badge

Kamis, 29 Desember 2011

Dia yang kusayang

Entahlah. Setiap kali melihat dia datang, saya selalu merasa memiliki rasa sayang yang berlimpah yang tiba-tiba tumbuh dan memenuhi seluruh isi rongga dada saya.
Perempuan itu, perempuan hitam manis dengan tubuh yang langsing. Setiap hari dia datang dengan keringat yang berbutir-butir di seluruh permukaan pelipis dan wajahnya. Saya tidak pernah melihatnya marah, menggerutu atau memasang wajah sedih. Dia selalu terlihat tabah dan bahagia.

"Ayo nak, kita masuk kelas ya sekarang."
"Ayo nak, sudah jangan berbuat seperti itu lagi, kamu melukai hati ibu jika kamu melakukan itu sayang."

Seluruh kalimat yang dia ucapkan selalu merupakan kalimat sejuk yang disertai kesabaran yang tinggi. Dia, perempuan itu, perempuan hitam manis dengan tubuh yang langsing. Dia adalah ibu dari seorang anak lelaki berusia delapan tahun yang meski sudah berusia delapan tahun tapi masih duduk di kelas B Taman Kanak-Kanak. Ya, putra perempuan itu menderita Autis.

Setiap pagi, anaknya hanya duduk berjongkok menatap roda sepeda motor yang bisa diputar karena motor yang diparkir memang selalu membuat sebelah rodanya terangkat hingga bisa diputar dengan sebelah jemarinya. Mata mungil itu selalu serius menatap tak berkedip roda motor yang diputarnya. Dengan sabar, si ibu setiap hari, setiap pagi, membujuk anaknya agar mau masuk kelas dan mengikuti pelajaran.

Diam-diam, aku selalu menyimpan haruku ketika sedang bersamanya. Aku tahu, dia tidak ingin aku memperlihatkan rasa haruku.
"Anak saya ditolak dimana-mana karena menderita Autis. Ada sekolah khusus Autis, tapi harganya tidak bisa dijangkau oleh kantong kami. Jadi, biarlah kami menyekolahkan Rayhan disini saja. Biar saja dia tua sendiri di kelasnya, yang penting dia perlahan bisa mengerti bagaimana ketika harus berbaur dengan orang lain. Saya tidak suka jika orang lain memandang kasihan pada anak saya. Seakan-akan, anak saya itu tidak waras. Anak saya cerdas, sungguh dia cerdas, hanya saja dia terlahir sebagai anak yang istimewa."

Jadilah setiap hari saya bertemu dengan Melur (bukan nama sebenarnya) karena anak saya memang satu sekolah dengannya lalu menyaksikan kehebatan ibu yang satu ini dalam mengasuh anaknya.

Rayhan (bukan nama sebenarnya juga) sering membentur-benturkan kepalanya ke dinding jika apa yang dia inginkan tidak dimengerti oleh orang lain. Mungkin dia kesal karena orang lain tidak juga mau mengerti apa yang dia maksud padahal dia merasa sudah berusaha menyampaikannya dengan bahasa diam dan gerakan-gerakan tertentunya. Jika sudah begitu, apalagi jika kepalanya sampai berdarah karena dibenturkan terlalu keras ke dinding, Bu Melur hanya bisa memeluk erat tubuh putranya yang bahkan sedikit lebih besar ketimbang tubuhnya sendiri. Menahannya agar Rayhan tidak lagi membenturkan kepalanya di dinding atau pintu atau meja kayu, sambil tidak lupa membujuk Rayhan dengan rentetan kalimat permohonan.

"Jangan sayang, jangan lakukan itu lagi ya sayang. Ibu sedih setiap kali kamu melakukan itu. Ibu ada disebelahmu, katakan apa yang kamu inginkan tapi jangan sakiti dirimu nak."

Setelah kalimat permohonan itu diucapkan berulang kali, barulah Rayhan mengehentikan kegiatannya membenturkan kepalanya dan menatap sang ibu dengan pandangan kosong tidak berkedip.

Suatu hari, Melur datang padaku dengan wajah sedih. Melur tidak pernah memiliki wajah sedih, tapi hari itu dia sungguh nyata datang padaku dengan wajah sedihnya. Hampir saja aku menyangka dia telah salah menyeka wajahnya dengan handuk yang tertinggal wajah sedih milik orang lain yang sebelumnya telah menyeka wajahnya dengan handuk yang sama.

