yang juga bertajuk tentang kehidupan sebuah boneka. Yaitu tentang kehidupan Boneka Barbie. Berbeda dengan Pinokio yang hidup dengan latar belakang kehidupan yang miskin dan nge-deso, Barbie hidup dengan latar belakang kehidupan kaya raya, Kosmopolitan dan kondisi serba enak. Inilah cerita tentang harapan dan impian kebanyakan wanita di seluruh dunia ini. Yaitu memperoleh semua nikmat hidup dalam kapasitas yang maksimal. Cantik, pintar, kaya, seksi, mulus, rambut yang indah, punya banyak teman, punya pasangan yang juga sama gantengnya, rumah yang besar, koleksi pakaian yang indah-indah dan mewah-mewah, ada ranch, mobil sport terbaru, caravan, kolam renang pribadi, dan bla bla bla.

Jika kita tilik lebih dalam dari dua cerita di atas lalu kita persandingkan dengan kehidupan di dunia nyata, ada sebuah gambaran yang akan kita lihat. Pada cerita Pinokio, gambaran itu adalah, mencoba untuk memasukkan nilai-nilai kemanusiaan dalam sebuah kisah khayalan. Sebaliknya pada cerita Barbie doll, justru terjadi hal sebaliknya. Mencoba untuk membangkitkan nilai-nilai khayalan dan mimpi dalam kisah kehidupan nyata. Kenapa harus bermimpi jika mimpi itu bisa kita wujudkan?

Banyak wanita yang punya mimpi untuk bisa menjadi sempurna. Punya wajah putih mulus, hidung mancung, pinggul yang seksi, betis yang bak jantung pisang tergantung, serta rambut yang mempesona. Persis seperti kecantikan yang dimiliki oleh boneka Barbie. Para gadis kecil yang beranjak remaja, mulai senang mendandani boneka Barbienya dengan aksesoris yang beaneka macam karena ada sebuah kesadaran bahwa hanya pada boneka Barbielah bisa dikenakan berbagai macam aksesoris yang menawan. Barbie punya kesempurnaan yang nyaris tiada cacat. Dipasangkan gaun tertutup dia tetap cantik, dikenakan pakaian serba minim kian mempesona. Dikepang terlihat manis, dikonde terlihat anggun, bahkan dipotong pendekpun terlihat kian imut-imut. Inilah enaknya punya banyak kesempurnaan. Diapa-apain saja tetap oke sepanjang waktu.

Pada akhirnya, banyak wanita yang mulai bermimpi jika saja dirinyalah yang menjelma seperti Barbie. Celah mimpi inilah yang ditangkap dengan baik oleh industri kecantikan. Dan era meraih impian lewat kosmetik dan pengobatan-pun mulai mengadakan persaingan.

Saya pernah bertemu dengan seorang teman lama. Ketika bertemu dengannya, hampir-hampir saja saya tidak mengenalinya. Dulu ketika kecil, kulitnya coklat kehitam-hitaman, dengan rambut keriting kusut dan hidung pesek. Tapi ketika kami bertemu, ternyata dia sudah jauh berubah. Rambutnya tebal dan lurus amat indah. Kulit wajah dan bahkan seluruh kulit tubuhnya putih mulus. Bibirnya yang dahulu tipis dan pucat kini tampak sedikit tebal dan amat seksi bergayut. Hidungnya mancung dan menggemaskan. Dagunya sedikit terbelah. Ah, cantik seperti boneka.




Di waktu lain, saya melihat beberapa artis yang muncul di televisi. Dulu pernah saya bertemu mereka di kantor media massa. Ketika itu, saya sedang melakukan pekerjaan tertentu sedangkan mereka sedang melakukan pemotretan dan wawancara. Penampilan mereka masih alami. Cantiknya masih alami. Maklum mereka masih terhitung pendatang baru paling menjanjikan. Tapi itu beberapa tahun yang silam. Sekarang, ketika mereka benar-benar sudah duduk di puncak ketenaran, sedikit muncul keheranan di dalam hati. Penampilan mereka sudah banyak berubah. Hidung mancung, kulit putih, bulu mata lentik panjang, dan kulit yang kencang seperti tak kenal rongrongan usia. Sekali lagi, mereka semua cantik seperti boneka.

Inilah era Barbie Doll. Wanita bermimpi untuk menjadi sempurna seperti boneka Barbie dan industri kecantikan berlomba mewujudkan mimpi itu lewat banyak pelayanan mereka.

Jika kalian sedang membaca surat kabar, silakan simak iklan kecantikan yang tertebar di sana. Ada banyak sekali yang ditawarkan. Seperti ingin membesarkan dada, ongkosnya sepuluh juta rupiah lebih; permak bibir dua juta rupiah; tanam bulu mata Rp 750.000; memutihkan kulit Rp 2.000.000; sedot lemak, merubah bentuk mata; memancungkan hidung; meluruskan rambut; membetulkan dagu; memperbaiki pinggul, paha, perut dan sebagainya.

Resiko? Tentu saja ada dan memang prosedur melakukannya dipenuhi oleh resiko. Di Jakarta, dua-tiga bulan yang lalu pernah ada yang meninggal dunia sehari setelah melakukan prosedur operasi plastik membesarkan  dada di sebuah salon kecantikan. Pemilik salon dan pelaku pembedahan plastik bersangkutan akhirnya ditahan oleh pihak kepolisian. Cacatan lembaga konsumen banyak menyimpan data mereka yang mengalami penderitaan akibat mengikuti prosedur bedah plastik tersebut. Seperti silicon yang pecah di dalam payudara; kulit yang meleleh setelah terkena panas; rambut yang rontok; mengalami kebutaan atau kehilangan suara dan banyak yang akhirnya memperoleh cacat menetap.

