badge

Kamis, 17 Desember 2009

Purnama di langit cerah

Cerpen by : Ade Anita

Bulan berwajah bundar lagi malam ini. Langit cerah tanpa bintang, sehingga kehadiran singgasana bulan di angkasa tampak bersinar tanpa ada saingan. Siapapun bisa menatap wajah purnama sang bulan, persis seperti yang dilakukan oleh seorang gadis dari dalam jendela kamarnya yang berada di lantai atas rumahnya. Arini namanya.

Arini menatap sang bulan sambil duduk di atas bingkai jendela kamarnya. Bulan purnama datang lagi. Itu artinya tiga bulan lagi menjelang pernikahannya. Ada sebuah perasaan yang sulit dilukiskan di hatinya menjelang saat itu tiba. Perasaan yang mengganggu pikirannya hari-hari belakangan ini, bahkan membuatnya kehilangan konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Hmm…, rasa takut itu kembali muncul. Akankah dia bahagia kelak dengan kehidupannya yang baru setelah menikah kelak ? Akankah sang Arjuna akan tetap menyayangi dia meski perubahan waktu akan membawa hal-hal yang tidak terduga kelak ? Bagaimana jika dia ternyata tidak bisa memberikan keturunan ? Bagaimana jika dia tidak cocok dengan keluarga suaminya ? Bagaimana jika sebaliknya yang terjadi ? Bagaimana jika suaminya mengharuskan dia untuk berhenti dari pekerjaan mapannya kini untuk berdiam di rumah ? Bagaimana jika orang tuanya yang telah menyekolahkannya merasa sayang melihat pendidikan yang telah dienyamnya bertahun-tahun menjadi sia-sia tak terpakai ? Bagaimana jika dia bosan dan jenuh dengan pekerjaan rutin rumah tangga ? Bagaimana jika datang gadis yang lebih menarik dalam perkawinannya dan gadis itu membuat suaminya beralih cinta ? Bagaimana … wah… ternyata ada beribu bagaimana dan pertanyaan lain yang membuat kegalauan di hatinya kian tidak menentu. Arini menundukkan kepalanya dan membuang napasnya agar rasa galau di hatinya ikut lenyap. Seharusnya sebuah pernikahan itu adalah peristiwa membahagiakan, tapi kenapa sekarang yang muncul adalah berjuta keraguan atas perolehan rasa bahagia itu. Ditatapnya kembali wajah rembulan. Rasa galau itu belum hilang, meski dia sangat ingin melenyapkan rasa yang sangat mengganggu itu.

---00000---


Sudah lebih dari satu jam Aditia mengamati pohon rambutan dengan teropong mininya. Arini mendekati adik semata wayangnya itu hati-hati.

“Lihat apa sih dik, dari tadi kok asyik banget.“ Perlahan dirangkulnya pundak Aditia dari belakang. Aditia menurunkan teropongnya dan menoleh menatap kakaknya.

“Lihat lebah mbak. Tuh…, lihat deh mbak. Mereka lagi boyongan mau pindah sarang.” Teropong itu kini disodorkan padanya. Arini meletakkan teropong itu di depan matanya.

“Yang mana dik ?” Aditia cepat memindahkan teropong itu kembali ke matanya sendiri, setelah mematok tempat, Aditia memberi isyarat pada Arini untuk mendekat. Di kedua lingkaran jendela teropong itu kini tampak sebuah barisan lebah-lebah yang terbang beriringan mondar-mandir keluar masuk sarang segi enam mereka yang masih tampak kokoh. Makhluk kecil itu tampak terbang mengepakkan sayapnya sementara tubuh bagian ekornya tampak condong ke bawah. Tentu lebah itu membawa serta madu yang dihasilkan tubuhnya sehingga terlihat keberatan begitu. Kepakan sayapnya tampak bergerak sangat cepat sehingga menimbulkan suara berdengung yang ramai. Asyik juga mengamati kesibukan para lebah ini. Pantas Aditia dari tadi begitu asyik di depan jendela diam tak bergeming mengamati. Arini meletakkan siku kedua tangannya di bingkai jendela agar posisi mengintipnya nyaman.

