badge

Selasa, 01 Juni 2010

BOnsai

sekali lagi... tulisan yang dipindahkah dari blog lamaku, Hello Myself-nya ade anita

SATURDAY, AUGUST 23, 2003
Bonsai
Pada suatu siaran berita sore di Salah satu stasiun televisi di Indonesia (:Indosiar), ada sebuah berita selingan tentang keluhan petani bonsai akibat musim kekeringan yang melanda tanaman bonsai yang mereka pelihara. Ini karena bonsai berbeda dengan tanaman hias lainnya, mereka tidak bisa menerima air kotor (comberan) untuk menyegarkan tanaman tersebut. Padahal pasokan air bersih di musim krisis air bersih sekarang ini sangat terbatas (ada sih ada, tapi karena harganya mulai kian mahal, jadi lebih baik dialokasikan untuk keperluan manusia sehari-hari seperti masak, minum, cuci dan mandi). Jika dipaksakan diberi air comberan, maka daun pada tanaman bonsai bisa rontok atau setidaknya berwarna kekuningan lalu kering (ujung-ujungnya rontok juga).

(ups, maap. Aku tinggal dulu sebentar yah, untuk sebuah keperluan. Anakku yang sedang menyetel televisi di sebelahku membesarkan volume televisinya. “Biar seru Bu, jadi enak dengarnya.”. Begitu jawabnya ketika aku memintanya untuk mengurangi volume televisi yang ditontonnya. “Iyah, emang seru kalau nonton dengan volume besar seperti itu, tapi nggak enak dengan orang-orang yang lewat di gang sebelah rumah kita. Nanti mereka kira kita sedang pame rkarena punya televisi. Belum lagi ada adik bayi yang dari semalam menangis terus semalaman, mungkin saja siang ini adik bayi itu sedang ingin tidur, nanti dia bisa terbangun. Sudah, kecilkan sedikit volume televisinya.” Anakku bersungut-sungut tapi tak urung menuruti petunjukku.)

Seperti kita ketahui, Bonsai adalah tanaman yang dikerdilkan dengan cara membentuk sebuah tanaman agar tidak pernah bisa tinggi dan besar. Secara rutin, ujung-ujung cabang baru dipotong menurut bentuk pohon yang diinginkan. Aku pernah melihat cara membuat pohon bonsai sejak pohon masih sangat muda di sebuah acara pertamanan di salah satu televisi Australia (:Seven). Sebelum pohon itu besar, pada sekeliling batang muda tersebut dililit kawat tipis yang mengitari batang pohon yang masih hijau tersebut sambil mulai menentukan seperti apa bentuk pohon bonsai yang kita inginkan kelak. Secara berkala ujung ranting dan cabang dipotong agar mereka tidak keluar dari bentuk pohon yang sudah kita rencanakan. Kenapa harus secara teratur ujung itu dipotong? Karena jika batang sudah mulai berwarna coklat muda, itu artinya batang sudah sulit untuk dibentuk meliuk mengikuti bentuk kawat. Artinya, ada penyimpangan yang terjadi dari bentuk bonsai yang sudah direncanakan sebelumnya. Hmm…. Sejak itu aku selalu salut pada petani bonsai dan para penggemar tanaman tersebut, karena yang terbayang di mataku adalah kerajinan, keuletan dan ketelatenan mereka memelihara tanaman yang menurutku menjadi sangat manja dan “dependent” (bergantung pada orang lain). Jadi, jangan heran jika harga bonsai yang dijual oleh para petani bonsai bisa sangat mahal. DI acara selingan tersebut, sebuah bonsai yang tingginya hanya 75 cm, berdaun rimbun dan menyerupai miniatur pohon beringin yang biasa aku lihat di kebun raya bogor, harganya bisa mencapai empat puluh juta rupiah (Rp 4000.000). Semakin rumit bentuk pohon dan semakin kreatif penempatan daun, batang dan ranting dari sebuah pohon yang berkolaborasi dengan kesuburan tanaman semakin mahal tanaman bonsai tersebut. Jadi jangan heran jika ada sebuah pohon bonsai yang harganya mencapai ratusan juta rupiah perpohonnya. Fantastis kan.

(Wah. Lagi-lagi aku harus minta maaf karena kembali harus meninggalkan kelanjutan tulisan ini. Kali ini, para juniorku sedang mencomot perkedel dan tahu bandung goreng yang ada di atas meja makan. Hm. Hari ini aku masak memang agak pas-pasan karena badanku terasa kurang sehat. Ada delapan potong tahu bandung dan enam potong perkedel di atas piring. Keduanya sedianya akan menjadi lauk menyertai sayur tumis kangkung untuk makan malam keluargaku. Mungkin karena malas membuka toples makanan kecil, dengan lancar tangan-tangan mungil para juniorku (ada dua orang) mencomot perkedel dan tahu bandung goreng tersebut. Sekarang tersisa tiga potong tahu dan empat perkedel saja. “Sudah, cukup yah. Jangan diambil lagi. Itu kan ibu masak buat lauk makan malam. Ibu kurang enak badan untuk memasak yang baru lagi. Kalau dicomot terus, nanti habis. Kita makan malam Cuma pakai sayur ajah nanti. Nggak papah?”. Anakku nyengir kuda. “Habis enak sih bu, apalagi masih hangat seperti ini. Nonton TV juga jadi kerasa lebih enak.”. Sebuah alasan terlontar. “Iyah, tapi kan yang enak itu tidak harus diumbar, kita harus pikirkan juga siapa yang belum mencobanya. Ayah belum pulang, nanti ayah nggak kebagian. Meski enak, tetap saja harus ingat bahwa ini bukan untuk kita sendiri tapi untuk dinikmati semuanya. Jangan mentang-mentang enak lalu jadi egois. Lagian ini kan hanya cemilan, yang utama itu kan makan malam. Kalau sudah kenyang duluan makan cemilan, pas makan yang betulannya malah sudah bosan duluan.. Cari cemilan lain saja yah. Ibu bukakan toples dari kue yang kalian inginkan.”. Kembali para juniorku tersenyum malu dan minta dibukakan sebuah toples keripik.)