Di Malaysia, harian Metro Ahad menurunkan berita tentang hal serupa (Metro Ahad, 28 November 2004). Ada seorang artis Malaysia yang menceritakan tentang kesakitan yang harus dia terima demi untuk memperoleh kecantikan seperti yang dia harapkan.

"Saya pernah menjalani pembedahan plastik bagi membesarkan buah dada di sebuah klinik swasta. Menurut kata pakar yang merawat saya, selepas silicon disuntik ke buah dada, ia akan membengkak pada tahap tertentu, tetapi surut sebulan kemudian. Namun entah mengapa saya menghadapi masalah ketika hanya sebelah saja yang membesar seperti diinginkan, sedangkan sebelah lagi membengkak sehingga menimbulkan rasa sakit". Menurut artis tersebut, dia menghabiskan uang RM10.000 (sekitar Rp 24.000.000) untuk proses pembesaran dada bernasib baik karena ada tempo jaminan setelah menjalani prosedur sehingga terbebas dari biaya tambahan. "Setelah menjalani pembedahan, saya mengikuti nasihat dokter, tetapi rasa sakit yang keterlaluan menyebabkan saya selalu menangis karena tidak mampu menahan sakit. Enam bulan kemudian, saya mengambil keputusan mengeluarkan silicon itu di klinik yang sama." Ujarnya.

Untuk cantik itu memang sulit. Harus berani sakit dan harus berani bayar mahal. Ini nasehat yang diberikan oleh seorang teman yang bekerja di sebuah salon kecantikan. Teman saya itu bercerita tentang para gadis dan wanita yang datang ke salon kecantikannya untuk berbagai macam keperluan memperoleh kecantikan. "Banyak klien yang menangis ketika rambutnya ditarik, supaya rambut keritingnya bisa lurus. Atau wajahnya ditusuk-tusuk atau dipoles supaya putih mulus. Yah, cantik itu memang sakit dan mahal sih. Kalau nggak mau sakit dan pelit yah jelek ajah terus. (hmm..ungkapan sinis dari pemilik salon nih, khas; padahal kalau terjadi sesuatu dengan klien mereka, mereka juga tidak mau disalahkan)

Lalu bagaimana pandangan hukum Islam sendiri terhadap usaha tersebut?
Mufti Wilayah Persekutuan (Kuala Lumpur), Prof. Datik Dr Mohammed Yussof Hussain, berkata semua itu tergantung dari niat seseorang. Menurutnya, jika pembedahan itu dibuat atas dasar untuk kelihatan cantik, nampak lebih muda atau menarik perhatian orang lain, ia haram dilakukan karena dianggap mengubah ciptaan Allah.
Menurutnya, perbuatan itu menunjukkan sifat tidak bersyukur manusia karena anugerah tubuh badan yang sempurna yang dikaruniakan Allah adalah secantik-cantik dan sebaik-baik anugerah.

Seseorang yang dilahirkan sempurna memang harus merawat kesempurnaan yang dimilikinya, dia boleh merubahnya dengan tujuan untuk menghindari kemudharatan. Artinya, fisik yang sempurna tidak perlu diubah kecuali dengan tujuan untuk memperbaiki kecacatan, kecederaan atau apa saja yang sekiranya bisa mendatangkan kemudharatan jika dibiarkan. Kata Mufti itu kemudian.

"Adapun melakukan operasi merubah fisik yang sudah sempurna, merupakan sebuah perbuatan dosa besar, ditambah lagi dosa karena berbohong. Banyak mereka yang melakukan operasi kecantikan enggan berkata terus terang bahwa dia telah menjalani operasi tersebut."

Pakar bedah plastik di Hospital Pakar Ampang Putri, Dr A Jalil Jidon, menambahkan bahwa niat seseorang untuk melakukan prosedur kecantikan itu haruslah disadari apakah betul atau salah. Seorang wanita yang ingin melakukan prosedur kecantikan dengan niat ingin kelihatan hebat dan anggun, atau ingin agar pasangan hidupnya kagum dan tidak mencari pasangan lain, harus diingatkan bahwa niat ini salah.

"Dalam keadaan begitu, keanggunan seseorang bukan jaminan pasangannya akan tetap setia. Atau tidak memberi jaminan bahwa dia akan kelihatan hebat dan akan dikagumi oleh banyak orang".Demikian artikel yang tertulis di surat kabar tersebut. (Kafemuslimah.com)

Hmm.... Kalau bukan jaminan, kenapa harus ngotot berubah jadi seperti Barbie yah?

---Kuala Lumpur, 29 November 2004
Penulis: Ade Anita
Sumber: Koran Metro Ahad, 28 November 2004, hal. 6.
dulu, waktu kafemuslimah.com  masih ada, tulisan ini pernah dimuat di kafemuslimah.com, tapi setelah kafemuslimah.com sudah tutup, aku menemukan tulisanku ini di http://www.suaramedia.com/artikel/kumpulan-artikel/39401-ketika-mencoba-jadikan-mimpi-nyata-inilah-era-barbie-doll.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...