“Hei… nggak Dik. Mereka nggak semuanya pindah. Ada juga yang tinggal.” “Masa sih mbak ? Darimana mbak tahu ?” Aditia memberondong Arini dengan pertanyaan sambil menarik ujung kemeja Arini.

“Itu.. lihat deh. “ Arini memberikan teropongnya pada Aditia sehingga kini kegiatan mengintip lewat teropong itu sudah berpindah tangan.

“Ada lebah yang keluar saja, dan tidak masuk lagi, mereka terus masuk dalam kelompok lebah yang terbang menjauhi sarang menuju pohon lain, tapi ada juga lebah yang keluar dari sarang, terbang berputar memutari pohon untuk kemudian masuk lagi. Itu artinya mereka tidak ikut pindah, tapi mereka sedang bertugas untuk menjaga sarang dan mengawasi agar lebah yang pindah tidak merusak sarang yang mereka tinggalkan. Prajurit lebah namanya.” Aditia menjauhkan teropong dari depan matanya mendengar keterangan Arini dan menatap Arini dengan wajah keheranan.

“Prajurit lebah? Itu cerita khayalan mbak Arin atau kenyataan nih? Memangnya kerajaan apa, ada prajuritnya segala?” Arini bengong sejenak, tapi langsung nyengir kuda setelah melihat alis mata Aditia yang bertaut kebingungan. Diacaknya rambut Aditia dengan sebelah tangannya.

“Yeeee…, beneran dong. Masa khayalan. Hehehe….”

“Nih…, gini Dik. Dalam kehidupan lebah, hanya ada satu komando, yaitu sang ratu lebah. Ratu lebah itulah yang bertelur. Lebah lain yang ada di masyarakatnya, ada yang bertugas untuk mencari madu,. Ada yang bertugas untuk menjaga sarang dari ancaman musuh, ada juga yang bertugas untuk menjaga telur-telur dan menyimpan madu yang dikumpulkan oleh lebah pekerja. Kerja sama dalam pembagian tugas ini yang membuat para lebah masing-masing bisa konsentrasi menghasilkan yang terbaik bagi masyarakatnya. Tapi, suatu saat, akan muncul lebah betina muda yang kualitasnya sama bagusnya dengan Ratu lebah. Karena tidak boleh ada dua Ratu, maka sang Ratu baru ini akan pindah mencari sarang baru, dan dia bisa membawa serta lebah-lebah pengikutnya untuk membuat koloni baru tersebut.” Aditia mendengarkan keterangan Arini tanpa berkedip. Bahkan tidak ada reaksi yang terjadi ketika teropong di tangannya diambil oleh Arini.

“Tuh…. Mereka menuju pohon nangka di rumah pak Haji Soleh di depan sana. Itu artinya sarang baru mereka di sana insya Allah.” Tidak ada reaksi apa-apa atau komentar sedikitpun dari Aditia selain,

“Mbak… kenapa mereka nggak berbagi tempat saja yah ? Membangun dari awal kan sulit, banyak resikonya. Padahal mereka di tempat yang lama sudah kenal dengan segala macam situasi, namanya juga lahir dan besar di sana. Kalau di tempat baru kan, masih asing. Belum bikin sarangnya yang buang waktu, belum nyari tempat buat nyari makanan, belum harus merhatiin takut kalau-kalau di tempat baru ternnyata nggak cocok dan nggak senyaman di tempat lama.” Aditia bertanya setengah bergumam.

Arini tidak langsung memberikan jawaban. Ditatapnya adik semata wayangnya itu dengan rasa sayang. Perbedaan usia di antara mereka cukup jauh. Arini masih duduk di SMP dan sudah merasa bahwa dia akan menjadi anak tunggal selamanya ketika ibu tirinya datang memberi tahu bahwa beberapa bulan lagi dia akan mendapatkan adik baru. Ibu kandung Arini memang sudah meninggal sejak Arini berusia sembilan tahun dan ayahnya menikah lagi empat tahun kemudian. Ibu barunya itulah yang memberinya adik baru bernama Aditia. Kebahagiaan mendapatkan adik baru itu, meski dari ibu yang lain, telah terwujud dalam perasaan sayang yang terasa tidak pernah mengering dari hari ke hari. Mungkin karena perbedaan usia yang jauh sehingga Arini sudah cukup mengerti bagaimana caranya menerima kehadiran adik baru.

