badge

Sabtu, 31 Desember 2011

Reflesi 2011 # 3: To Be A New You

Sepertinya, profesi yang paling banyak memberi dampak positif terhadap kehidupan saya di tahun 2011 ini adalah profesi dokter. Terlepas dari kondisi saya atau anggota keluarga yang terpaksa harus menderita sakit sehingga harus berurusan dengan dokter. Di bulan desember ini, yaitu bulan terakhir dimana saya bertemu dengan seorang dokter sebelum tutup tahun (hehehe) kembali saya memperoleh sebuah pelajaran kehidupan yang baru.

Suasana ruang tunggu pasien untuk dokter yang satu ini sepi (kebetulan banget). Jadi, saya dan anak-anak bisa langsung masuk ke dalam ruang praktek dokter. Ketika saya sudah berhadapan dengan dokter, ternyata dokter saya sedang menulis sesuatu di sebuah buku yang cukup tebal. Iseng (dan mungkin karena banyak keisengan inilah saya sering mendapatkan macam-macam), saya mengintip apa yang ditulis oleh dokter saya. Ternyata, dia hanya menulis angka-angka saja, angka dengan huruf Arab dan huruf Latin.

1 - 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7 – dst....

Bingung kan. Dia sedang menulis apa? Sepertinya sesuatu yang biasa banget, bahkan mungkin anak saya yang duduk di bangku kelas satu SD juga bisa melakukannya. Tergerak oleh rasa ingin tahu (nah, ini juga kebiasaan saya yang lain yang sering membawa saya bisa mendapatkan macam-macam, yaitu punya rasa ingin tahu).

“Sedang nulis sesuatu ya dok?”

“Iya... saya sedang belajar nulis lagi.”

Kemudian dokter memperlihatkan sesuatu pada saya. Lembar-lembar yang telah dia tulis sebelumnya, yang isinya sama semua. Yaitu angka-angka secara acak, baik angka dalam huruf Arab maupun angka dalam huruf Latin.

“Saya mengikuti sebuah seminar. Kurang lebih materinya tentang pencegahan stroke. Ya, tentang bagaimana caranya mencegah kita agar tidak mengalami penurunan ingatan. Pikun, demensia, bahkan bisa juga stroke.”

Saya mengangguk dan serius mendengarkan celoteh dokter saya dengan penuh antusias.

“Nah, salah satunya adalah, kita harus selalu melakukan sesuatu yang baru terhadap diri kita. Artinya, kita harus terus belajar untuk mempelajari sebuah pengetahuan yang baru. Dan pengetahuan baru itu, diusahakan bukan cuma melibatkan otak kiri kita saja, tapi juga otak kanan kita. Jika berhitung, berpikir, menulis, membaca itu kan memakai otak kiri. Nah, otak kanan, setelah dewasa hampir-hampir sering dilupakan orang untuk menggunakannya. Otak kanan itu sesuatu yang berhubungan dengan kreatifitas. Tapi, bisa juga mengfungsikan otak kanan dengan cara mengfungsikan tangan atau kaki kiri kita. Balance. Nah. Itu sebabnya saya sekarang sedang melatih tangan kiri saya untuk belajar menulis. Saya ikut pelatihan baru yang benar-benar baru, seperti belajar bahasa asing yang baru dan benar-benar asing bagi saya, atau belajar keterampilan baru, tapi, itu kan bayar. Nah, ini yang gratisnya. Lihat.... waktu awal-awal nulis, tulisan saya benar-benar ceker ayam. Sekarang sudah agak mendingan. Makanya saya mulai belajar untuk menulis bahasa Arab dengan tangan kiri.”

Saya mengangguk dan takjub menatap lembar-lembar buku pelajaran dokter tersebut.
Subhanallah. Satu lagi pelajaran kehidupan saya peroleh.

Terkadang, kita memang sering sekali terjebak oleh sebuah kerutinan yang melenakan. Diawali dengan melakukan pekerjaan yang sulit dan melelahkan. Lalu karena merasa jenuh dan lelah, berusaha mencari akal untuk mengatasi kesulitan tersebut dengan mencari celah atau cara yang memudahkan. Kreatifitas manusia berkembang semata untuk memberikan kemudahan. Dibangunnya eskalator, travelator, elevator, mobil, motor, traktor, microwave, mesin cuci, remote control, sepeda listrik, pemanas ruangan, pendingin ruangan, selang air, dan sebagainya. Akhirnya, tangga yang disediakan di gedung-gedung kebanyakan digunakan untuk kondisi-kondisi darurat. Pedestrian di pinggir jalan lebih sering digunakan oleh pedagang kaki lima. Dan eskalator serta elevator selalu berjejal dengan jumlah penggunanya, dan para ibu rumah tangga banyak yang kelimpungan jika tidak ada pembantu rumah tangga di rumah mereka (kadang, mereka sering bersikap seolah-olah dunia ini akan runtuh karena ketidak hadiran para PRT tersebut).

Padahal, jika saja kita sejenak atau sesekali mau memfungsikan anggota-anggota tubuh kita untuk bekerja sebagaimana mestinya, mungkin ada banyak penyakit yang bisa dicegah kemunculannya. Seperti jalan kaki yang bisa mengurangi timbunan lemak dan kolesterol serta mencegah penyakit jantung. Atau naik turun tangga yang amat menyehatkan dan bisa mencegah pengapuran pada tulang. Lebih dari itu, kita juga bisa terus menggunakan anggota tubuh kita baik kanan maupun kiri sama banyak dan sama baiknya.

