badge

Senin, 27 September 2010

sekolah yang aku pilih

:> notes ini karena terdorong keinginan untuk tukar pengalaman dengan Dyah Sari di Singapura, tentang pengalaman menyekolahkan anak
--------------------

Pernah suatu hari, suami saya pulang kerja dan rumah amat sangat berantakan. Cipratan air dimana-mana, begitu juga dengan genangan air. Kain sepray bertebaran dimana-mana. Bahkan di langit-langit rumah, tampak ada beberapa butir air yang siap-siap menetes ke lantai.

"Ada apa ini?" Dia bertanya dan melihat semua anak-anaknya basah kuyup, begitu juga dengan saya, istrinya.
"Oh, kami habis main perang-perangan. Pakai pistol air." Semua anak-anak kami cengar-cengir sambil memperlihatkan pistol air mereka.
"Lalu sepray itu?"
"Oh... itu. Itu tenda prajurit yang baru saja diberangus oleh musuh." Suami saya langsung bengong. Tas kerjanya melorot lunglai dan wajahnya kian lesu ketika mendapati ternyata,
"Waduh... maaf, makanan kita yang untuk makan malam ternyata terkena bom."

Kejadian di atas ini kejadian pertama kali saya melakukan kegiatan gila-gilaan dengan anak-anak saya. Akhirnya, malamnya saya jelaskan pada suami saya.
"Saya baru saja mengeluarkan anak kita dari Tempat Pendidikan Al Qurannya."
"Kenapa? Kan mereka harus belajar mengaji?"
"Iya, betul. Tapi aku kurang cocok dengan tempat belajar itu. Gara-garanya... sepele sih. Waktu aku sedang menunggu anak kita selesai mengaji, aku melihat anak-anak yang sudah selesai dengan giliran membaca iqranya keluar dari kelas. Semua anak yang sudah selesai dapat giliran boleh main di luar kelas. Cuma masalahnya, mereka semua beramai-ramai menangkap Cangcorong (baca=jangkrik). Mengikat badan Cangcorong dengan benang layang-layang, lalu mengadu mereka. Semua Cangcorong itu dipaksa untuk berkelahi. Aku nggak suka dengan adegan itu. Lalu ketika aku mengadu ke guru, gurunya hanya tersenyum sambil bilang, dasar anak-anak. Loh, kok tanggapannya hanya itu sih? Padahal itu kan lembaga pendidikan Al Quran. Jadi langsung saja aku keluarkan anak-anakku dari sana." Suamiku hanya mengangguk-angguk.
"Tapi nggak usah khawatir mas. Aku lansung memasukkan anak-anak ke TPA yang lain." Aku mengirimkan sebuah cengiran ke suamiku.
Tampaknya dia bernapas lega.
"Cuma, sekarang mereka sekarang pun sudah aku keluarkan juga dari sana." Kalimat yang aku lanjutkan ini membuat senyumnya kembali menghilang.
"Loh?"
"Iya, kali ini bukan karena permainannya. Tapi karena semua anak-anak disana, rasanya sudah amat lumrah berbicara kotor dan kasar dengan bahasa daerah setempat. Aku nggak suka." Suami saya langsung menarik napas panjang.
"Jadi, mungkin mulai sekarang, aku sendiri yang akan mengajari mereka belajar di rumah. Nah, cuma. Ada cumanya. Di rumah, nggak ada permainan seru seperti di sekolah. Sekolah itu kan keasyikkannya pas mainnya. Serunya sekolah itu kan ketika bel tanda istirahat berbunyi lalu kita semua berhamburan keluar kelas untuk bermain. Nah... itu sebabnya aku dan anak-anak main perang-perangan di dalam rumah. Maaf ya jika berantakan. Beresin rumah supaya rapi itu cuma butuh waktu satu jam kok, tapi, kesenangan dan keceriaan yang diperoleh karena bermain dengan asyik dan aman itu insya Allah akan berdampak a long long time."

