Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

numpang simpen find my link yang ada di facebook.

Ade Anita
ups... pekan lalu aku buat list group close friend... dan hasilnya notificationku penuh setiap hari, hingga ratusan... siang ini aku cari lagi cara mensetting notification agar tidak terlalu penuh.. tapi tidak diketemukan.. terpaksa deh.. ada beberapa teman yang "terlalu rajin" meng-up date status aku geser dari close friend ke acquaintances... heehehe.... dari 100 notification yang aku terima, 66-nya berasal dari update status beliau soalnya... fiuh....*I'm sorry
Like · · about an hour ago
Bais Manam, Fiani Gee, Fadjri Achmad Doel and 2 others like this.
Ade Anita dan takjubnya, dia bisa meng=up date status setiap menit ternyata... bayangkan.. pukul 17.43 dia up date status.. 17,44 up date lagi.. eh.. 17 55 up date lagi... jadi nggak sampai 10 menit dia sudah up date status berkali-kali.. ya ampun.. energinya banyak banget ya?
about an hour ago · Like

Hasanudin H Syafaat http://www.facebook.com/settings?tab=notifications&section=Facebook&t
about an ho…

dapat kado puisi dari ricky rayhan

SKETSA ( tangisan pertama itu hari ini )
by Ricky Rayhan on Monday, 26 September 2011 at 07:25
~ walau di kejar waktu semoga menjadi kado terindah ~


Senyum fajar sementara sembunyikan wajah malam. Berikan kesempatan pada sahaya mencicipi hangat semangat. Sebagai awal dari segala laku di mayapada. Pun dirimu, yang mengawali hari dengan sungging pasti. Menenun harap menjadi titisan Hawa yang berbakti. Memerankan Khadijah dalam setumpak keluarga. Geriap keringat serupa cindera mata, lahir dari pengorbanan memenuhi pinggan. Meski hanya secupak beras yang terkuras. Selalu, merawat senda guna wibawa menyandang panggilan perempuan berbakti

lirik lagu bon jovi yang aku suka: thank You for loving me

it's hard for me to say the things
I wont to say sometimes
there's no one here but you
and me.. and the broken street legh

Mencari jejak puisi jenaka

Saya selalu kesulitan untuk menulis puisi. Entahlah. Bagi saya menulis puisi itu sulit. Bayangkan, pada sebuah pemandangan yang amat luas, kita harus mendeskripsikannya dalam sebuah kalimat yang bisa mewakili segala. Lalu, meletakkan napas di dalamnya agar kalimat yang minim itu tidak tampil datar dan tandus.

Ah. Saya tidak pernah bisa menulis puisi. Tapi, tidak bisa bukan berarti mengurangi kenikmatan untuk menyantap puisi yang terhidang. Sesungguhnya, dari puisilah kosakata yang saya miliki terus bertambah. Ada beberapa ekspressi yang mungkin amat biasa tampil dalam ruang cerpen atau novel, ternyata bisa tampil dalam bentuk kata baru yang tidak biasa tapi indah untuk dinikmati.

Asyiknya membaca dua cerpen dari dua lelaki berbeda ini

(cerpen) gubrak, nyoh, dan din- din- din.



by Cepi Sabre on Tuesday, 18 January 2011 at 16:48





Gubrak, Nyoh, dan Din- Din- Din.

Gubrak!

Aku melemparkan tubuhku begitu saja ke atas sofa seperti layang-layang putus. Hasilnya: gubrak yang sangat keras. Sofa hijau pupus ini berderak, sepertinya ada yang patah. Aduh, aku harus memperbaikinya. Tapi, hijau pupus? Sofa ini seharusnya merah menyala. Seingatku, aku tidak pernah membeli sofa berwarna hijau pupus. Terlalu teduh. Orang-orang akan betah duduk berlama-lama di sini. Bukan itu mauku. Aku punya ruang tamu untuk menerima tamu, bukan untuk melayani tamu yang betah berlama-lama. Merah. Sofa harus berwarna merah. Dan menyala.