"Bu Melur, kenapa?"
"Aku hamil."

Pada banak perempuan, kehamilan adalah sebuah berita gembira yang amat dinanti-nanti. Tapi ternyata hal ini justru sesuatu yang tidak diharapkan oleh Bu Melur.

"Bagaimana aku mengurus Rayhan jika aku hamil dan punya bayi lagi?"

Duh... sebuah takdir yang tidak bisa dihindari. Hingga sembilan bulan kemudian, sang bayi lahir. Rayhan tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Tapi, di hari ke delapan, tiba-tiba Bu Melur hadir dengan Rayhan dan bayinya ke sekolah kembali.

"Waah, belum 40 hari, kok sudah jalan-jalan?"
"Iyah, Rayhan terus menerus membenturkan kepalanya di rumah karna ingin sekolah." (lalu aku melirik kepala Rayhan yang dililit perban putih)
"Aku juga sebenarnya repot, tapi nggak ada pilihan sepertinya. Nggak papah deh, mungkin memang sudah takdir aku ya."

Lalu pemandangan harian yang dulu sering aku lihat terjadi di sekolah terjadi lagi. Rayhan yang sering asyik memutari roda motor guru kelasnya, terus menulis tanpa mau berhenti, dan semua bujukan-bujukan yang terus terucap. Menjelang siang, barulah mereka bertiga pulang. Aku meminta izin untuk ikut mengantar sahabatku ini hingga ke rumahnya yang ternyata amat jauh dari sekolah. RUmahnya ternyata amat sederhana. Seluruh dinding rumahnya tampak retak dan catnya terkelupas atau pecah. Beberapa noda darah kering tampak menghiasi dinding tersebut. Aku tahu siapa pemilik noda darah itu.

"Maaf ya rumahnya kecil dan jelek." Aku hanya tersenyum. Tidak peduli sebenarnya, apapun bentuk fisik rumah sahabatku ini. Menjelang siang, aku pun panik pulang. Tapi sebelum pulang, aku sempatkan untuk merentangkan kedua tanganku lebar-lebar agar bisa memeluk erat tubuh mungil sahabatku ini (tapi inipun tidak bisa karena luka bekas operasi caesar di perutnya masih tertutup perban putih, yang bahkan tampak sedikit ada noda darah karena luka jahitan yang sedikit tergores, karena Rayhan, menurut akuan Bu Melur, mengamuk dua hari yang lalu).

"Kamu tahu Bu Melur, aku sayang sekali dengan dirimu. Kamu hebat banget, kamu selalu memberiku inspirasi tentang arti perjuangan seorang bunda yang sebenarnya."

"I Love You sister, love you cause Allah, semoga kamu selalu diberkahi." Bu Melur tidak menjawab ucapanku, tapi aku merasa pelukanku dibalasnya. Kedua tangannya erat melingkari pinggangku. Dan dia menangis di pelukanku. Sungguh-sungguh menangis. Padahal, selama ini dia tidak pernah menangis. Dia, perempuan hitam manis bertubuh mungil yang senantiasa tabah dan senantiasa kuat.
----------------------
Penulis: Ade Anita (ini kisah nyata yang terjadi beberapa tahun yang lalu; teringat kembali di ingatanku karena hari ini aku mendapat teguran dari seorang sahabatku).
----------------------
statusku hari ini:



Ade Anita
ternyata.. aku baru tahu bahwa ada yang lebih asyik ketimbang main game dan facebook. Yaitu menggambar... aduh... makin autis nih gara2 corat coret bikin gambar..... pantas anak kecil suka banget coret dinding rumah ortunya (untung bukan anakku, kalo anakku, begh.. udah aku suruh coret rumah orang lain kali). Udah ah.. kembali berautis ria deh.. ngegambar dulu..Like · · 10 hours ago


Fitri Andriani, Ndaru Wulansari, Fajar Alayubi and 3 others like this.