Saya memang seorang yang pemilih. Tapi bukan berarti ansos (anti sosial). Tidak. Sama sekali tidak. Hanya saja, saya merasa bahwa pendidikan dasar seorang anak mungkin akan lebih baik jika bisa dilakukan seselektif mungkin. Dan tugas utama seorang ibu, adalah menjadi madrasah (baca= sekolah) pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Ketika ingin memasukkan anak ke sekolah, ada beberapa pertimbangan yang saya lakukan.
1. Saya harus tahu seperti apa lingkungannya.
2. Saya harus tahu seperti apa pengajarannya.
Atas pertimbangan tersebut, maka saya pun memasukkan anak untuk bersekolah di Sekolah Dasar Negeri. Bukan sekolah swasta, juga bukan sekolah plus apalagi berstandard internasional. Kenapa?
1. Karena cuma sekolah dasar negeri yang masih membolehkan orang tua untuk menunggu anaknya sekolah. Orang tua boleh duduk di dalam pekarangan sekolah dan boleh memperhatikan semua kegiatan belajar mengajar meski dari jauh.
2. Sekolah dasar negeri umumnya dihuni oleh anak-anak dari lingkungan masyarakat sekitar sekolah. Artinya, jika kita memasukkan anak ke sekolah dasar negeri dekat rumah, otomatis sebagian terbesar anak-anak yang bersekolah di sana adalah anak-anak dari lingkungan sekitar rumah kita juga. Dengan begitu, kita bisa memantau perkembangan anak kita dan mengarahkan mereka ketika suatu hari nanti mereka harus berinteraksi dengan lingkungan di dekat rumah.

Sayangnya, sekolah dasar negeri atau inpres sebagian besar dihuni oleh masyarakat kebanyakan yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Artinya, budaya bicara kotor, main kasar, berperilaku kasar, mengumpat, berpikir mencari jalan pintas tanpa pertimbangan halal dan haram, sudah amat lazim diberlakukan. Padahal, saya seorang yang pemilih.

Ya, titik fokusnya adalah, saya seorang yang pemilih. Karena kondisi yang sering tidak sesuai dengan sesuatu yang tidak ingin saya pilih maka saya harus mengembangkan dan melonggarkan batas toleransi saya sendiri. Bagaimana caranya berkompromi dengan situasi yang tidak berkenan dengan hati dan keinginan pilihan kita, itu yang saya berusaha keras menerapkannya. Dan itu, tanpa sadar, juga saya ajarkan pada anak-anak saya. Hal-hal ini bisa tersedia cuma di sekolah dasar negeri.

Ya, pertimbangan kami memilih sekolah dasar negeri karena pertimbangan bahwa bahagian terbesar dari masyarakat tempat kita semua akan terjun ke dalamnya, bersinggungan dalam keseharian terbesar dalam hidup kita, adalah masyarakat menengah ke bawah. Kami ingin anak-anak belajar bertoleransi, belajar berkompromi dengan berbagai kondisi tak terduga yang ada di golongan masyarakat terbanyak di negeri ini. Yang utama adalah, belajar mempertahankan prinsip yang hak di tengah lingkungan yang sulit.

Masih bingung? Mungkin bisa saya contohkan beberapa sikap kompromi yang kami lakukan:
- Mengantungi sampah di dalam kantung atau salah satu bagian dalam tas, ketika budaya buang sampah sembarangan sudah amat lazim dilakukan.
- Buang air kecil di tempat tertutup untuk laki-laki ketika budaya buang air kecil di bawah pohon adalah hal yang lumrah.
- Datang tepat waktu ketika budaya jam karet adalah hal yang biasa.
- Mengerjakan PR sendiri ketika orang tua sibuk membantu PR anak-anaknya.
- Membiasakan diri bahwa predikat juara bukan yang utama (yang utama itu adalah melakukan yang terbaik semaksimal mungkin dan mengerjakannya dengan ikhlas)... hehehe, yang satu ini, kadang bikin kebat kebit karena bedanya tipis. Karena, tuntutan untuk memperoleh kemenangan dan juara lomba amat besar justru datangnya dari lingkungan sekitar. Padahal, di rumah, ini sama sekali tidak penting, apalagi jika kemenangan diperoleh dengan tidak ikhlas dan tidak jujur. Jadi, di rumah, jika sudah mulai merasa bahwa sedang mengerjakan sesuatu untuk mengejar gelar juara dan terobsesi untuk menang, kami biasanya langsung berhenti sejenak. "Ayo, luruskan niat. Luruskan niat."