“Mbak… ! Kok bengong sih ditanyain ?” Aditia mengguncang lengan Arini.

“Hmm, segala sesuatu itu sudah ditentukan jalannya oleh Allah dik.“

“Maksudnya mbak ?”

“Begini…,” Arini meneguk air liurnya sejenak, sekedar untuk membasahi tenggorokkannya yang terasa kering.

“Segala sesuatu di muka bumi ini dalam penciptaannya sudah diperhitungkan oleh Allah dalam sebuah ketetapan. Misalnya, tikus yang suka makan padi di sawah, ditetapkan akan mati dimakan oleh ular sawah. Karenanya, tikus yang bisa berkembang biak dengan sangat cepat itu tidak meraja lela di sawah pak tani. Nanti ular yang memakan tikus itu, akan dimakan oleh burung elang, burung elang akan dimakan oleh ular yang lebih besar dan lebih berbisa lagi, ular itu akan dimakan oleh harimau…begitu seterusnya.”

“Seperti siklus daur makanan di pelajaran biologi yah ?” Aditia bertanya sambil mengulum senyum dan duduk di sisi Arini.

“Betul. Kamu sudah sampai situ yah pelajaran biologinya ?” Arini mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut kepala adiknya itu.

“Iyah. Ekosistem namanya.” Aditia memberi keterangan dengan mimik wajah serius.

“Iyah, betul ekosistem namanya. Yah…, begitu deh dik. Al Quran sebenarnya sudah memberi pengajaran tentang pelajaran ekosistem itu terlebih dahulu jauh sebelum para ilmuwan biologi mengemukakan teori ekosistemnya. Semuanya disebut sebagai ketetapan dari Allah bagi manusia dan bumi tempat tinggalnya. Allah itu sudah memperhitungkan atas segala sesuatu yagn diciptakanNya, dan perhitungan Allah itu sudah meliputi mulai hal yang rumit sampai hal paling sepele. Tidak ada yang sia-sia dalam ciptaanNya. Kita meyakininya sebagai takdir yang sudah ditetapkan atas segala sesuatunya. Jadi tiap-tiap makhluk itu sudah ditentukan bahwa dia akan berjalan menggunakan kakinya misalnya, atau si A terlahir sebagai wanita sedangkan B sebagai pria, atau gajah akan mengibaskan telinga lebarnya agar tubuh besarnya tetap dalam keadaan seimbang dan kulit tebalnya tidak menimbulkan rasa penat kepanasan. Lembu yang sulit mengusir kutu-kutu di tubuhnya akan dibantu oleh burung yang akan memakan kutu-kutu itu. Itulah takdir, ketetapan Allah atas segala sesuatunya. Setiap kelemahan yang ada pada setiap makhluk ciptaan Allah selalu diiringi dengan kelebihan tersendiri dan itulah yang menjadi perlindungan bagi makhluk itu.”

Arini berhenti bicara dan mendapati Aditia sedang menatapnya tanpa berkedip dengan mulut menganga. Adiknya itu tampak mempertautkan kedua alisnya dan keningnya pun tampak berkerut-kerut. Wah, pasti tadi Arini sudah terlalu bersemangat bercerita panjang lebar mengalahkan semua singa podium. Arini tersenyum sumringah, malu sendiri.

“Bingung yah Dik ?” Arini menjentikkan dagu Aditia yang turun ke bawah hingga mulut Aditia yang terbuka karena bengong tertutup. Tapi Aditia mengangguk cepat sebagai reaksi akhirnya.

“Iyah.. ribet banget sih mbak neranginnya. Puanjanggggggg kayak kereta api. ” Arini tersenyum dan mengacak-acak rambut Aditia.

“Hmm, kalau gitu…, kamu ambil Al Quran dan ensiklopedia tentang lingkungan hidup gih, mbak terangin satu-satu.”

