Langsung ke konten utama

puisi cinta

Saya penggemar dongeng sejak masih kecil. Bukan karena selalu ada keajaiban di dalam dongeng, tapi karena dalam cerita dongeng selalu terjadi pertemuan dua orang kekasih yang saling mencintai satu sama lain dan akhirnya mereka awet dalam percintaan hingga maut memisahkan mereka.

and they Happy ever after.
Hingga mereka akhirnya Bahagia selamanya.

Tentu selalu ada rintangan dalam sebuah kisah cinta. Terkadang rintangan itu menguras air mata, kadang membangkitkan amarah. Tapi kekuatan cinta benar-benar ampuh dilukiskan pada setiap dongeng. Cinta yang mampu mengalahkan seorang raksasa yang amat menakutkan dan amat biadap sekalipun. Mampu mengalahkan api yang menjilat-jilat dan membakar seantero jagad raya. Bahkan cinta juga dilukiskan mampu menembus langit, menyeruak ke dalam dasar bumi dan tetap berdiri kokoh meski berada di puncak gunung yang amat tinggi dan runcing.

Pada akhirnya... saya menjadi seorang yang selalu percaya bahwa cinta bisa menyelesaikan banyak hal. Dan ciinta juga bisa menyembuhkan semua luka yang ada. Itu sebabnya saya selalu menyukai membaca semua puisi cinta. Juga semua cerita cinta. Meski terkadang muak jika membaca tulisan tentang cinta yang terlalu picisan dan murahan.

Pagi ini.... ketika saya baru pulang dari dokter karena putri bungsu saya terserang diare (nama tengah semua anak-anak saya memiliki arti 'cahaya cinta' loh, hehe maaf out of topic), saya diundang untuk membaca sebuah puisi cinta dari seseorang yang saya kagumi yang baru saja kehilangan orang yang dicintainya. BJ Habibie.... Jujur, sejak ibu Ainun Hasri Habibie meninggal, saya selalu mengucurkan air mata menyaksikan kedua sejoli (BJ Habibie dan almarhumah istrinya) merasakan kepedihan sebuah perpisahan. Sekaligus terharu karena kisah cinta mereka, ternyata lebih indah dari pusi-puisi cinta yang pernah disuguhkan di hadapan saya untuk saya nikmati. Jadi, hati saya langsung terenyuh membaca puisi cinta seorang Habibie untuk istri tercintanya yang telah tiada. Sambil berharap, semoga suami saya juga mencintai saya sedemikian dalam seperti itu.

Dan ini lah puisi cinta seorang Habibie untuk istrinya tersebut.

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,
calon bidadari surgaku ....

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…