badge

Jumat, 30 Desember 2011

Refleksi tahun 2011 # 1: bagaimana caranya untuk bahagia?

Udara dingin mulai menggigit seluruh pori-pori telapak kakiku. Perlahan, aku menyelipkan telapak kakiku ke bawah sepasang telapak kaki yang hangat di sebelah kakiku. Dalam sekejap, rasa hangat terasa menjalari seluruh telapak kakiku. Merambat terus ke seluruh kaki lalu ke sekujur tubuh.

Ini sebenarnya masalah yang sepele saja. Tentang sebuah pengorbanan sederhana yang dilakukan atas nama cinta. Hmm, kenapa tiba-tiba menulis tentang cinta? Baik, aku akan menjelaskan padamu. Tulisan ini aku buat untuk menjawab pertanyaan seorang teman, yang bertanya bagaimana caranya untuk merasa bahagia. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Maka, aku akan bercerita saja. Tentang apa yang aku dapatkan pada suatu malam ketika hujan sudah mengguyur sepertiga waktu malamnya.




Aku tahu, udara dingin yang menggigit akibat hujan bukan hanya melanda diriku saja, tapi juga semua orang di seluruh ruangan yang aku tinggali. Pada anak-anakku yang tidur di sebelahku, juga pada suamiku. Tapi mata ini sudah terlalu amat berat oleh kantuk yang melilit. Maka, ketika semua orang berusaha membenamkan diri dalam selimut tebal dan menguasai selimut tersebut, maka harus ada usaha lain selain berebut selimut. Menyelipkan kaki ke bawah kulit yang hangat adalah salah satunya. Dan aku terharu dengan kesediaan suamiku membagi kehangatan kakinya padaku. Dengan mata masih mengantuk, dia berusaha “menyelimuti seluruh telapak kakiku dengan telapak kakinya”.

Ada banyak kejadian di dunia ini yang terjadi begitu sepele dan mungkin pada banyak orang menganggapnya biasa saja. Atau memang sudah seharusnya terjadi. Atau menganggap itu sebagai sesuatu yang tidak penting.

Matahari yang bersinar setiap hari.

Hujan yang turun rintik-rintik di malam hari.

Angin yang berhembus di siang hari.

Air yang mengalir menuju ke laut.

Burung-burung yang berkicau di atas dahan.

Ayam-ayam yang berkokok di pagi hari.

Apa ada yang aneh dengan semua itu? Pada beberapa orang mungkin itu hal yang biasa saja. Tapi... bagaimana jika suatu hari nanti, ternyata itu semua tidak ada? Bagaimana jika suatu hari nanti semua hal yang terjadi secara rutin ternyata tidak kita temui lagi?

Bagaimana jika suatu hari nanti kita tidak pernah bisa melihat matahari yang terbit lagi? Atau merasakan hujan yang turun rintik-rintik di malam hari? Dan bagaimana jika air tidak dapat lagi mengalir menuju ke laut? Dan semua burung-burung sudah musnah hingga tidak terdengar lagi kicauan mereka di atas dahan. Hingga pagi berlalu dalam senyap dan datar karena tidak ada lagi ayam-ayam yang berkokok.

Itu pasti suatu hari yang mengerikan. Aku tidak mau membayangkan sejauh itu. Aku adalah perempuan yang sederhana. Maka, semua kejadian sederhana yang terjadi di sekelilingku menjadi terasa begitu istimewa. Akumenganggapnya selalu istimewa. Dan aku mencintai ke –istimewaannya. Aku bahagia ketika ada seseorang yang bersedia membagi kehangatan kakinya untuk tempat kakiku mendapatkan kehangatan yang sederhana. Aku bahagia ketika ada seseorang yang bersedia membagi senyumnya yang tulus dan memberikan sebuah origami burung bangaunya yang sederhana padaku sambil berkata lirih, “I love you, ibu.”.
Aku bahagia ketika ada seorang yang berdiri memberi bangku di dalam bus yang sesak. Aku bahagia ketika suamiku membelikanku sebuah arem-arem isi ayam cincang yang tidak pedas di depan restoran besar tempat kami menunggu kendaraan umum. Pendeknya, ada banyak hal sederhana yang aku anggap istimewa dan itu ternyata menghadirkan rasa bahagia yang amat dalam.

Mungkin, ini hanya mungkin.

Mungkin, jika aku meminta untuk dipetik rembulan yang indah di malam hari agar bisa rembulan itu bisa aku peluk, suamiku akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Aku yakin itu. Tapi... itu hanya membuat aku sedikit merasakan kepuasan untuk kemudian segera merasa haus kembali. Keinginan dalam diri seorang perempuan terkadang tidak bisa jika hanya ditampung dalam dua telapak tangannya. Selalu perlu wadah yang lebih luas, lebih lebar dan lebih banyak lagi untuk menampungnya. Lalu seluruh raga terpaksa harus bekerja lebih giat lagi untuk memenuhi semua wadah-wadah yang kosong tersebut. Tapi apa yang terjadi setelah semua wadah itu diisi penuh? Ternyata, masih tetap ada rasa ingin mendapatkan yang lebih banyak lagi, dan lebih besar lagi.

Jadi, memilih untuk menjadi seseorang yang sederhana memang bisa membuat diri menjadi cepat bahagia.
Tapi, menghargai semua kesederhanaan yang ada di sekeliling kita, membuat segalanya terasa menjadi istimewa.
Dan puncak dari segalanya, mensyukuri semua yang diberikan oleh Allah, baik yang sederhana maupun yang rumit, adalah anak tangga menuju pribadi yang senantiasa bahagia.

Hmm.. . aku sedang belajar untuk menuju ke sana. Dan ternyata aku masih berada di anak tangga paling bawah. Semoga tahun depan akan semakin baik usaha pembelajaran ini.




===================
Penulis: Ade Anita
(P.S: Maaf, ternyata aku tidak bisa membantumu teman. Aku juga bingung bagaimana menjelaskan padamu untuk mendapatkan yang kamu tanyakan itu. Tapi aku berdoa agar kamu memperoleh kebahagiaan di hari-hari mendatang. Aamiin.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...