“Hah ?” Aditia menatap Arini masih dalam sisa bengongnya.

“Ngaji ? Ihhhh…, malas ah ! Nanti juga Adit ngaji di TPA.” Aditia spontan bangkit berdiri dan berjalan mundur menjauhi Arini.

“Yee…, bukan lagi. Kita belajar eh bukan… kita buat penelitian tentang lingkungan sekitar, hmm, soal lebah juga boleh dibahas nanti, tapi dihubungkan dengan Al Quran, asyik loh… tadabur alam namanya. “ Aditia masih menatap Arini ragu-ragu. Arini hanya tersenyum dan memasang wajah serius buru-buru.

“Pokoknya beda deh ama ngaji kayak di pengajian itu, ini lebih asyik.” Tidak ada reaksi dari Aditia, yang ada adalah rasa kurang percaya yagn terlukis di wajahnya.

“Coba dulu, kamu belum tahu kan, jadi jangan curiga dulu bahwa hal ini akan membosankan.” Glek ! Arini jadi teringat sesuatu. Astaghfirullah, itulah yang terjadi pada dirinya sendiri beberapa hari belakangan ini. Rasa curiga, prasangka buruk akan ketetapan hari esok yang akan dia jalani.

Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengingatkan hamba hari ini.

Kehidupan setiap makhluk itu sudah diperhitungkan oleh Allah, dan Allah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dan Pengasih. Dia tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan hambaNya. Jadi apapun yang terjadi di hari esok tentunya sudah ada dalam perhitunganNya. Kenapa harus ragu dan bingung ? Wahh.. kenapa bisa lupa yah ? Arini semakin mantap kini dan itu mempengaruhi semangatnya untuk menerangkan banyak hal pada adik semata wayangnya itu. Semua pertanyaan dia coba jawab dengan kalimat sederhana dan santai dan dicoba untuk dikaitkan dengan Al Quran, agar adiknya tidak lagi mempunyai prasangka bahwa mengkaji Al Quran itu adalah sesuatu yang membosankan. Untuk jatuh cinta pada Al Quran itu harus dimulai dengan mengenalnya terlebih dahulu.

“Mbak…, memangnya ada yah binatang menyusui yang bertelur ?” Aditia tidak henti-hentinya bertanya, hingga matahari condong ke arah barat, dan azan ashar terdengar di kejauhan.

Nanti malam, bulan purnama muncul lagi, dan insya Allah itu adalah bulan purnama terakhir yang bisa Arini nikmati dari bingkai jendela kamarnya sebagai seorang gadis, karena minggu depan dia akan menikah. Arini tersenyum dalam hati, keyakinannya akan perlindungan Allah kian menancap erat di dalam hati. Terserah bagaimana warna hari esok, karena yang utama itu adalah apa yang kita usahakan hari ini. Jika kita melakukannya dengan baik insya Allah hasilnya akan baik pula dan akan lebih baik lagi jika diiringi dengan tujuan hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah semata. Subhanallah, Maha Suci Allah.

---00000---


“Dia Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya takdir (ketetapan) yang sesempurna-sempurnanya “(QS. 25 :2)

“Dan tidak sesuatu pun kecuali ada di sisi Kami khasanah (sumber)nya dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan kadar (ukuran) tertentu”(QS. 15 :21)

dimuat di www.kafemuslimah.com

Rabu, 16 Desember 2009

Pada sebuah Kepastian dan sebuah Ketidak Pastian

Sebutkah satu saja hal yang paling pasti datangnya.
Jawabnya bukan cinta. Apatah lagi nasib baik atau peruntungan.

Saya kenal seseorang yang selalu mengedepankan logika dalam segala sesuatu yang dia kerjakan. Segala sesuatunya selalu disertai alasan yang masuk akal. Bahwa setelah siang pasti ada malam. Bahwa dahaga akan hilang segera setelah kita minum. Dan lapar akan sirna segera setelah kita makan. Bahwa satu ditambah satu pasti dua. Dan dua dikali dua pasti empat.

Bahwa kedudukan pasti akan datang pada mereka yang mau berusaha keras mengejarnya. Bahwa penyakit akan pergi menyingkir ketika kita giat mencegahnya dengan berbagai kiat sehat.

