Langsung ke konten utama

Melatih Kesabaran

Entah apa yang ada di kepalaku siang tadi. Semula, hanya ingin melihat-lihat saja pameran Kids Expo di Balai Kartini Jakarta tadi siang. Ini hari pertama pameran tersebut. Niat dari rumah, mau mencari sepatu untuk bungsuku. Biasanya harga pameran sedikit lebih murah ketimbang harga toko. Tapi, ternyata tidak ada satupun stand sepatu di pameran anak-anak tersebut. Yang ada hanyalah Istri Gubernur DKI Jakarta (ah, apa menariknya?). Akhirnya, setelah berputar-putar, aku bertemu dengan sebuah stand Kimmi n Friends. Ini sebuah boneka dari kardus yagn tinggal di rumah yang juga terbuat dari kardus dan memiliki aneka perabotan yang amat sangat "cewek" yang juga terbuat dari kardus.







Ibu: "Eh, coba deh, boleh main gratis tuh buat nyoba. Kamu coba, asyik nggak mainnya."
Anak2: "Oke... eh.. asyik bu ternyata."
Ibu: "Mau beli nggak?"
(berhimpun untuk bisik-bisik: nih, segi positifnya, sepertinya mainannya ngajak kita untuk kreatif deh. Tuh, lihat saja, kita diharuskan untuk nyusun sendiri. Terus, kardusnya juga nggak besar. Tapi sisi negatifnya, kamu sudah selesai belum ulangan di sekolahnya? Sudahhhhhhhhhhh... Sip. Kalau gitu kita beli yuk. Asyik buat main boneka-bonekaan sepertinya). Lalu, tanpa terasa, mainan itupun sudah berpindah kepemilikan. Niat dari rumah mau beli sepatu, pulang ke rumah bertambah satu barang bawaan, boneka kardus lengkap dengan rumah dan perabotan yang semuanya dari kardus.

Di taksi:
"Eh, sudah siang gitu, yang beli mainan itu sepertinya belum banyak ya?" (kecurigaan pertama.. ngungg.. ngungg... dianggap angin lalu)

Di rumah, akhirnya mulailah kami cewek-cewek yang sudah tidak sabaran ingin bermain mulai merakit semua kardus-kardus yang Ya TUhan... kecil-kecil banget! dan rumit-rumit banget!...

"Ibuuuuuuuuuu... aku nggak sabaran ah bikinnya." (si kakak)
"Uhhhhhhhhhhhh....!!!" (si ibu)
"Kenapa? Kesel ya? (si bungsu, dengan wajah polos dan mau tahunya.
Catatan: jangan pernah menunjukkan bahwa kita kesal dengan sesuatu yang sedang kita kerjakan. Karena anak akan meniru apa yang kita ekspresikan. Ingat, pointnya adalaH: mengajarkan anak pentingnya sabar dalam menyusun sesuatu yang baru dan sedikit rumit.

Catatan tambahan: "HEI! SIAPA SIH YANG BIKIN CATATAN DI ATAS!! SOK TAHU BANGET!!!"

Nah... inilah kerumitan yang harus kami hadapi sepanjang sore ini.
Ini foto rumah kardus yang berhasil disusun dengan menahan sempalan gundah.




dan di bawah ini, adalah lembaran-lembaran perabotan kecil-kecil yang harus disusun agar bisa menjelma jadi perabotan manis yang cantik. ck...ck..ck.. jangan ditanya bagaimana harus menahan sabar menyusunnya.






nah.. yang pink itu, aslinya harus menjelma jadi lampu meja belajar.. dan ternyata, ada keran air untuk bath tub yang super duper mini yang harus dipasang juga!!!
Bahkan, ada laci lemari untuk nakas mini!!!



Oke... akhirnya... hmm... sepertinya kami baru menyadari kenapa hingga siang, baru kami pembeli pertama yang membeli mainan itu. Asli melatih kesabaran. Kalau tidak percaya? Ayo deh susun sendiri.

----------
penulis: Ade Anita (dan hingga tulisan ini diturunkan, pekerjaan merakit benda-benda mini itu belum selesai..)
Like ·

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…