badge

Sabtu, 31 Desember 2011

Refleksi tahun 2011 # 2: Delete Me Not

[Catatan Akhir Tahun] Satu peristiwa yang rasanya harus saya catat sebagai sebuah kejadian penting di tahun 2011 adalah, ini tahun saya menggunakan fasilitas Time Line di Facebook. Tidak usah bertanya ya apa itu time line karena yang saya tahu, time line itu salah satu tampilan baru dari facebook dimana dinding pribadi kita tampil bak blog. Selebihnya, hehehe, saya gaptek jadi nggak bsa ngejelasin lebih lanjut.




Di pekan terakhir bulan desember, saya mencoba untuk memasang Time Line pada Facebook saya setelah beberapa hari lamanya terkompori oleh tampilan dinding facebook teman-teman yang cantik-cantik. Glek. Lama-lama naksir juga karena kelamaan melihat. Ya. Apa boleh buat, cinta memang bisa tumbuh karena terbiasa berhadapan. Dan demikianlah akhirnya saya jatuh cinta pada Time Line lalu serta merta berusaha untuk ikut mengubah tampilan Facebook saya. Hasilnya... memuaskan.

Ya. Benar-benar memuaskan. Ternyata, saya jatuh cinta bukan pada sesuatu yang salah. Saya pun lega. Lalu mulai sibuk berbulan madu dengan tampilan baru facebook saya. Mulai berusaha melukis dengan paint tool di notebook dengan niat agar saya bisa memasang foto keluarga hasil lukisan saya sendiri di foto utama dinding saya.


 Setelah terpasang, lalu mulai memandang lama-lama pilihan hati saya ini dengan puas. Membaca setiap status yang muncul di dinding saya satu demi satu.

Ya. Kelebihan dari Time Line adalah, kita bisa melihat semua jejak rekam dari apa yang kita tulis atau tayang atau dapatkan selama kita memakai Facebook. Saya baru tahu, ternyata saya pertama kali ikutan facebook itu adalah bulan Februari tahun 2008. Wah. Lama juga. Dan yang lebih menggembirakan saya adalah, saya bisa melihat semua kejadian di tahun yang silam. Dan tahun yang penuh kenangan bagi saya, ternyata adalah tahun 2009. Ini adalah tahun dimana ayah saya yang tercinta meninggal dunia. Tepatnya di bulan Februari tanggal 28 tahun 2009. Saya tahu, di tahun ini saya sedikit merasakan keterpurukan. Saya pernah sama sekali tidak mau melihat Facebook atau apa saja yang bisa membuat saya menangis karena teringat ayah. Padahal, Facebook menganut sistem yang tidak mau menunggu kita sedang terpuruk ataukah sedang senang. Semua akan terpendam dan terendap oleh berita-berita yang datang di dinding kita. Ada teman yang mengirimkan notes, dagangan, foto, iklan-iklan, ajakan bermain game, dan sebagainya. Karena Time Line inilah maka saya baru saja membaca ulang semau ucapan bela sungkawa yang dikirimkan oleh teman-teman saya ketika ayah saya meninggal. Ya. Karena saya mogok tidak mau melihat Facebook tidak lama setelah ayah saya meninggal, maka saya tidak memperhatikan kiriman pesan-pesan di dinding saya tersebut.



Subhanallah.

Saya benar-benar terharu membaca semua ucapan bela sungkawa tersebut. Ada banyak sekali. Bahkan, ada teman yang memberikan ucapan bela sungkawa atas kematian ayah saya, tapi sekarang (tahun 2011) teman tersebut juga sudah wafat. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Padahal saya belum sempat mengucapkan terima kasih atas perhatiannya kala itu.
Waktu. Waktu adalah sesuatu yang paling tidak dapat kita pertahankan di dunia ini. Tidak dengan tangan yang kuat dan kekar, bahkan juga tidak dengan semua harta melimpah yang kita miliki. Waktu cepat berjalan, tidak mau menunggu kita dan akan cepat berlari meninggalkan kita ketika dia sudah lalu dari hadapan kita. Dan demikianlah saya pada akhirnya hanya dapat mengenang saja waktu-waktu yang lalu. Tidak punya kuasa untuk memutar ulang lagi semuanya.