Suatu hari, ketika kakinya yang kuat dan perkasa itu sedang berjalan di atas titian yang beraspal halus tanpa lubang atau undakan, dia terjatuh bersimpuh. Kakinya sakit jika ditegakkan. Setelah dibawa ke dokter, ternyata dia terkena osteoporosis. Begitu pernyataan dokter setelah dia melalui serangkaian pemeriksaan yang seksama.
Tiba-tiba, seribu tanda tanya muncul di atas kepalanya. Ujung tajam jarum yang berkilat memecahkan gelembung tanda tanya itu satu persatu tapi tanda tanya itu tidak jua berkurang jumlahnya. Menyiramkan cairan bingung di wajah teman saya itu seketika. Terguyur oleh rasa tidak percaya atas kenyataan yang baru saja didengarnya.
Bagaimana tidak? Teman saya itu seorang instruktur senam aerobic. Berbagai macam gaya aerobic telah dia pelajari dan akhirnya dia sebarkan lewat pengajaran senam di studio senamnya yang mapan. Pola hidup sehat adalah sesuatu yang harus senantiasa dikunyahnya setiap hari. Tapi mengapa hantu osteoporosis malah datang menguntitnya?

“Ternyata, apa yang pasti itu tidak pasti ya De di dunia ini. Selalu datang sebuah kenyataan baru yang justru membalik kenyataan yang telah kita yakini selama ini. Kadang, penyebabnya tidak diketahui pasti. Tapi, aku merasa, dia datang khusus untuk menegurku bahwa ada campur tangan Tuhan dalam segala sesuatunya, termasuk pada sesuatu yang sudah amat pasti menurut logika manusia.”

Aku tersenyum. Entah mau member komentar apa. Membiarkan kenyataan ini mengendap begitu saja menjadi seperti semen yang terus bertahan menempel di dinding bata. Mungkin hingga terik matahari membuatnya amat kering lalu mengelupasnya satu persatu. Cecerannya jatuh ke atas lantai. Angin menerbangkannya hilir mudik tak tentu arah hingga menghilang. Hingga kejadian ini terlupa begitu saja.
Hingga aku bertemu dengan seorang teman lama. Hingga aku terperangah melihat keberadaannya sekarang.

Dahulu, temanku ini bisa dikatakan anak yang nakal. Sekolah harus dipaksa dahulu oleh orang tuanya. Bisa jadi, jika ibunya tidak pernah punya persediaan air mata untuk membujuk, mungkin dia tidak akan pernah duduk di bangku sekolah. Atau jika ayahnya tidak pernah memakai sabuk pinggang yang gampang dilepaskan dari lilitan di lingkar pinggang celana panjangnya, temanku ini tidak pernah mau belajar.

Terus terang. Dahulu aku hampir pasti menduga bahwa dia akan menjadi seorang sampah masyarakat ketika sudah dewasa nanti. Kebisaannya hanyalah memaksa orang untuk mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan ke pundaknya. Sementara dia berjalan dengan ringan membawa hasil pekerjaan yang tidak pernah dia kerjakan, temannya mengiriminya seribu kutukan dan sumpah serapah. Tak jarang kehadirannya merupakan hal pertama yang paling tidak diinginkan oleh teman-temannya. Bagaimana tidak jika sehari-hari pekerjaannya hanyalah mabuk, memaki dan menggoda anak perempuan yang lewat di depannya dengan menarik rok mereka ke atas. Gara-gara dia, setiap kali lewat tempat dia nongkrong dengan teman-teman gangnya yang brutal-brutal, saya selalu berusaha menonggoskan gigi seri atas saya. Lalu menjerengkan kedua bola mata saya. Terkadang, jika sedang kena flu, saya biarkan ingus saya menggelantung di atas bibir saya. Biar saja si hijau itu jadi hiasan pengganti kumis. Ya. Itu harus. Karena gadis dengan wajah yang menjijikkan tidak akan digodanya. Saya selalu ingin menjadi gadis dengan wajah yang menggelikan, gadis yang amat sangat buruk rupa, gadis yang tidak punya nilai kecantikannya sama sekali jika lewat di depan hidungnya.

