Si Anak BOngsor

Ini ceritaku tentang kejadian kemarin siang. Senin, 4 oktober 2011.Ketika matahari bersinar terik dan awan mendung cepat sekali berlalu terbawa angin yang berhembus. Kejadiannya di sebuah tempat di wilayah Jakarta selatan.

Aku menunggu bersama anak bungsuku dengan rapi di sudut bangku tunggu bagi para pengantar. Rata-rata ibu-ibu yang menunggu anaknya ikut kursus di tempat itu adalah ibu-ibu yang keren-keren. Tas yang bermerek, sepatu yang keren, dan dandanan yang keren abis.

Beberapa di antara mereka menggenggam BB dan Android Tablet sekalligus. Benar-benar menunjukkan kelas bahwa mereka bukanlah ibu-ibu dari kalangan yang sembarangan. Seorang ibu menatapku sambil tersenyum. Ragu-ragu, aku masih mempertimbangkan harus membalas senyumnya apa tidak ya? BUkan apa-apa, tapi dia mengenakan kacamata hitam lebar dari merek terkenal. Karena hitam, aku tidak bisa menebak dia sedang menatap ke arahku atau ke arah lain. Ini sama saja seperti menebak orang yang memiliki mata juling. Tapi ibu keren mentereng ini sudah pasti tidak bermata juling. Akhirnya aku membalas senyumnya. Tapi rasanya terlambat, karena si ibu ini sudah langsung melengos ke arah lain.




Ya sudahlah. Mungkin dia memang menatap ke arah lain, bukan ke arahku. Salah sendiri, kenapa tidak dilepas kacamatanya? Aku membela diri dalam hati.

Sementara anak bungsuku bergelayut manja di ujung lenganku sambil menatap anak-anak yang berseragam sama, kaos dengan lambang tempat kursus.

Akhirnya, yang ditunggu datang. Seorang ibu guru yang masih muda. Usianya belum 25 tahun sepertinya. Dia langsung menyapa kami dengan ramah. Lalu, sambil mengucapkan kalimat manja dan ramah yang biasa dipakai jika ingin menyapa anak kecil, dia menyapa putri bungsuku.

"Hayoo... jadi siapa nih sekarang yang mau belajar? Sudah siap belum? Yukk.. yang sudah siap belajar, angkat tangannya?"

Aku tersenyum, melirik ke arah putriku dan lalu mengangkat sebelah tanganku. Si ibu guru langsung salah tingkah.

"Eh,.. yang mau kursus siapa?"
"Saya mbak."
"Oh, ibu ya? bukan anaknya?"
"Iya, saya. Anak saya mengantar, karena saya memang tidak ada pembantu di rumah, jadi kemana saya pergi dia ikut."
"Oh... eh... aduh, tapi ibu nggak apa-apa kan kalau teman-teman sekelasnya nanti anak kecil semua?"

Ibu guru itu menunjuk anak-anak kecil yang sedang asyik bermain berlari-larian.
"Nggak apa-apa. Memang kemampuan saya masih sama dengan mereka kok mbak, jadi saya nggak keberatan."

Akhirnya, kelas dimullai. Aku duduk di salah satu bangku yang... hmm.. amat mungil dan amat kecil untuk ukuran tubuhku yang hmm.. amat besar dan tidak bisa dibilang kecil dibanding teman-teman sekelasku. Ketika lututku ditekuk, lututku menyentuh ujung meja. Tapi syukurlah bangkunya terbuat dari besi yang kuat, bukan dari plastik. Jika tidak, pasti teman-teman sekelasku mentertawakan aku jika aku sampai jatuh terjengkang dari bangku yang patah kududuki.

Lalu, pelajaran dimulai.

Astaga. Ini asli seperti adegan film Kinder Garten Cop dimana Arnold menjadi guru taman kanak-kanak. Bedanya, aku bukan menjadi guru taman kanak-kanak, tapi menjadi salah satu murid di taman kanak-kanak itu.
Bedanya lagi, teman-temanku tidak ada yang jahil... heheheh...(*jika saja ada, mungkin seru juga kali ya?).



Akhirnya... traraa.... aku berhasil menyelesaikan misi pertama, menggambar wajah aneka macam binatang tampak dari depan. Aku pandangi hasil gambarku dengan hati yang amat puas dan penuh rasa bangga.
Aduh.. ini hasil gambarku sendiri! Hasil belajar dua jam pertamaku!






Lalu dengan penuh rasa bangga dan dada membusung serta kepala mendongak, aku melihat ke kiri dan ke kanan. Dengan maksud untuk memamerkan hasil gambarku pada teman-teman sekelasku...
tapi....
Astaga!
Gambar-gambar teman-temanku ternyata jauhhhhhhhhhhhhh lebih canggih. Sementara aku selama dua jam pertama berhasil menggambar wajah enam ekor binatang yang berbeda tampak dari depan, mereka semua dalam dua jam sudah berhasil menggambar sebuah ilustrasi cerita.... ada binatang yang sedang menyetir mobil di tengah lalu lintas yang padat... ada binatang yang sedang bergelayut di antara dahan pohon di hutan belantara... bahkan ada aneka binatang yang sedang merayakan pesta ulang tahun!! Lengkap dengan gradasi warna yang mentakjubkan!

IH!... mau jadi apa anak jaman sekarang kok pada pandai-pandai ya??

Akhirnya, aku batalkan rencanaku memamerkan hasil karya pertamaku. Malu sendiri karena cuma gambar sederhana dibanding gambar mereka. Padahal, aku murid yang bertubuh paling bongsor di dalam kelas... hahahaha... Diam-diam, buku gambar aku masukkan ke dalam tas besarku. Tapi... ternyata guru menggambarku melihat dan berkata: "Sudah selesai? COba lihat hasilnya?"

Aduh! DEG! Malu, aku sodorkan buku gambarku. Guruku menerimanya dan memperhatikan hasil gambarku dengan seksama.. sementara teman-teman sekelasku melihat hasi gambarku dari arah belakang punggung guruku sambil..... cekikikan!

HAH!

Yang bisa aku lakukan menghadapi mereka hanya tersenyum, sambil mengangkat dua buah jari, telunjuk dan jari tengah, lalu berkata, "peace"... qiqiqiqiqiq.... teman-teman kecilku langsung tertawa.... akhirnya... kami jadi akrab.

---ceritapun selesai... mungkin bersambung pekan depan atau lain kali---
Penulis: Ade Anita, seorang murid tertua di kelas menggambar untuk usia 4-8 tahun (hahahahahaha)

Catatan tambahan:
- Sampai di rumah, jiwa narsisku terus menggelegak. Jadi, aku menunggu suamiku muncul di depan pintu sambil menyembunyikan hasil gambar pertamaku. Begitu dia muncul, TRA RA!.. aku langsung memamerkan hasil gambarku padanya. Dia tersenyum, lalu memuji gambarku. Dia bilang bagus sambil tersenyum bangga.
Uhh.... Rasanya senangggg sekali.. asli seperti melambung. Terus jadi semangat deh buat berlatih biar jadi lebih bagus.... jadi, sekarang aku tahu, kenapa para orang tua diharuskan mengapresiasi hasil karya anak-anaknya dengan baik... SUMPAH deh, itu bikiin senang dan semangat!

Tidak ada komentar