Langsung ke konten utama

cerita garing: main tebak-tebakan

Putri bungsuku belum berusia 6 tahun memang meski dia sudah duduk di kelas 1 SD. Tapi, dia sudah merasakan duduk di bangku TK cukup lama, 2 tahun, bosan juga jika harus TK lagi. Itu persangkaan awalku ketika akhirnya memutuskan memasukkan dia ke Sekolah Dasar. Untuk sekolah dasar negeri, jelas saja tidak diterima karena sekarang SD menghendaki anak didik harus sudah berusia 6 tahun di tanggal juli. Hanya sekolah dasar negeri Standard Nasional yang sedikit longgar, jadi kurang dari 6 tahun boleh masuk SD. Batasnya di bulan desember akhir tahun dia masuk itu, usianya sudah 5 tahun 8 bulan. Sayangnya kelonggaran inipun putriku tidak lolos karena dia lahir di bulan Januari. Akhirnya masuklah dia ke SD swasta.




Belakangan, baru aku menyadari satu hal. Ternyata, untuk usia seperti putriku ini, untuk duduk serius sebagai anak SD memang sulit. Hal ini dikarenakan pemikirannya yang masih dilingkupi dengan kegiatan main-main saja. Segala sesuatu dalam kacamata Putriku adalah tempat bermain yang luas. Jadilah aku harus mengimbangi pemikirannya. Seperti mengajarinya untuk memahami pelajaran dengan cara membuat seolah-olah pelajaran tersebut adalah salah satu bentuk permainan misalnya.

"Nak, kita main tebak-tebakan yuk."
"Ayo."
"Ibu yang mulai dulu ya. Coba tebak, bagian dari tubuh kita nih, bentuknya bulat, warnanya ada dua, bisa digunakan untuk melihat. Tebak apa?"

Walhasil, putriku ini jadi seorang penggemar tebak-tebakan. Hanya saja mungkin bagi orang lain tebak-tebakannya rada-rada garing kali ya. Karena sebenarnya tanpa dia sadari versi tebak-tebakannya adalah baju lain dari cara memahami materi pelajaran di sekolah. Tapi sudah. Sstt..., nggak usah dikasi tahu ke dia ya fakta yang satu ini.

Saking gemarnya main tebak-tebakan, jika ada waktu luang dimana saja, maka hal yang satu ini akan dikejarnya. Jika sedang antri di kasir,

"Bu, main tebak-tebakan yuk. Ibu yang kasi pertanyaan, aku yang jawab."

Atau ketika sedang berada di dalam kendaraan dan terjebak macet di jalanan,

"Bu, main tebak-tebakan yuk, aku jawab ibu yang kasi pertanyaan."

Jika formasi dia sedang komplit dengan kakak-kakaknya, tak jarang kakak-kakaknya ikut permainan kami. Hanya saja pertanyaannya mungkin agak sedikit advance.

"Tebak, bentuknya pasti - ada bijinya - ada rambutnya -basah? Ayo apa?"

Putri bungsuku melongo. Apa?

"Rambutan kesiram air."

"Ban apa yang bisa dipakai di kepala?"

Putri bungsuku protes.
"Mana ada ban yang yang bisa dipakai di kepala. Pusing dong nanti orangnya."

"Ada yee. Ban-do."

Akhirnya, main tebak-tebakan sekarang jadi benar-benari garing kriuk..kriuk 100% asli. Hingga tanpa sadar, putriku mulai terbiasa dengan pertanyaan konyol dan... HUPLA... Dia pun mulai bisa ikut memberi pertanyaan. Dia jadi pandai main plesetan kata, suka bercanda, kadang suka rada-rada sok tua (tebak: mana yang lebih dulu, jadi tua karena banyak gaul sama orang tua; atau jadi orang tua karena emang sudah tua?... hehe, nggak ada hubungannya dengan notes ini, jadi nggak usah dipikirin jawabannya).

Hingga dengan bangga kami sekeluarga layak memberinya ucapan selamat : "Welcome to Garing's Family."

Adapun kisah main tebak-tebakan di keluarga kecilku, masih story continue. Apalagi jika sedang terjebak di tengah kemacetan Jakarta yang luar biasa, di pertengahan bulan Ramadhan. Mana panas, haus….

"Ayoo… Bentuknya besar, ada belalainya."
"Gajah."

"Gajah apa yang suka bawa gada?"
"Gajah mada."

"Kalo Gajah yang nyebelin?"

......

"Gajah yang dimasukin ke dalam mobil kita pas lagi macet gini. Ih, nyebelin banget kan. Menuh-menuhin aja."

"Iya, itu emang nyebelin. Nah sekarang, gajah apa yang super duper nyebelin."

.....

"Gajah yang begitu sampai rumah, dia turun duluan dari mobil ini terus langsung masuk ke kamar, nyalain AC dan tidur di sana. Sampe kita nggak kebagian tempat. Waaaa.... Nyebelin banget."

"Iya... Asli nyebelin. Enaknya langsung ditembak saja tuh gajah."

"Makanya, jangan mau ditebengin gajah. Ngomong-ngomong, emang ada joki gajah di jalur 3 in 1?"

__________________
Penulis: Ade Anita, intermezzo dikit ah… gerah nih, haus lagi.

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…