Aku tidak tahu mana yang harus kurisaukan dari sofa ini, sesuatu yang patah di dalamnya atau warnanya yang hijau pupus. Istriku pasti menggantinya diam-diam ketika aku tidak di rumah. Ini pemberontakan, tidak bisa tidak. Istriku yang jarang bicara itu sudah berani mengganti sofaku tanpa bertanya padaku. Hei, aku arsitek…

Kecupan Ketika Hujan

Catatan sakit 3: Kecupan Ketika Hujan
Hujan hari itu amat unik bagiku.

Butir airnya turun amat deras, bulirnya besar-besar dan curahnbya banyak. Membuat gaduh suara seng-seng rumah dan pagar. Juga membuat banyak lubang di lumpur sepanjang pinggir jalan. Tak ada seorang pun yang ingin berjalan di bawah hujan yang menderas dan menggila seperti ini. Tapi aku seorang penyuka hujan. Aku melihat debu-debu yang terhampar di seluruh permukaan benda di dalam naungan kota Jakarta tampak terusir pergi dalam sekejap. Dalam hati aku berdoa:

Para Perempuan Hebat

Catatan sakit 2: Para Perempuan Hebat

1.
“Dokternya sudah tua apa masih muda ya?” Aku bertanya ragu pada seorang perempuan yang duduk sambil memeluk map hasil rontgennya. Perempuan setengah baya yang memiliki senyum yang amat keibuan. Lembut dan hangat. Aku suka semua perempuan yang memiliki senyum yang lembut dan hangat. Ada sebuah rasa nyaman yang senantiasa terkirimkan dari senyuman yang lembut dan hangat.

“Iya, usianya sudah 63 tahun. Dia termasuk dokter senior di RS Dharmais.”

Tamu Tak Diundang

Catatan Sakit (1) : Tamu Tak Diundang

Ada yang datang tanpa diundang hari ini, tapi bukan jailankung.
Ingin kutendang jauh-jauh tapi dia tidak berbentuk bola sepak.
Sebal.

Aku benci tamu tak diundang yang menguasai rumah yang dia tumpangi sesuka hati.
Aku benci tamu yang bermetamorfosa menjadi penjajah yang menguasai daerah yang dia kuasai dengan kejamnya.
Sebal.

Ketika Rasul Menjadi Unta

copas dari teman karena aku ingin menyimpannya di deret notesku... suka banget, mengharukan.

Ketika Rasul menjadi ‘unta’ (empat dari tujuh rangkaian tulisan memperingati maulid nabi)

Alkisah, suatu hari Rasul berjalan di lorong gang menuju Masjid, lalu berjumpa dengan anak-anak yang tengah bermain. Saat melihat Rasul, anak-anak segera merangkulnya seraya berkata: “كن جملي”

“Ayolah jadi untaku.!” Karena kerap melihat Hasan dan Husain melakukan hal yang sama pada Rasul, mereka pun menginginkanya. Rasul dengan senang hati mengabulkan permintaan mereka.

Suasana (catatan kenangan bulan maret 2011)

Suasana Pagi.

Matahari terbit malu-malu di mulut cakrawala. Masih ada rembulan yang bertengger di penghujung barat. Mungkin itu penyebab matahari terlihat malu-malu untuk tampil. Meski demikian, ada semangat yang bergelora bersemayam pada para pelajar yang bersiap untuk berangkat sekolah. Sebelum matahari sempurna memberitahukan waktu Dhuha, waktu belajar di sekolah memang sudah akan dilaksanakan. Tidak heran banyak pelajar yang begitu semangat mempersiapkan diri, tidak menunggu keberanian matahari sempurna.

anak lelaki dan anak perempuan

Siang ini terik sekali.
Silahkan letakkan sosis dan daging sapi tenderloin di atas kepalaku, mungkin akan kau dapati sosis panggang nan lezat dan daging panggang well done.
Sayang, dokter melarangku mengkonsumsi daging merah.
Dan terik matahari yang menyengat siang ini membuatku malas menuju toko material untuk membeli cat berwarna biru.