Dialah calon sampah masyarakat. Persangkaan itu yang ada didalam kepala saya. Bibit-bibit ke arah itu sudah amat kentara menunggu disemai. Pasti buahnya busuk dan bunganya memuakkan.

Tapi persangkaanku itu runtuh seketika ketika akhirnya aku bertemu denganya tanpa sengaja tiga puluh tahun kemudian. Di sebuah mushalla kecil di tepi kampung. Tubuhnya tetap kurus dan kerlingan matanya tetap sama seperti dulu. Hanya saja, kerlingan mata itu hanya sekejap menatap, tidak ada lagi kerlingan nakal. Yang ada adalah kesantunan dan kesopanan dengan cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke sudut yang lain selain diri saya. Dia sekarang juga tidak lagi memiliki seringai yang menyeramkan seperti dulu. Yang membuat saya sangat ingin memiliki ilmu menghilangkan diri dalam seketika. Wajahnya amat teduh dan perilakunya amat santun.

“Saya mengajar ngaji disini. Setiap siang hingga menjelang malam, selalu ada saja yang meminta untuk dituntun membaca Al Quran. HIdup hanya sebentar, saya tidak mau mendapat rugi yang terlalu lama. Sambil menunggu kematian yang pasti akan datang.”
Takjub. Subhanallah. Lalu saya tiba-tiba ingat kenangan yang tersapu angin yang nakal. Tentang sebuah kepastian yang belum tentu pasti. “…bahwa ada campur tangan Tuhan dalam segala sesuatunya, termasuk pada sesuatu yang sudah amat pasti menurut logika manusia.”
----------------
Penulis: Ade Anita. menjelang 1 muharram 1431 H

Yang disayang dan yang dibenci

Serpihan yang tercecer di tahun 2009-nya ade anita

Yang disayang dan yang dibenci

Perempuan tua itu sudah sepuh. Aku mengetahuinya dari keriput yang menempel di seluruh permukaan kulitnya yang kusut. Meski begitu, semangatnya tetap membara. Dengan langkah tertatih, dia susuri jalan berbatu dan berdebu. Tak peduli lagi pada langkah kakinya yang sudah setengah menyeret karena tulang betis yang mulai mengintip dari bekas kulit yang terbakar api.

“Ini luka bakar nak. Ibu dapat ketika kompor minyak dirumah ibu meleduk. Tapi ibu tidak apa-apa, ini berkat anak-anak ibu yang manis, semuanya ada tiga ekor.”
Tiga? Manusia seperti apakah dia yang memiliki anak yang memiliki ekor? Diam-diam aku menatap punggungnya. Khayalan dan paranoidku datang menyergap. Jangan-jangan aku berbicara dengan seorang siluman. Ternyata anak yang dimaksud adalah tiga ekor kucing kampung. Yang dipeliharanya sejak anak kandungnya meninggal dunia akibat tersiram air panas.

“Anak kandung ibu usianya 32 tahun. Sudah tua, laki-laki, tapi mental retarded. Suami ibu sudah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu. Lima tahun sebelum anak kandung ibu meninggal dunia. Ibu sudah tua, lelah bekerja sendirian mencari uang sekaligus merawat anak yang cacat. Suatu hari ibu tertidur di meja dapur. Anak itu haus lalu langsung meraih ceret air panas dan langsung menuangkannya ke dalam mulut. Lalu dia mati seketika.”

Aku merinding mendengar ceritanya. Tapi tak tampak setitikpun air mata di bola mata ibu tua tersebut. Bola mata yang berwarna kelabu. Dengan kelopak yang sayu dan kerutan yang tampak kusut masai disekeliling bola mata tersebut. Beberapa permukaan kulitnya tampak terkelupas. Mungkin sudah terlalu kering. Karena air mata ibu tua ini sudah lama terkuras habis oleh derita.