Di sebuah koran terbitan ibukota, ada sebuah artikel yang cukup menarik untuk disimak. Tulisan dari Haedar Nashir di kolom Refleksi yang berjudul “Kuda Bersayap” (Republika, 24/8/2003). Dia menyorot tentang kegilaan yang terjadi pada masyarakat Indonesia dewasa ini. Bermula dari penafsiran yang salah akan makna reformasi. Bagi masyarakat Indonesia, Haedar menulis bahwa kesalahan itu terjadi karena reformasi dipandang sebagai kebebasan. Kebebasan seperti apa, tidak ada yang membingkainya sehingga yang berkembang kemudian adalah dewa kebebasan yang melebihi agama dan moral. Coba saja lihat, penyanyi dandut yang dulu ditegur itu adalah Inul, Anisa Bahar, Uut Permata Sari dan dua orang lagi yang maaf, aku lupa namanya (^_^). Goyangan mereka digolongkan sebagai goyangan erotis. Tapi atas nama kebebasan, justru mereka ramai-ramai dibela sehingga jangan heran jika sekarang yang muncul adalah cetakan-cetakan baru yang serupa dengan penyanyi dangdut di atas. Rasanya hampir semua penyanyi dangdut berlenggok serupa bahkan kini semakin “gila-gilaan”. Pernah suatu malam tanpa sengaja aku melihat tayangan iklan suatu acara dangdut yang baru di salah satu televisi swasta. Para pembawa acara yang juga penyanyi dandut yang terkenal karena goyangan “binalnya”, memberi peringatan dengan gayanya yang genit dan kenes pada para penonton yang akan menonton acara baru tersebut: “Penonton. Sebelum kalian melihat acara ini, persiapkan dahulu jantung kalian. Kami akan mengguncang-guncang debaran jantung anda selama satu jam penuh.” Atas nama kebebasan, para produser dibantu oleh media massa berlomba menayangkan adegan yang melabrak aturan norma susila. Dan atas nama kebebasan pula, orang-orang kini tidak malu-malu lagi melakukan praktik tradisi menghalalkan segala cara. Politik uang yang terjadi di mana-mana dalam pemilihan gubernur atau bupati atau jabatan-jabatan publik lainnya. Dan atas nama kebebasan pula berbagai aturan nilai yang sebelumnya ditanamkan pada anak-anak muda sejak kecil dilabrak sehingga para generasi muda kehilangan petunjuk arah. Jadi jangan heran jika sedang jalan-jalan ke mall, kalian melihat ada seorang gadis yang berpakaian tank top (terbuka pundak dan pusarnya), bergandengan mesra dengan kekasihnya, lalu ketika masuk waktu shalat dia masuk juga ke mushalla, shalat, begitu selesai kembali lagi dengan kelakuan semula. Berangkulan mesra (sangat sih sebenarnya kata yang tepat) lagi dan masuk bagian penjualan pakaian untuk mencari pakaian tank top lain dengan warna yang sama mencoloknya dengan yang dipakainya. Jika ada sebuah teguran yang terlontar atas perilaku mengumbar kebebasan tanpa batas tersebut, maka orang ramai-ramai akan mengutuknya sebagai usaha pengkerdilan kemampuan dan bakat. Ah. Benar-benar sudah jaman edan. Tepat sekali ungkapan yang dipinjam oleh Haedar dari alur berpikir Ronggo Warsito. “Zaman ini zaman edan, siapa yang tidak ikut edan, tidak akan kebagian.” Innalillahi wa innailaihirajiun.

(hmm. Kalian tentu berpikir, lalu apa hubungannya dengan judul Bonsai yang jadi judul artikel ini. Aku juga tidak tahu. Tapi jika teringat pada para juniorku aku jadi teringat dengan para petani bonsai. Barangkali tanpa aku sadari, aturan yang aku dan suamiku coba terapkan pada mereka adalah perilaku para petani bonsai untuk memangkas segala sesuatu yang bisa merusak bentuk bonsai yang diinginkan. Semua orang tua tentu ingin anaknya tumbuh sesuai harapan. Bukan bermaksud untuk mengkerdilkan kemampuan dan bakat mereka. Tapi justru ingin agar mereka terbingkai dalam aturan yang bisa mengantarkan mereka agar lebih terpuji di masa yang akan datang. Bukankah dunia ini adalah persinggahan sementara? Cemilan yang tidak akan mengenyangkan perut tapi jika tidak dibatasi justru bisa merusak kedudukan hidangan utama. Dan syariat serta norma agama adalah cara Tuhan untuk mengatur manusia agar menjadi mulia dan berderajat terhormat baik di dunia dan akhirat. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. )
posted by ade anita @ 1:59 AM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...