Kartini Bhethawee dgn corat-coret bs membuka sebuah inspirasi, dan mengeluaran uneg2 lewat sebuah coretan... :)
10 hours ago · Like


Yulianti Wikanto Mau dong De, digambarin :)
10 hours ago · Like

Ade Anita nah loh...mo digambarin apa mbak cantik?
9 hours ago · Like


Yulianti Wikanto Mau gambar apa aja..asal dibikinin sama Ade ;)
8 hours ago · Like


Fitri Andriani iya mbak....sepakat deh! aq dl,ktka masa pencarian jati diri...melukis&menggambar adalah pelarian dr suntuknya hati&tmpat curahan segala rasa....warna warni.
6 hours ago · Like · 1


Delete commentMark as spam

Witri Sansris Mba ade sayang, pernah suatu kali dlm pertemuan orang tua murid d sklhan anakku, ada seorang ibu mengingatkan atau mungkin lbh tepat menghimbau, jangan gunakan istilah "autis" dlm bhs gaul kita sehari2, krn bagi dia yg anaknya menderita kelainan itu, terasa "teriris" hatinya ketika membaca or mendengar orang dg ringan mengucapkan itu, smtr dlm hatinya ia berkata, "andai mrk tau perjuangan aku, anakku, betapa tdk mudah".
Aku pun setuju, yuk mba, ajak teman2 utk mulai berhenti menggunakan istilah spt itu. Maaf
5 hours ago · Like

Ade Anita
dapat teguran dari seorang sahabat agar tidak menggunakan kata 'autis' dlm bahasa gaul (utk menyebut kegiatan menyendiri). karena kita sepatutnya menjaga perasaan para ortu yang anaknya menderita autis. Perjuangan mereka tentu tidak mudah. Sebuah nasehat yg indah sekali (terima kasih ya sudah mengingatkan.
Teman yang tersinggung dengan bahasa gaul "autis" yang saya pakai selama ini, maafkan saya ya... janji deh, setelah ini tidak akan lagi memakai kata "autis" dalam bahasa gaul saya.Like · · 26 minutes ago


Triyan Tri, Slamet Hidayat Wikarto, Indrie Matrie and 3 others like this.


Hasanudin H Syafaat kata gantinya apa?
25 minutes ago · Like

Ade Anita ini lagi dipikirin... bersemedi? bertapa? menyendiri?
24 minutes ago · Like


Hasanudin H Syafaat ber uzlah :)
23 minutes ago · Unlike · 1


Tras Rustamaji anti sosial?
23 minutes ago · Unlike · 1


Delete commentMark as spam
Dzunnun Amrullah alienasi diri
23 minutes ago · Like

Ade Anita ‎Tras Rustamaji: nah.. itu lebih keren ya.. ansos..
23 minutes ago · Like

Like · · Unfollow post · Share · Delete
Rika Risnawati, Andikha Mirza Gangga, Amalia Dewi F and 40 others like this.
1 share
Ade Anita semua yang ngelike.. makasih ya...
15 November at 22:52 · Like

Maya Chandra Terima kasih .. :)
15 November at 22:54 · Like

Syifa Qurrota A'yun Mb Ade,aku kebetulan punya sahabat yg putrinya(berumur 9 th)menderita autis dan orang tua tunggal(suaminya meninggal).Aku tahu kesulitan yg dialaminya.Karena masalah utama autis adalah ketidakmampuan berkomunikasi,maka mslh biasanya timbul ...See more
16 November at 00:00 · Like

Eni Martini aku membacanya lewat hp jadulku
kisah sedih yg menguatkan
peluk buat 'melur'
tulisan ini mengingatkan aku sama mba linda,org yg pertama kali meng-sms-ku krn aku pernah menggunakan kata 'autis' dan sejak itu seingatku aku sdh tdk menulis2 sbuah kegiatan sdiri-asyik-khusuk sbg autis-nya bhs 'gaul'
16 November at 00:05 · Like

Shabrina Ws mengingatkan sy dg murid sy dulu. Rama dan Bunga. bukan nama sebenarnya.skrg mrk dah SD dg prestasi yg bagus. insyaAlloh Rayhan juga bisa begitu.

dan, ya. sebaiknya memang tdk menggunakan kata itu.
16 November at 00:43 · Like

Sari Viciawati setuju mbak... saya bukan autis, tapi konsentrasi tinggi (liatin hape) :p
16 November at 03:38 · Like