“Sabar bu. Ibu amat luar biasa, bisa amat sabar dengan kehilangan yang beruntun.” Aku berkata padanya sambil menahan tangis. Kugenggam jemari tangannya yang gemetaran. Telapak tangannya dingin seperti batu es. Beberapa butir nasi tampak masih menempel di ujung jemari tangannya. Kami memang bertemu ketika beduk Azan Maghrib baru saja selesai berbunyi. DI pelataran masjid Al Azhar di suatu sore di bulan Ramadhan 2008.

“Tidak ada yang hilang nak. Semua yang hilang sudah diganti dengan yang lebih baik. Ibu kehilangan seorang anak yang terbelakang, tapi seminggu kemudian ibu bertemu dengan tiga ekor kucing yang pintar-pintar. Ibu beri mereka makan, ibu mandikan, ibu beri juga tempat layak untuk mereka tidur. Lalu ibu pun ditemani, dibangunkan setiap kali azan berbunyi, ditemani ketika ibu merasa kesepian, dan dihibur ketika ibu merasa sedih.”

‘Dimana ibu tinggal? Tinggal sama siapa?”

“Ibu tinggal di Bekasi nak. Tinggal seorang diri. Suami ibu hanya meninggalkan satu orang saja anak yang bodoh. Ketika mereka berdua sudah pergi, ibu tidak punya siapa-siapa lagi. Itu sebabnya, suatu hari, ketika ibu tertidur ketika sedang menanak nasi, tiba-tiba kucing ibu menjilati muka ibu, menggigit ujung jari ibu dengan keras. Nggak taunya, kompor minyak tanah ibu meleduk. Api sudah menjilat dinding. Langsung ibu teriak minta tolong sama tetangga sambil melempar keset basah ke atas kompor. Kenalah betis ibu ini cipratan apinya. Tapi Allah belum berkenan memanggil ibu menghadapNya. Ibu masih selamat . Itu semua berkat tiga ekor anak-anak ibu yang pintar-pintar itu.” Aku merinding mendengar ceritanya. Mungkin merinding menyaksikan rasa sayang yang amat besar ibu tersebut kepada hewan berkaki empat dan berbulu lebat tersebut. Atau mungkin juga merinding mendengar cerita heroik tiga ekor kucing. Atau…. Merinding mendengar kata kucing.

Entahlah.

Aku takut pada kucing. Mungkin Fobia. Tapi bisa juga jijik dan tidak suka. Lebih lengkapnya benci.

Entah sejak kapan rasa benci ini bermula. Awalnya mungkin ketika masih kecil, aku yang selalu tertidur diatas lengan ayah suatu hari terbangun karena mendengar ayahku berteriak kesakitan. Ternyata jari telunjuk ayahku digigit oleh seekor kucing. Luka sayatan itu menimbulkan luka yang cukup dalam. Itu untuk pertama kalinya aku melihat betapa seekor binatang kaki empat bisa punya kekuatan untuk melukai manusia. Aku tidak suka melihat darah yang terus mengalir dari jemari ayahku itu. Mungkin itu awalnya aku tidak suka kucing.

Tapi bisa juga, awalnya karena sering sekali aku mendapati darah berceceran di dalam lemari pakaianku. Itu adalah darah yang keluar dari seekor induk kucing yang melahirkan anak-anaknya di dalam lemari pakaianku. Bayangkan jika sedang asyik mengaduk pakaian untuk mencari model apa yang akan dikenakan, tiba-tiba ujung jemari kita menyentuh cairan lengket dan berlendir yang amis. Lalu belum habis rasa heran, tiba-tiba ada sesuatu yang menyakitkan menyentuh ujung jemari. Itulah gigitan induk kucing yang merasa terancam dan menyangka ada makhluk lain yang akan memangsa anak-anaknya.

Entah mana yang lebih dahulu ada dan cukup berkesan bagi diriku yang masih kecil sehingga akhirnya aku amat membenci hewan berkaki empat ini.