Hal-hal penuh kompromi di atas tersedia sempurna di sekolah dasar negeri.
Itu sebabnya, menyerahkan anak ke sekolah dasar negeri lalu lepas tangan tentang perkembangan pendidikan mereka selanjutnya, adalah sebuah tindakan bunuh diri orang tua. Kenapa? Ya itu tadi. Karena situasi yang menuntut toleransi dan kompromi serta tekanan amat besar terjadi di sana (itu sebabnya, jika ayah ibu bekerja, dan cuma punya waktu bersama anak sedikit saja, saya lebih meyarankan untuk memilih sekolah plus yang mutunya bagus. Lalu, ini sekedar saran, usahakan untuk sesekali bawa anak bertemu dengan berbagai tingkatan golongan masyarakat. Karena hal inilah yang akan mengajarkan pada anak, bagaimana jika suatu hari nanti, dia akan berhadapan langsung dengan golongan masyarakat yang beragam ini).

Itu sebabnya, sepulang sekolah, setelah mereka makan siang, saya biasanya langsung menanggalkan "pakaian ibu" dan memakai "pakaian guru" dan "pakaian teman" langsung rangkap dua. Saya melakukan banyak sekali permainan di dalam rumah. Mulai dari percobaan-percobaan sains, masak-memasak, tanya jawab pelajaran, hingga bersama-sama menghadapi game komputer (atau PS atau Wii). Atau sekedar ngobrol bertukar cerita. Sore hari, saya baru mengajari mereka mengaji setelah shalat maghrib.

Ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh mereka yang akan memasukkan anak bersekolah di sekolah dasar negeri:
1. Sudah berusia enam (6) tahun di bulan Juli.
2. Sudah bisa mengikuti proses belajar mengajar dengan baik.
peraturan lain lihat saja di website DIknas.... saya tidak akan menulisnya karena saya hanya akan memfokuskan pada dua hal ini saja.

Terkadang, orang tua sering terlalu cepat menyekolahkan anak-anak mereka ke TK atau PAUD. Hingga, ketika lulus dari TK atau PAUD, usia anak belum 6 tahun di bulan Juli. Nah, jadi, kalau mau menyekolahkan anak di sekolah pra Sd, perhatikan usia anak. Jangan sampai terlalu muda lulus TK-nya.

Point kedua, ada tes yang harus dilalui oleh anak yang ingin masuk ke sekolah dasar. Yaitu, tes membaca, menulis dan berhitung (tenang, semua masih tahap awal kok. Jadi masih membaca "INI BUDI", bukan membaca "PERKEMBANGAN SAHAM AKHIR-AKHIR INI MENGALAMI PENURUNAN YANG CUKUP TAJAM DI BURSA SAHAM TOKYO". Menulisnya juga begitu, masih menulis sederhana seperti BAPAK, SEKOLAH, GURU, jadi bukan menulis surat panjang untuk presiden. Sedangkan berhitungnya, masih seputar angka yang bisa dihitung dengan kesepuluh jari-jari di tangan kita.

Tapi, tes calistung ini terjadi sekolah dasar negeri saja. Sedangkan di sekolah plus, ada tambahan testnya. Yaitu tes menggunting dan menempel. Jadi, ada lima ya test yang akan dilalui oleh seorang anak di sekolah plus. DI sekolah dasar neger hanya ada tiga test.

Lalu selanjutnhya mari bicara tentang biaya.
Sekolah dasar negeri atau inpres di Jakarta umumnya tidak dipungut biaya. Ini karena mereka memperoleh BOS. Buku-buku yang dipakai juga dipinjamkan dari sekolah. Murid hanya diminta untuk menyampulnya agar bersih dan rapi.
Tapi sekolah dasar plus (baik yang swasta, internesional atau plus), memungut biaya yang cukup tinggi. Kisarannya sekitar Rp100.000 - Rp700.000 per-anak, per-bulan. Sedangkan biaya pendaftarannya berkisar antara Rp1 juta hingga geleng-geleng kepala sambil bilang "...ck..ck..ck, kok mirip mau masuk perguruan tinggi ya?"

Bagaimana mutunya"
Ya itu tadi. Orang tua harus aktif dan tidak boleh lepas tangan begitu saja pada perkembangan pendidikan anak-anak mereka jika mereka memasukkan anak-anak mereka ke sekolah dasar negeri atau inpres.

Demikian pengalaman saya menyekolahkan anak di sekolah dasar (maaf ya terburu-buru kata akhirnya. Tiba-tiba mengantuk nih).

------------------
penulis: Ade Anita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...