Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari September, 2010

sekolah yang aku pilih

:> notes ini karena terdorong keinginan untuk tukar pengalaman dengan Dyah Sari di Singapura, tentang pengalaman menyekolahkan anak
--------------------

Pernah suatu hari, suami saya pulang kerja dan rumah amat sangat berantakan. Cipratan air dimana-mana, begitu juga dengan genangan air. Kain sepray bertebaran dimana-mana. Bahkan di langit-langit rumah, tampak ada beberapa butir air yang siap-siap menetes ke lantai.

"Ada apa ini?" Dia bertanya dan melihat semua anak-anaknya basah kuyup, begitu juga dengan saya, istrinya.
"Oh, kami habis main perang-perangan. Pakai pistol air." Semua anak-anak kami cengar-cengir sambil memperlihatkan pistol air mereka.
"Lalu sepray itu?"
"Oh... itu. Itu tenda prajurit yang baru saja diberangus oleh musuh." Suami saya langsung bengong. Tas kerjanya melorot lunglai dan wajahnya kian lesu ketika mendapati ternyata,
"Waduh... maaf, makanan kita yang untuk makan malam ternyata terkena bom."

Kejadian di…

ikutan lomba bikin weekly notes.. sekali lagi, yang ini juga kalah

Ternyata Aku Tetap Cinta
by Ade Anita on Monday, 23 August 2010 at 12:05
"Ini kisah ketika aku masih duduk di bangku SMA. Suatu hari, malam hari tepatnya, ada tamu datang ke rumah. Dia mahasiswa ayah di Universitas Muhammadiyah. Ayahku memang seorang dosen di UM, mengajar Pancasila dan Ketahanan Negara. Dia datang memberi ayah hadiah dan sebuah amplop. Isinya bukan surat cinta tapi uang. Ayah marah-marah ke mahasiswa itu tapi lalu menasehatinya baik-baik hingga mahasiswa itu pulang dengan air mata dipipinya. Begitu mahasiswa itu pulang, ayah datang kea de. “Nak, jangan pernah mengikuti jejak mahasiswa itu. Dia orang bodoh yang ingin membeli kelulusan sarjananya dengan uang. Ingatlah nak, semua yang didapat tidak dengan kejujuran, hanya akan melahirkan sebuah bencana baru. Mungkin dia sukses, kaya, tapi kesuksesan dan kekayaannya itu tidak akan membuat dia bahagia. “ (diikutip dari http://adeanita-adi.blogspot.com/2009/03/sekapur-sirih-di-hari-kedua-berkabung.html )

coba2 ikut sayembara bikin flash fiction.. tapi yang ini aku kalah.. hehehe

Kesempatan Ramadhan Untukku
by Ade Anita on Thursday, 12 August 2010 at 09:41
Kata orang, kucing itu punya sembilan nyawa. Dia mudah sekali selamat dari berbagai macam bencana dan kecelakaan. Sungguh hewan yang beruntung.

Tapi pemandangan di hadapanku benar-benar memperlihatkan seekor kucing yang tidak beruntung. Inilah anak kucing yang terus-menerus mengeong sepanjang malam tak jauh dari rumahku. Pagi itu, aku mendapati si anak kucing tergeletak menelungkup dengan tangan dan kaki terentang ke sampingnya. Dia hanya memiliki satu buah kaki. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dia mengeong-ngeong lemah, mengais pertolongan.

Rupanya, induk kucing telah meninggalkan anaknya yang lahir cacat dengan begitu saja. Bahkan ketika si anak kucing belum bisa membuka matanya. Induk kucing telah menjalankan hukum alam secara alami. Memilih untuk mengorbankan anaknya yang cacat, ketimbang anak lainnya yang sempurna. Induk kucing memilih untuk membesarkan yang sempurna saja. Hidup adalah pilihan, dan me…

Notes tentang Cinta

notes Tentang CInta
by Ade Anita on Monday, 23 August 2010 at 13:06
Cinta itu sesuatu yang tidak pernah habis untuk diperbincangkan. Juga tidak pernah kering untuk ditulis kisah tentangnya. Saya selalu suka membicarakan tentang cinta. Mungkin karena dia selalu terasa manis dan menghangatkan. Siang ini (sebenarnya pagi, tapi saya bangun kesiangan hari ini, amat sangat kesiangan), saya membaca sebuah notes yang menulis tentang cinta. Manis sekali. Terasa istimewa karena merupakan kumpulan dari tokoh-tokoh kartun yang amat familiar bagi saya.