Di dalam taman yang berpasir di bawah pancaran matahari yang garang, aku melihat seorang anak lelaki menodongkan pistolnya ke arah seorang anak perempuan.
Sama sekali tidak ada rasa takut di wajah anak perempuan itu.
Senyum diuntainya semanis warna pelangi dan matanya mengerling saja menantang pistol mainan itu.
Mungkin nalurinya sebagai seorang perempuan sudah mulai mengajarkan padanya, bahwa setiap lelaki pada akhirnya akan tekuk lutut di kerling mata perempuan.
Ah.
Kenapa pikiranku melantur kemana-mana? Ini pasti karena sengatan sinar matahari yang begitu terik hingga melelehkan pikiran waras yang biasanya terjalin utuh di dalam kepalaku.
Atau... …

karya spontan yang menakjubkan a la Adrian Kelana

Menjelang malam, ketika menunggu Leonardo De Caprio beraksi kembali di film Black Diamondnya di televisi, pada jeda iklan saya membuka facebook lewat hape. Pandangan saya tertuju pada sebuah status yang menurut saya lucu. Begini isinya:

Adrian Kelana:
Regues tengah malam .silahkan menuliskan judul dibawah ini. Semata mata ini untuk melatih ketajaman imajinasi yang digerakan oleh hati.
Dan yang ingin komen kritik maupun saran .sangat saya nantikan dengan kerendahan hati rimba kelana.salam

Saya lalu berpikir, "ini orang iseng banget sih." Tapi, setelah dipikir-pikir, rasanya apa yang dia lakukan sesungguhnya adalah sesuatu yang menakjubkan. Saya melihat ini adalah usaha dia untuk memberi tugas pada dirinya sendiri agar terus menggali potensi yang dia miliki, yang dia sadari benar keberadaannya. Yaitu, kemampuan untuk bisa menulis apa saja dan dalam keadaan apapun.

Bagi saya, yang notabene seorang penulis pemula, apa yang dia lakukan itu terus terang belum bisa saya lakukan.…

Perempuan oh Perempuan

Perempuan oh Perempuan

by Ade Anita on Tuesday, 14 June 2011 at 09:38 (posting on my facebook)
(tulisan iseng untuk melepas kangen)

Akhirnya, alhamdulillah berat badanku turun 4 (baca: empat) kilogram dalam kurun waktu 3 (baca: tiga) pekan. Senangnya.

Loh? Bingung kan kok tumben-tumbennya menulis curhat gini. Hehehe. Yup, benar. Aku memang termasuk perempuan yang bisa dikatakan (sebenarnya kata yang tepat adalah 'seharusnya dimasukkan') dalam kategori kelebihan berat badan. Semula, aku tenang-tenang saja karena setiap kali bertemu teman-teman yang tidak tahu masa laluku (yang bertubuh langsing dan semampai.. huaaaaa..huhuhu; hiks.. tinggal kenangan), tidak ada yang menanyakan apakah aku gemuk atau kurus. Asyik-asyik saja.

"Hai.. apa kabar?".

Tapi coba jika bertemu dengan teman lama, pasti komentar pertama yang keluar dari mulut mereka adalah:

" Hai, Ade, apa kabar? Waduh, kok gemuk banget sekarang?"... Begh. Terasa ada satu tinju yang menimpa dadaku.

Tapi,…

Batas Kesabaran

Catatan : notes ini terinspirasi dari status temanku Saptari semalam. Aku copas status ini ke statusku di menit berikutnya.