Akhirnya, sepulangnya dari dokter, saya mulai belajar untuk mengfungsikan tangan kiri saya. Mengaduk makanan dengan tangan kiri, memotong makanan dengan tangan kiri, menulis dengan tangan kiri dan itu luar biasa sulitnya. Apa yang ada di kepala saya ternyata tidak bisa saya wujudkan dengan baik ketika saya menggunakan tangan kiri. Tulisan saya seperti ceker ayam (padahal aslinya juga seperti ceker ayam; jadi cekernya ceker ayam). Ingin memotong irisan yang halus, jadinya malah irisan yang tebal-tebal. Aduh... ilmu baru memang selalu sulit untuk dipelajari.

Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu ketika anak saya sakit dan tidak dapat masuk sekolah. Akhirnya, saya mengambil secarik kertas dan bersiap untuk menulis surat izin pada ibu guru kelasnya. Saya seorang penulis. Pekerjaan saya utamanya adalah menulis, jadi jika menulis dengan komputer, jemari tangan saya bisa menari dengan amat lincah dan cepat bahkan tanpa saya harus melihat ke arah keyboard. Saya bisa mengetik di tempat amat gelap karena saya sudah amat hapal letak tombol huruf qwerty di keyboard saya. Saya bahkan bisa mengetik dengan amat cepat, lebih cepat dari komputer saya sendiri yang memang hard disknya sudah mulai agak penuh jadi sering lelet mengimbangi kecepatan saya mengetik. Nah. Ketika saya berusaha untuk menulis dengan tulisan tangan, menggunakan kertas dan pulpen, Astaghfirullah, saya benar-benar lupa caranya menulis dengan tulisan tangan.

“Eh, huruf b itu menghadap mana ya?”

Otak saya tiba-tiba tumpul. Semua tulisan tangan saya terbalik-balik. Aduh. Ini seperti jaman dulu saja, jaman ketika saya belajar menulis padahal saya tidak tahu konsep kiri dan kanan.

“Aduh, ibu benar-benar lupa nih. Menulis ‘permaklumannya’ itu gimana sih? Huruf ‘n’nya satu atau dua ya?”
Parah. Benar-benar parah. Itu sebabnya sejak enam bulan terakhir di tahun 2011, saya selalu menyempatkan diri untuk menulis ulang dengan tulisan tangan berita apa saja yang saya baca. Karena saya benar-benar tidak mau lupa dengan tradisi menulis tangan (bahkan meski ini sudah jaman komputerisasi sekalipun).

Sekarang, saya sedang memaksa diri saya agar mau belajar menulis dengan tangan kiri. Juga rajin menggerakkan anggota tubuh saya yang lain lewat olah raga. Cita-citanya hanya satu, karena saya tidak ingin menjadi seorang nenek yang pikun, pelupa dan tergantung pada orang lain ketika saya sudah tua nanti.

Sungguh. Semua yang diberikan oleh Allah itu tidak ada yang bersifat sia-sia. Bahkan meski kehebatan teknologi dan kemajuan zaman sudah mampu menghasilkan yang macam-macam sekalipun, tapi kita tidak boleh terlena oleh kemudahan dan kemapanan yang terhampar.

----------------------------
Penulis: Ade Anita
Catatan cerita tambahan setelah pulang dari dokter:
“Jadi, ya demikianlah mas. Kata dokter, kita harus terus memperbaharui diri kita agar kita bisa terus berkembang. Jadi istilahnya, harus terus diup grade lah.”
Sepulang dari dokter, saya langsung bercerita pada suami saya perihal ini.
“Iya juga ya, karena kalau tidak di up grade, nanti malah tertinggal. Kalau tidak dirawat malah bisa karatan.”
Suami saya menanggapi dengan manggut-manggut.
“Iya, intinya, sesuatu yang baru itu bisa membuat kita tersadar untuk mau mengembangkan diri.”
Suami saya langsung melihat ke arah saya dengan mata berbinar-binar.
“Maksudmu.... sesuatu yang baru itu... pasti baik?”
SPASH!. Saya tersadar sesuatu dan langsung melotot ke arah suami saya.
“Tapi bukan sesuatu yang itu... nggak! Nggak boleh!”
Pelototan saya kian membesar sementara suami saya senyum-senyum menggoda.
“Tapi kan sesuatu yang baru itu pasti membawa kebaikan katanya?”
“Ahhhh.... pokoknya nggak boleh. Boleh yang baru apa saja, tapi nggak boleh istri baru!!! TITIK!!!”
GLEK! UPS.

3 komentar:

  1. Untungnya saya sudah 8 tahunan gak pakai asisten mbak. Dulu ada asisten nyuci -seterika, sekarang gak sama sekali. Saya pikir2 bagus juga buat badan saya. Soalnya saya ini doyan ngemil. Kalo ada asisten jelas geraknya berkurang ...

    Hmmm ...tahun depan gak usah singgung2 sama suami ttg sesuatu yg barulah mbak, lebih aman begitu hehehe

    http://mugniarm.blogspot.com

    BalasHapus
  2. hehe... iya mbak... tapi kadang ini juga obrolan iseng aja kok. Nggak serius.

    BalasHapus
  3. ass wr wb Ade,

    apa khabar?
    gue arief hidayat, kriminologi 89
    masih ingat?

    tinggal dimana skrg?
    gue tinggal di bontang kaltim

    salam untuk Mas Bandi

    wasalam
    arief hidayat
    08115805860
    email : arief.h@kpa.co.id

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...