Lalu saya kembali menelusuri kenangan-kenangan masa lalu. Semua foto-foto yang ditag oleh teman, semua notes yang ditag nama saya di notes mereka dan semua obrolan dan sapaan tempo dulu.
Ih. Ternyata dibanding teman-teman saya yang lain, saya termasuk "culun" dan "polos" ketika memberi komentar. Saya terperangah melihat kehebatan teman, terbengong-bengong ketika bertemu teman lama yang sebelumnya tidak saya sangka, dan semua perilaku "lugu" lain yang tergambar dari tulisan saya di kenangan facebook awal-awal saya pakai facebook (juni 2008).

Hingga tiba-tiba  terpampanglah di hadapan saya sebuah pemandangan yang cukup membuat kaget. Jujur, saya sedikit merasa takut dan juga deg degan. Ya. Saya melihat potret diri saya ketika masih muda dulu, yang ditayangkan oleh teman-teman masa lalu saya!

OUCH.

Ada keceriaan yang terlukis di sana. Juga ada keriangan masa muda tapi.... semua dalam tampilan tanpa penutup aurat. Beberapa bahkan dengan tampilan yang menurut “ukuran” saya sekarang: kurang Islami.

Hah?

Aduh. Saya malu sekali. Juga deg degan dan langsung terbetik sebuah pemikiran, “Jika saya bisa melihat ini, berarti orang lain juga bisa dong.”

Aduh. Bagaimana ini? Saya langsung panik.

Kenapa semua yang menggembirakan selalu bersanding dengan sisi kelemahan tersendiri?

Kenapa semua yang membuat kita jatuh cinta ternyata membawa bahaya laten untuk kita patah hati?

Saya langsung memutuskan untuk membatalkan pemasangan Time Line di dinding Facebook saya tapi... ternyata tidak bisa. Dan sungguh itu membuat saya makin takut dan “gemetar”.

Aduh. Begini rupanya, rasanya berhadapan dengan sang waktu. Begini rupanya, rasanya jika mendapati kenyataan ternyata tidak semua bagian tidak sedap dari diri kita tidak bisa kita “hapus” begitu saja. Begini rupanya, rasanya jika bagian yang jelek dari diri kita, yang selama ini berusaha keras kita tutupi, tiba-tiba disingkap di hadapan banyak orang.
Saya sungguh merasa amat gemetar. Takut. Takut sekali.

Bukan masalah penampakan foto-foto jadul itu lagi sekarang. Tapi, saya tiba-tiba teringat dengan semua kesalahan, kekhilafan dan dosa-dosa yang pernah saya lakukan di waktu yang lalu. Perjalanan hidup saya kian panjang seiring dengan bertambahnya usia dan seiring dengan semakin seringnya saya menikmati pergantian tahun baru. Itu artinya, jejak rekam kesalahan, kekhilafan dan dosa-dosa saya juga banyak tertoreh di sana sini.

Betul sekali saya sudah bertobat. Betul sekali saya sudah minta maaf. Dan betul sekali, saya sudah menyesali semua kekhilafan itu. Tapi... bagaimana jika ternyata ada sesuatu yang tidak bisa dihapus begitu saja? Bagaimana jika semua itu disingkap Allah di hadapan orang banyak?

Aduh. Sungguh saya amat mengharapkan sebuah penghapusan. Hapus, hapus, lalu bersih dan benar-benar bersih. Tapi.... bisakah?

“Tenang mbak, memang itu nggak bisa dihapus, tapi bisa disembunyikan kok. Mbak buka saja pengaturan akun dan pilih siapa saja yang bisa melihatnya.”

“Mbak, coba lihat fasilitas edit, ada pilihan menyembunyikan kok disana.”

“Eh... ada ya? Benarkah?”

Gegas saya menyelinap ke pilihan-pilihan tersebut dan langsung menyembunyikannya. Diam-diam, dalam hati saya berdoa dengan gencar, “Allahumma, sembunyikanlah semua kelemahan, keburukan dan kekuranganku. Sungguh, hanya Engkau Yang Maha Berkuasa untuk melakukan semua itu.

Ya. Ini doa saya, karena saya tahu, saya masih harus berhadapan dengan sang waktu yang tidak pernah mau menunggu. Sang waktu yang tidak pernah bisa kita pertahankan.
----------------
Penulis: Ade Anita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...