Langsung ke konten utama

Kerlip BIntang Di Langit Kuala LUmpur

TUlisan pindahan dari blog lamaku, Hello Myself-nya ade anita

SATURDAY, DECEMBER 11, 2004
<$BlogItemURL$>">Link" title="external link" class="title-link">
Kerlip Bintang Di Langit Kuala Lumpur
kerlip bintang di langit Kuala Lumpur

Posted by Hello
Sebuah bunga api bundar terlontar memanjang ke udara. Ketika menyentuh batas cakrawala pandangan, bunga api itu terpendar dan memencar menjadi bulir-bulir kecil bunga api yang saling memenuhi angkasa biru gelap langit malam. Itulah pendar kembang api atau mercon. Benda yang satu ini ramai dinyalakan orang di langit Kuala Lumpur sepanjang malam-malam hari raya selepas ramadhan. Semua orang merayakan kedatangan Aidul Fitri. Semua orang terlibat dalam kegembiraan yang menandai berakhirnya masa berpuasa.

Ada sebuah kegembiraan setiap kali melihat bunga api yang menghiasi angkasa. Kembang api itu terlihat indah manakala membentuk ilustrasi dedaunan pohon nyiur. Tiba-tiba saja, langit yang semula berwarna senada, biru gelap cenderung hitam, terhias oleh warna terang yang berpendar ceria. Ada warna hijau terang, kuning cerah, lebih sering merah menyala. Beberapa kali warna biru elektrik terlihat. Makin terlihat ceria setelah kembang api itu bersanding serasi bersama pendar lampu-lampu yang menghiasi gedung Petronas di kejauhan. Subhanallah, sungguh amat cantik.

Kondo tempatku tinggal saat ini memang memiliki pemandangan langsung ke arah Petronas dan Menara Kuala Lumpur. Dari lantai sebelas ini, saban malam tak bosan mata ini menikmati keindahan kota Kuala Lumpur di waktu malam hari. Taburan lampu-lampu yang menghiasi gedung-gedung menjulang di kota ini amat menawan. Bahkan meski awan gelap, hujan besar dan kabut pekat datang menutupi langit sekalipun dan bahkan mampu menyembunyikan gedung-gedung tinggi itu dalam pelukan kabut pekatnya, sama sekali tak mengurangi rasa takjub menikmati keindahan yang tetap terhampar.

Maha Suci Allah. Maha Besar Allah. Dia-lah yang membuat siapa saja bisa menikmati berbagai pemandangan yang mentakjubkan. Karena kuasa Allah, dalam sekejap, langit berwarna cerah dan bersih dari kabut dan awan kelam. Lampu-lampu dari kamar gedung pencakar langit yang berkerlipan dari kejauhan bak taburan permata terlihat berlomba mempertontonkan kecantikannya. Karena kuasa Allah pulalah dalam sekejap semua pertunjukkan lampu-lampu tersebut ditutup seperti hilang oleh kabut. Menara Petronas dan Kuala Lumpur Tower yang biasanya terlihat amat perkasa pun bahkan bisa dihilangkan dalam sekejap hanya oleh segumpal awan tebal. Hinggar bingar suara mercon tak terasa mengganggu. Yang tertangkap adalah rasa kagum dan terpekur dalam renungan atas karunia Ilahi. Utuh.

Suatu malam, setelah makan malam di kedai Nasi Kandar selesai, di perjalanan pulang, aku bertemu dengan segerombolan anak-anak muda yang sedang asyik menyalakan mercon (= petasan) kembang api. Bola-bola mercon kembang api itu dilontarkan ke angkasa sekuat tenaga. Ada juga yang menggunakan bantuan ketapel. PLASH. Bola mercon kembang api itu melesat ke udara, beberapa detik kemudian dia tampak mengeluarkan suara ledakan, lalu sejurus kemudian muncullah bunga api yang berpencar ke segala arah membentuk rangkaian daun pohon nyiur. Bau bubuk mesiu dari mercon yang terbakar itu merebak dan singgah di hidungku. Suara ledakan pun terdengar begitu membahana dan memekakkan telinga. Gaya anak-anak muda itu melontarkan bola mercon kembang api tersebut, mengingatkan aku pada sosok-sosok penuh semangat di Palestina sana.

Ya.
Jika di Malaysia yang merdeka dan larut dalam kegembiraan menyambut Aidil Fitri ini, anak-anak muda bersuka ria menyalakan mercon kembang api. Di Negara-negara yang terlibat peperangan dan penjajahan, anak-anak muda mereka, dengan gaya yang sama, asyik melontarkan granat dan batu ke arah penjajah negera mereka. Sama-sama menebarkan bau bubuk mesiu, sama-sama menimbulkan suara ledakan yang memekakkan telinga, sama-sama menimbulkan bunga api, tapi berbeda dampak dan niatnya. Yang satu bisa jadi hanya menimbulkan dampak kesenangan sementara, sementara yang lain mampu mengobarkan semangat kepahlawanan. Yang satu bisa jadi hanya muncul dari niat untuk memperoleh alternatif kegembiraan, yang lain berasal dari niat Jihad Fisabilillah. Sebuah penjajahan adalah tindakan penjarah yang utuh melanggar norma-norma kemanusiaan. Sebuah penjajahan adalah tindakan perampok yang sekaligus bertindak sebagai pembunuh dan berwajah amat keji. Mempertahankan negara dan akidah dari cengkeraman penjajahan adalah keharusan, bahkan termasuk bagian dari ibadah fardhu ain. Ganjarannnya tentu saja Jihad Fisabilillah.

Dan kembali aku terpekur menatap pemandangan langit malam yang mentakjubkan. Selalu mentakjubkan.
posted by ade anita @ 10:59 AM

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…