Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Teristimewa (bagian keempat, bersambung)

Teristimewa lanjutan ke 4
Dari Celah hingga Jalan Raya

I. Celah.
Sebuah lubang yang terjadi tanpa sengaja.
Sebuah lubang tempat kesempatan bisa didapat.
Sebuah kesempatan yang terjadi hanya satu kali.

"Ibu menikah dahulu dengan bapak usia berapa?"
Aku bertanya pada perempuan yang terlihat putus asa di hadapanku ini.
Mungkin ini pertanyaan yang tidak penting.
Bukankah tak berguna bertanya pada daun kering yang tergeletak di atas lumpur, siapa yang menjatuhkannya dari ranting pohon?
Tapi sebuah kenangan cinta yang terekam baik selalu menerbitkan seulas senyum
Dan aku melihat setitik warna merah jambu di pipi yang tirus.

"17 tahun."
"Wah... Sweet seventen dong. Siapa naksir siapa nih?"
Sebuah senyum merekah di wajah tirus yang sumringah.

II. Pelangi
Tujuh warna fantastis yang menghiasi langit yang basah.
Merah yang membara oleh gairah, Hijau yang khusyuk, Jingga yang genit, Kuning yang lembut, Biru yang mengemban rindu, Nila yang tegas, Ungu yang tegar
Semua…

Teristimewa (bagian ketiga, bersambung)

Apa yang disisakan oleh sinar mentari di sore hari?
Mungkin hanya bayang-bayang sepanjang badan
Atau guratan kuning di kaki langit
Tapi bisa juga sebongkah senyum di wajah yang tidak lagi nestapa

Hati manusia memang tidak dapat disangka
Tak cukup hanya menilai seseorang dari seulas senyum yang menghiasi wajahnya
Dan jangan pernah tertipu oleh seraut wajah manis nan menawan
Terlebih jika wajah itu dimiliki oleh seorang penipu

Bertemu dengan penipu adalah hal yang paling menyesakkan.
Rusak binasa bangunan rasa percaya.
Kacau balau hubungan timbal balik yang telah terbina.
Lalu siapa yang harus dipercaya jika rasa percaya sudah dikhianati?
Dan siang itu, tujuh tahun yang lalu, aku tertipu oleh pandangan mataku sendiri.

"Jadi, usia bapak berapa?"
"32 tahun."
"Ah, masih muda. Lalu, ibu sendiri, berapa usianya?"
"29 tahun."
Perempuan dengan tubuh gemetar itu, ternyata memiliki usia yang jauh lebih muda dariku. Aku nyaris salah sangka, menyandangkan ca…

Teristimewa (bagian kedua, bersambung)

Tujuh tahun itu bermula di hari ini.
Hari dimana matahari bersinar amat terik
Laksana pedang yang menghunus hingga menembus ke dalam kulit
Tulang-tulang pun terasa bergemeretak terpanggang kering
Kulit terasa sakit bagai tercubit-cubit

Semua orang merasa gerah
Semua orang juga merasa cemas
Sebilah pisau terhunus tampak sudah bersiap-siap di depan nadi lengan kurus yang gemetar
"Aku mau mati... lebih baik aku mati saja."
"Jangan bu, jangan lakukan itu, ingat Tuhan... Ingat Tuhan."

Pisau itu pun tertahan karena ada kata Tuhan disebut
Lalu mata cekung itu menatap si pencetus kalimat dengan tatapan nanar
"Siapa Tuhan? Dimana Dia saat ini? Suami saya mati meninggalkan saya dan anak-anak begitu saja. Ada orang yang siap menghabisi nyawa kami karena kami punya hutang dimana-mana? Dimana Tuhan saat ini? Mengapa Tuhan membiarkan semua kesengsaraan ini terjadi pada kami? Mengapa? MENGAPA???"

Lalu kaki gemetar yang menopang tubuh kurus itu pun lunglai kehilangan da…

Teristimewa (bagian pertama, bersambung)

Tujuh tahun lalu aku pertama kali bertemu dengannya.
Seorang perempuan biasa.
Rumahnya biasa, rumah sederhana dengan satu buah pintu dan empat buah jendela yang terbuat dari kayu yang sudah rapuh. Beberapa atap rumahnya tampak sudah lenyap. Hingga memberi celah bagi mentari untuk menggantikan bohlam lampu di malam hari. Sebuah bohlam lampu yang ada di tengah ruang tamu adalah satu-satunya bohlam lampu yang ada di rumah tersebut. Jangan pernah pergi ke samping rumah. Karena rumah ini adalah rumah yang istimewa. Empat buah tonggak bambu telah menopang salah satu dindingnya, agar rumah ini bisa tetap berdiri kokoh meski doyong ke samping

Kedua anaknya juga anak biasa. Punya kulit setengah terbakar karena terlalu banyak terbakar sinar matahari karena kegiatan mereka yang memang banyak dilakukan di luar rumah. Membantu bapaknya keluar masuk kampung berdagang cendol. Atau membantu ibu mengambil daun pisang untuk dijual ke pasar tradisional.

Yang teristimewa justru peristiwa ketika aku per…

Teristimewa (bagian pertama, bersambung)

Tujuh tahun lalu aku pertama kali bertemu dengannya.
Seorang perempuan biasa.
Rumahnya biasa, rumah sederhana dengan satu buah pintu dan empat buah jendela yang terbuat dari kayu yang sudah rapuh. Beberapa atap rumahnya tampak sudah lenyap. Hingga memberi celah bagi mentari untuk menggantikan bohlam lampu di malam hari. Sebuah bohlam lampu yang ada di tengah ruang tamu adalah satu-satunya bohlam lampu yang ada di rumah tersebut. Jangan pernah pergi ke samping rumah. Karena rumah ini adalah rumah yang istimewa. Empat buah tonggak bambu telah menopang salah satu dindingnya, agar rumah ini bisa tetap berdiri kokoh meski doyong ke samping

Kedua anaknya juga anak biasa. Punya kulit setengah terbakar karena terlalu banyak terbakar sinar matahari karena kegiatan mereka yang memang banyak dilakukan di luar rumah. Membantu bapaknya keluar masuk kampung berdagang cendol. Atau membantu ibu mengambil daun pisang untuk dijual ke pasar tradisional.

Yang teristimewa justru peristiwa ketika aku per…

Bola Mata Penuh CInta

"Hei you...."

Aku menyapa pemilik sepasang bola mata itu. Sedari tadi aku tahu dia terus menerus memandangku diam-diam tapi tiada putus. Pemilik sepasang bola mata itu langsung tersipu-sipu malu. Wajahnya merona merah jambu, senyumnya langsung mengembang malu-malu. Menggemaskan.

"Ada apa sih, dari tadi ngeliatin terus?"

"Eh...nggg... Nggak papah."

Lalu wajah itu kembali terlihat dibuat serius melihat jalanan yang terbentang di depan. Aku tahu dia hanya berpura-pura serius menekuri jalanan.
Itu sebabnya tidak bertahan lama.
Beberapa menit kemudian, aku tahu mata itu sudah kembali menatapku diam-diam.

Uh.
Tidak bisa dibiarkan. Aku kan lama-lama penasaran ditatap diam-diam dengan pandangan sayu penuh kerinduan itu. Dalam hitungan detik, aku berbalik tiba-tiba dan memaksa agar bisa saling berhadapan dengan orang yang ada di sampingku sejak tadi ini. Yang diam-diam terus menatapku dengan pandangan yang membuat hati berdebar-debar dengan cara pandang yang sayu …
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...