Asagi Enpitsu T_T bener2 inspirasi,mbk..jazakillah,yaa
16 November at 05:26 · Like

Leyla Imtichanah Mba Ade ini ya... padaha di Be a Writer pernah ada yang mengingatkan juga lho supaya gak pake kata autis untuk maksud yg lain, mungkin Mba Ade gak baca, hehe... Sedih baca ceritanya. Kayaknya cerita mba ade bisa dikumpulkan jadi catatan inspiratif.
16 November at 07:01 · Like

Astrid Septyanti Fuyuharuaki kereeeeen....
berapa kali (sering) dulu saya bertemu dg anak-aak berkebutuhan khusus. bener2 menyayat hati. beruntung kalau orang tuanya menyadari bahwa anak itu titipan, tidak sedikit orang tua yang menganggap anak itu ""musibah". semoga tulisan ini membawa banyak hikmah untuk diresapi y mbak. makasi tagnya.... :)
16 November at 07:32 · Like

Miyosi Ariefiansyah ya Allah... sy jd teringat seorg ank sedihhh T.T
16 November at 07:33 · Unlike · 1

Fifin Andriyani jadi teringat putra temanku. tapi mereka pintar lho mbak ade...satunya malah sudah sma. tulisan yang kereen... :)
16 November at 10:04 · Unlike · 1

Astia Zaibi kalo adeknya rayhan msh bayi smp skr , kasih ia ajah..heheheehe..sedih yha ? jd keinget sm wanda anknya om pendi dan gmana om pendi sm istrinya sabar ngadeppin dia..#btw pengganti autis plg bener ansos;anti sosial#
16 November at 11:00 · Unlike · 1

Fitri Gita Cinta Y_Y

*speechless*
16 November at 18:59 · Unlike · 1

Anne Adzkia Indriani Sedih bacanya...aku pny pengalaman mirip,ttg adikku. Rasanya sedih klo ϑi angkot ssorg menatap adikku dgn pandangan 'tidak biasa'. Rasanya dia sdg bilang 'org yg aneh'. Adikku sudah 21 thn, dan dia msh spt anak usia 4-5 thn. Mohon doanya jg mbak Ade,semoga Allah memberi yg terbaik utk Rayhan, adikku dan org2 -istimewa- spt mereka...
16 November at 21:57 · Unlike · 3

Batavia Jayakarta · 15 mutual friends
AMIN YAA ALLAH.
17 November at 00:24 · Unlike · 1

Adhy Rical ‎^
kangen sahabat kecilku di laronanga. kedua orangtuanya terpaksa memasungnya. jika tak ada tamu, anak itu dipasung di belakang rumah yang menyerupai gudang. jika tamu datang, anak itu cukup diikat salah satu kakinya di tiang rumah atau me...See more
17 November at 07:07 · Unlike · 1

Nurul Asmayani T_T Titip peluk buat Mba Melur Mba. Semoga Allah mengganti jerih payahnya dengan pahala.
17 November at 08:04 · Unlike · 1
Ade Anita to All.. maaf baru online sekarang jadi baru lihat semua komentarnya hari ini... ternyata, anak-anak istimewa itu terdapat di hampir sekeliling kita ya.... itu artinya, orang tua yagn istimewa juga terdapat di sekeliling kita... semoga kita bisa belajar dari kesabaran dan kearifan mereka dalam berusaha dan berpikir... makasih semua
17 November at 15:38 · Like
Ade Anita ‎Nurul Asmayani: aku dah lama nggak ketemu Mbak Melur, rumahnya jauuuhh... dia dlu menyekolahkan anaknya di dekat rumahku karena hampir semua sekolah "biasa" yang "murah" di dekat lingkungan rumahnya tidak ada yang mau menerima anaknya... seharusnya, jika semua baik-baik saja, Rayhan sudah berusia 15 tahun...
17 November at 15:40 · Like · 1
Ade Anita ‎Anne Adzkia Indriani: *peluk anne... aamiin, semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk Anne sekeluarga dan kemudahan untuk adikmu dalam mengarungi kehidupan ini....
17 November at 15:41 · Like
Ade Anita ‎Astia Zaibi: ade dah nggak ketemu rayhan dah lama.. seharusnya dia dah berusia 15 tahun sekarang, berarti adik bayinya itu berusia kira-kira. sekarang... 7 tahun ya....
17 November at 15:42 · Like
Ade Anita ‎Fifin Andriyani: makasih fin
17 November at 15:42 · Like
Ade Anita ‎Leyla Imtichanah: iya.. itulah dia.. aku tuh nggak bsa aktif tiap hari mantengin BAW.. jadi, terkadang suka ketinggalan berita yang dah tertimbun di bawah... karena begitu aku masuk BAW, yang aku baca yang paling atas, terus di bawahnya, di bawahnya, sampai akhirnya waktu ngenetku habis... hehehehe...
17 November at 15:44 · Like
Ade Anita ‎Syifa Qurrota A'yun: iya... sepertinya para ortu anak2 istimewa itu diberi porsi kesabaran dan ketabahan di atas rata2 orang kebanyakan ya... subhanallah Maha Adilnya Allah SWT
17 November at 15:48 · Like
Ade Anita makasih ya semuanya
17 November at 15:49 · Like
Ade Anita ‎Witri Sansris: aku bikin notes ini karena kamu yang sudah mengingatkan aku... makasih ya
17 November at 15:49 · Like · 1

