Langsung ke konten utama

Engkau Di MImpiku

Sejenak terlelap membawaku menjumpai dirimu
Terduduk termenung di atas kursi goyang kesayanganmu
mata tuamu menatap lemah
kulit pipimu yang kendur terlihat bergayut tergantung dirahangmu yang mengeras

"Ayah...apa kabar? Sudah berbilang hari, pekan dan bulan tidak melihatmu." terbata meluncur satu satu kalimatku tertuju padamu

kerinduan ini sudah amat membuncah
ingin meledak saja rasanya dadaku tak sanggup menampung luapannya

"Bicaralah satu kata saja ayah. Boleh kata panjang, boleh kata pendek. Bicaralah tentang apa saja. Bahkan omelan dan teguranmu pun akan terdengar bagai alunan merdu seruling rindu. Tolong bicaralah sebentar saja, karena sungguh ade ingin mendengar suara tuamu yang mulai bergetar."

Tapi kau diam seribu basa. Bahkan ai mataku tidak merubah sikapmu.

Aku terhisak karena rasa rindu yang begitu menghimpit. Kupeluk ayahku erat-erat.
Aku pernah kehilangan beliau pada tanggal 28 februari 2009.
Rasa kehilangan itu masih terasa perih sampai sekarang.
Aku tidak mau lagi kehilangan ayahku untuk kedua kalinya

Pelukanku mengetat.
Tubuh tua ayah terasa berdenyut dalam dekapanku
Keriput kulit tuanya yang kendur seperti belaian angin di bulan desember
Tapi ayah masih tetap diam tanpa reaksi
Tak ada belaian sayang dikepalaku
Juga tak ada sepotong pun suara keluar dari mulutnya
Kepalanya hanya menoleh kesamping
Menatap sosok yang ternyata telah hadir secara tiba-tiba

"Ibu?...Subhanallah."
Ini pasti bukan mimpi
Ini nyata.
Aku melihat ibu sedang menatapku sendu

Aku berlari menyambar
Andai aku punya seribu kaki, tentu akan kupakai semuanya agar lariku kian cepat

Lalu tangisku kembali pecah
Kuhujani perempuan yang melahirkanku dengan susah payah tersebut dengan seribu kecupan

Inilah perempuan pertama yang tetap mencintai dan menyayangiku meski seluruh orang memandang rendah karena aku terlahir sebagai seorang perempuan
Dengan rasa kasihnya yang berlimpah, diberinya aku nama sederhana yang memiliki arti adik perempuan semata karena khawatir aku tak dapat bicara karena sudah lebih dari satu pekan tak seorang pun jua sudi memberi nama seorang bayi yang terlahir sebagai seorang perempuan

"Ibu kurus banget sekarang." aku menyentuh tubuh ibuku sejengkal demi sejengkal
Terakhir aku melihat tubuh ini pada tanggal 18 april 2003 silam
Sudah enam tahun berselang
Rasanya seperti baru kemarin saja
Mengikuti perubahan suhu tubuh ibuku mulai dari masih hangat hingga akhirnya dingin seperti es

"Kalian datang...terima kasih. Ade kangen banget. Tiap malam ade selalu kirim doa dan pesan. Jangan pergi lagi ya...Karena selama kalian hidup dulu ade belum pernah mengatakan satu hal...ade..."

Lalu tiba-tiba aku terjaga.
Mereka hanya mimpi
Perlahan sebutir air mata turun dari mataku
Tapi segumpal rindu telah menyesakkan dadaku dalam sekejap
Kenapa mimpi itu hanya sejenak saja
Mana bisa menghapus rindu yang sudah amat panjang kelokannya
Padahal, aku hanya ingin mengatakan
"ade sayang banget sama kalian. Terima kasih untuk segalanya."

-----
Ketika baru saja terjaga dari tidur pendek disiang hari; 21 november 2009, pk. 14:52 wib.
penulis: ade anita (mataku bengkak habis menangis krn rindu; maaf tidak diedit lagi)

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…