Langsung ke konten utama

terima kasih

Terima kasih
by Ade Anita on Sunday, 12 September 2010 at 10:03

Terima kasih kompor, karena selama bulan Ramadhan nggak pernah rewel, kehabisan gas di waktu yang tidak tepat dan semua kegiatan masak memasak lancarrrr... serta nggak bikin panik, bahkan setelah acara besar lebaran hari pertama (masak besar untuk bantu halal bihalal keluarga).


Ehem... dispenser... contoh kompor gas. Ramadhan tahun ini kamu sempat bikin ulah ya. Masa habis tepat jam setengah empat pagi... kasihan tuh anak-anakku cuma minum dua gelas pas sahur. Kamu tahu sendiri kan, semua warung nggak mau bukain pintu untuk ngejual air minum botolannya, apalagi jual air minum galon yang mesti diantar ke rumah. Pokoknya, tahun depan jangan sampai terulang lagi ya.

Terima kasih alarm yang selalu bangunin tiap malam tanpa kenal lelah. Maaf di awal bulan Ramadhan kemarin sempat meragukan suara teriakanmu yanga terdengar kurang menyebalkan alias terdengar terlalu kemayu dan lembut untuk sosok alarm pembangun sahur. Tapi... ternyata suaramu perkasa juga ya. Good job alarm. Teruskan usahamu.

Terima kasih air tanah, karena tidak kering mendadak. Terus mengalir lancar. Jadi semua ibadah jadi lancar dan semua kegiatan sehari-hari tidak ada yang terganggu.

Terima kasih tukang sayur, karena tidak memaksa untuk membeli sayur seperti biasanya. Cukup dengan kode alis terangkat, sudah mengerti bahwa aku sedang tidak ingin belanja.

Terima kasih Matahari, karena tidak bersinar terlalu terik dan bikin cepat haus dan lelah.
Terima kasih hujan, karena rajin turun berselang-seling dengan panas. Dengan begitu persediaan air tanah terus tersedia, udara jadi sejuk jadi kami bisa menjalankan puasa dengan tenang dan sejuk.... mau tidur, tinggal merem, nggak usah ngipas-ngipas dulu.

Terima kasih tanaman, karena bisa mandiri nyari makan dan minum sendiri lewat matahari dan hujan. Jadi, aku nggak usah cape-cape nyiram tiap hari.

Terima kasih tetangga-tetanggaku karena pengertian nggak ngajakin ngerumpi yang nggak-nggak.

Dan special terima kasih untuk anak-anakku. Yang tidak menyusahkan dan senantiasa manis dan baik hati selama ramadhan ini. Terima kasih karena langsung membantu begitu dengar suruhan suara pertama (jadi ibu bisa hemat tenaga nggak usah berkali-kali nyuruhnya). Terima kasih karena nggak bikin emosi selama ramadhan ini (dengan begitu ibu bisa khatam Al Quran dengan lancar).

Lalu amat special untuk suamiku. Terima kasih untuk semuanya. Untuk pengertiannya kalau tiba-tiba nasi habis di saat mau sahur karena aku lupa masak nasi (sibuk nyiapin lauk tapi lupa ngintip nasi masih ada apa nggak). Terima kasih karena mau disuruh lari ke warung tegal terdekat buat beli nasi. Terima kasih juga karena mau bantu berbagai macam pekerjaan, demi agar aku bisa meng-khatamkan Al Quranku ("kamu benar mas, khatam Al Quran itu kelezatannya tiada tara dan bikiin kecanduan").

Dan terima kasih terbesar... terima kasih Allah. Karena sudah memberikan kesempatan melalui Ramadhan kali ini dengan semua kemudahan yang Engkau hamparkan padaku (semoga ini bukan ujian kenikmatan darimu. Karena sungguh aku tidak ingin lalai atau gagal dalam berbagai ujian dariMu).
Alhamdulillahirrabbil'Alamin.
Subhanallah Wa alhamdulillah walailahailallah Allahu Akbar.
Allah, sampaikanlah umurku dan seluruh keluargaku agar dapat melalui Ramadhan tahun depan. Aammiin.

-------------
Penulis: ade anita.... terima kasih karena sudah mau membaca notes yang nggak penting ini.. hehehhe..

Comment · Like · Share
Astrid Septyanti Ar-Rosyidi sdkt koreksi,utk pgnaan kt KAMU,pd Alloh,sebaiknya di ganti dg Engkau.
agak gmn gt bacanya.
selamat behari raya mbak..
12 September at 09:25 via Facebook Mobile · Unlike · 1 person
Ade Anita laksanakan jendral... met lebaran juga..
12 September at 10:02 · Like
Anne Adzkia Indriani Ketawa sekaligus terharu bacanya...sering gak menyadari bhw kehidupan kita bs berjalan lancar krn jasa benda2 kecil yg ada disekitar kita :)
13 September at 03:36 via Facebook Mobile · Like

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…