Astrid Septyanti Fuyuharuaki iya mbak Ade Anita, murid2 saya yang walau hanya 5 orang, semuanya istimewa dg segala kelebihan dan kekurangannya yang seringkali buat saya ngos-ngosan ngajarnya. hehehe
17 November at 16:34 · Like
Ade Anita ‎Astrid Septyanti Fuyuharuaki: waah.. subhanallah..luar biasa tuh astrid... jadi insya Allah kamu terbebas dari kelebihan lemak nantinya.. hehehe... tetap semangat ya astrid
17 November at 16:35 · Like

Astrid Septyanti Fuyuharuaki hehehe...iya mbak....ngajarin satu-satu. kerjaan tiap hari muter-muter dari satu bangku ke bangku lainnya.... tetep semangat, habis tiap hari ketemu mereka pulangnya senyuuuuum terus. meski capeknya g ketulungan. :)
17 November at 16:40 · Like
Ade Anita seru tapi ya astrid..
17 November at 16:41 · Like

Astrid Septyanti Fuyuharuaki iya mbak. kalau pas giliran saya libur mengajar tapi main ke sekolah, mereka dari jauh pasti udah berlarian menghampiri sambil teriak-teriak dan merenggangkan tangan bersiap memeluk saya. ah, bahagianya ada di sekeliling anak-anak...
17 November at 16:42 · Like · 1

Hairi Yanti iya mbak... ynt juga meninggalkan kata autis buat bahan becandaan. Pernah baca blog seorang ibu yang anaknya autis.. dan menyerukan orang2 agar memperhatikan perasaan mereka agar jangan menjadikan kata autis sebagai bahan bercanda. Di sana ...See more
18 November at 07:08 · Like

KembaRa Gelungan Hitam ya ada baiknya saran itu memang demikian mba ade,,, merumpamaan lain masih banyak selalin kata autis,,, ty inspirasinya
18 November at 08:23 · Like
Ade Anita iya yanti.. aku langsung nurut kok
19 November at 13:13 · Like

Amalia Dewi F mbak Ade Anita, makasih sudah membuat tulisan ini dan aku di taq pula. Sebagai ibunda dari anak yang autis, tentu aku pun tak rela istilah itu digunakan seenaknya. Tidak ada yang lebih istimewa dari anak-anak autis. Mereka lebih bisa melihat dengan detail segala alur kehidupan di sekitarnya, yang mana kita sering abai terhadap hal itu.
20 November at 13:13 · Like

Cepi Sabre saya setuju soal 'autis' itu, mba ade. ada beberapa kata yang memang bisa kita pilih dengan lebih bijak untuk tidak menyinggung orang lain. saya sendiri masih sering terpeleset dengan ini. kita semua juga saya rasa.
21 November at 15:53 · Like

Tyasti Aryandini ibu istimewa untuk anak istimewa, there's always a great mother behind a great children....subhanallah, nangis bombay baca note mbak Ade ini hiks....hiks..
24 November at 00:29 · Like

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...