Saya penggemar film kartun. Film kartun apa saja saya suka. Eh.. ralat. Tidak semuanya. Karena saya tidak suka beberapa serie kartun Amerika yang diperuntukkan untuk remaja yang sering kasar seperti Bernie and Mice; Brain; Cat and Dog; dan mmm... beberapa deh. Di deretan kartun-kartun ini, ternyata bertaburan perilaku kasar, vandal, kalimat-kalimat kotor dan juga adegan kekerasan lainnya. Tapi saya suka film-film kartun yang diperuntukkan untuk anak…

terima kasih

Terima kasih
by Ade Anita on Sunday, 12 September 2010 at 10:03

Terima kasih kompor, karena selama bulan Ramadhan nggak pernah rewel, kehabisan gas di waktu yang tidak tepat dan semua kegiatan masak memasak lancarrrr... serta nggak bikin panik, bahkan setelah acara besar lebaran hari pertama (masak besar untuk bantu halal bihalal keluarga).

Pinokio (the story continued)

5 Sajak Pinokio (suatu hari nanti, the story continued)
by Ade Anita on Monday, 20 September 2010 at 16:26
I
Aku melihatmu kekasihku
Pada sebuah mall yang amat terkenal di Jakarta
Wajahmu sumringah
Matamu sendu dengan pendar-pendar kejora di atas pupilmu
"Hah? Dimana? Kok nggak manggil?"
Aku ingin memanggilmu kekasihku
Kau tahu, namamu adalah nama yang selalu terukir indah di hatiku
Bukan hanya tinta emas aku menulisnya Hamparan berlian pun kubentangkan sebagai lembaran untuk menulisnya
Kamu amat berarti Kamu juga yang selalu kunanti
Sungguh aku hendak memanggilmu sayang Tapi sedetik sebelum mulut ini berucap Ada seorang gadis belia yang mengejarmu dengan langkah menarinya Manja dia bergayut di tangan kekarmu Lalu kaupun mendaratkan kecupan sayang
"Sembarangan. Mana mungkin aku pergi dengan wanita lain selain dirimu. Kamu tahu sendiri seluruh hatiku sudah kuserahkan padamu. Aku amat mencintai dirimu."
Senyumku langsung terkembang lebar mendengar pengakuan cintanya.

Teristimewa

Teristimewa
by Ade Anita on Saturday, 25 September 2010 at 10:46
Tujuh tahun lalu aku pertama kali bertemu dengannya.
Seorang perempuan biasa.
Rumahnya biasa, rumah sederhana dengan satu buah pintu dan empat buah jendela yang terbuat dari kayu yang sudah rapuh. Beberapa atap rumahnya tampak sudah lenyap. Hingga memberi celah bagi mentari untuk menggantikan bohlam lampu di malam hari. Sebuah bohlam lampu yang ada di tengah ruang tamu adalah satu-satunya bohlam lampu yang ada di rumah tersebut. Jangan pernah pergi ke samping rumah. Karena rumah ini adalah rumah yang istimewa. Empat buah tonggak bambu telah menopang salah satu dindingnya, agar rumah ini bisa tetap berdiri kokoh meski doyong ke samping

Kedua anaknya juga anak biasa. Punya kulit setengah terbakar karena terlalu banyak terbakar sinar matahari karena kegiatan mereka yang memang banyak dilakukan di luar rumah. Membantu bapaknya keluar masuk kampung berdagang cendol. Atau membantu ibu mengambil daun pisang untuk dijual ke pa…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...