Saptari Kurniawati
Lita Dimpudus wrote:At 3 years ''Mommy I love you."At 10 years ''Mom whatever."At 16 years "My mom is so annoying."At 18 years "I'm leaving this house."At 25 years ''Mom, you were right''..........At 30 years ''I want to go to Mom's house."At 50 years ''I don't want to lose my mom."At 70 years "I would give up everything to have my mom here with me."WE only have one MOM. Post this on your wall if you appreciate ...

14 hours ago via BlackBerry · Like ·

-------------------------------------------------

"Ini deja vu. Pasti deja vu."

Mengomentari Bacaan Yang Aku Baca

Ah. Ini cuma masalah selera.

Sudah beberapa hari ini, eh, bukan. Tepatnya, sudah beberapa bulan ini, aku vakum menulis. Bukan berarti berhenti sama sekali dari menulis. Tidak. Masih terus menulis, karena menulis itu sudah menjadi candu untukku. Jadi, jika tidak menulis sama sekali dalam satu pekan itu, rasanya hidup jadi terasa hampa dan terasa ada yang hilang dari diriku. Mungkin karena menulis itu adalah hobbi yang amat sangat aku manjakan. Jadi, jika dia datang memanggil aku segera akan datang memenuhinya.

Terkait dengan kegiatan penyaluran hobbi menulis tersebut, ada Soul Mate dari hobbi menulis yang juga harus dilakukan. Artinya, jika keberadaan pasangan menulis ini tidak dilakukan, maka seorang penulis tidak akan pernah bisa menulis karena mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Soul Mate dari menulis adalah kegiatan membaca dan mengamati. (Hm... memang rada poligami nih si menulis). Tiga serangkai ini harus senantiasa berjalan beriringan. Jika salah satu tidak dikerjakan, mak…

[Tips] Mengirimkan Naskah Novel ke Penerbit

[Tips] Mengirimkan Naskah Novel ke Penerbit
By iwok Abqary


Ternyata, masih banyak yang sering kebingungan mengenai cara mengirimkan naskah ke penerbit. Sampai saat ini saya masih sering menerima pertanyaan tentang itu. Agar tidak perlu menjelaskan berulang, ada baiknya saya menuliskannya saja, sehingga kalau ada pertanyaan serupa saya bisa mengarahkannya ke postingan ini.


Apa sih yang harus disiapkan pertama kali sebelum mengirimkan naskah?

Yang harus diperhatikan pertama kali tentu saja naskah tersebut. Apakah naskah yang kita tulis sudah sesuai persyaratkan yang diminta oleh penerbit tersebut? Panjang halamannya sudah mencukupi batas minimal? Aturan penulisannya sudah disesuaikan? Biasanya, setiap penerbit memiliki aturan tersendiri. Satu sama lain bisa memiliki persyaratan dan aturan yang sama, bisa pula berbeda.

Adapun standar umum penulisan naskah fiksi (apalagi fiksi remaja) yang banyak berlaku di penerbit adalah sebagai berikut :
Panjang halaman : 100 - 150 halaman
Ukuran kerta…

Behind the Story: Setangkai Anggrek Bulan (dari kumcer keduaku selamat malam kabutku sayang)

Behind The Story nomor (#1): Setangkai Anggrek Bulan



Di buku kedua saya yang terbit tahun 2005, “Selamat Malam Kabutku Sayang” (penerbit: Gema Insani Press), ada sebuah cerita yang amat sangat saya suka. JUdulnya Setangkai Anggrek Bulan. Mungkin waktu itu gaya menulis saya tidak begitu bagus (sampai sekarang sih sebenarnya..hehehe, maaf deh…) tapi saya amat suka ceritanya. Hampir seluruh isi cerita pendek dalam buku-buku saya diambil dari kisah nyata. Baik yang saya alami sendiri maupun yang saya dengar sendiri dari penuturan pelakunya sendiri. Kebetulan, saya termasuk orang yang suka usil mau tahu masalah orang lain.

Cerita ini diangkat dari cerita ibu saya almarhumah dahulu. Suatu hari dia menelepon saya meminta agar saya datang ke rumah beliau.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...