Sayangnya, ini Indonesia, bukan Brasil. DI Brasil, kucing masih diburu untuk disantap orang dengan cara membakarnya serupa hidangan panggangan seperti sate atau sejenisnya. Di Indonesia, banyak orang yang menyangka bahwa kucing adalah binatang yang harus disayang dan dihormati. JIka di jalan raya ada seekor anak itik yang lucu dan lemah tertabrak kendaraan, tak seorangpun yang peduli. Ayam, itik, tikus, orang miskin, gembel, pengemis, sama saja kedudukannya. JIka tertabrak di jalan raya, mereka bisa ditinggal kabur begitu saja. Mayat mereka bisa membusuk di atas dipan rumah sakit tanpa ada seorang pun yang peduli. Tapi ketika seekor kucing tertabrak mobil, mati atau tidak mati, pengendara mobil akan mengusahakan untuk menghentikan kendaraannya seketika itu juga. JIka mati, maka dengan hati-hati dan penuh khidmat, mayat kucing itu akan dikubur di dalam tanah. Beberapa ada yang menyertai pemakamannya dengan doa agar terhindar dari mara bahaya. JIka ternyata belum mati, maka dibawalah pulang ke rumah untuk diobati, diberi makan, setelah itu baru dilepas lagi. Derajat kucing benar- benar tinggi disini.

Meski demikian, tetap saja, aku tidak suka pada kucing. Benci sangat pada binatang kaki empat ini. Takut pula.

Pernah suatu hari, rumahku amat sangat panas hawanya. Maka pintu depan kubuka dengan maksud agar angis sudi mampir sejenak dan bersilaturahmi sejenak di rumahku. Tapi lain yang diharap, lain pula yang dapat. Angin tak terjaring justru kucing yang mampir. Aku takut. Spontan aku masuk ke dalam kamar lalu menelepon ayahku yang jarak rumahnya sebenarnya cukup jauh dari rumahku.

“Ayah, ada kucing masuk rumah ade. Ade takut. Nggak bisa ngusirnya.” Lalu aku mengharap keajaiban datang sambil berdiam diri di dalam kamar. HIngga ayah datang dengan mobilnya dan mengusir kucing tak diundang tersebut pergi. Sudah itu ayah pulang lagi ke rumahnya.

Aku benci kucing tapi suasana perkucingan terus menyelimuti rumahku. Entah sudah berapa kali kucing-kucing orang lain numpang melahirkan di rumahku. Dan tidak terhitung lagi mereka yang nunpang buang kotorannya di halaman rumahku. Yang terakhir, ada yang numpang menghembuskan nafas terakhirnya di rumahku.
Lalu harus bagaimana lagi aku berkata pada kucing-kucing itu agar tidak lagi datang mengunjungi kehidupanku?

Pernah aku punya boneka kecil yang amat lucu. Menurutku itu boneka anak anjing atau anak beruang. Warnanya putih dengan coreng coklat di hidungnya. Lucu sekali. Sering aku ajak ngobrol jika sedang mencari ide untuk menulis. Anak-anakku tahu aku amat menyayangi boneka tersebut. HIngga suatu hari suamiku berkata, bahwa boneka itu boneka anjing. DIamini juga oleh anak-anakku yang mengamati dengan seksama. Aku bersikeras itu boneka beruang. Tapi akhirnya terpengaruh. Lalu mulai memperhatikan wajahnya lamat-lamat. HIngga tiba-tiba muncul perasaan bergidik dan mual. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri meremang. Ya. Si beruang amat mirip kucing ternyata. Detik itu juga boneka kesayangan itu aku buang jauh-jauh. Tidak ada lagi boneka kesayangan. Hilang.

“Kamu tahu nak. Ketika anak ibu berada di usia remaja, ibu amat berharap dia cepat mati. Ibu sudah kehilangan banyak sekali waktu dan energy untuk mengurusnya. Memandikan tubuh besarnya yang kian hari kian berat. Menyuapi mulutnya yang terus berceracau tidak karuan sambil terus meneteskan air liur yang tidak ada habis-habisnya menetes dari sela-sela bibirnya yang tidak pernah tertutup rapat.
Membersihkan kotorannya yang kian hari kian bau dan menjijikkan. Tapi, yang cepat mati ternyata malah orang-orang yang ibu sayangi. Orang tua ibu, suami ibu, juga saudara-saudara ibu. Akhirnya ibu berhenti berharap yang tidak-tidak. Ibu sadar, ternyata bukan kita yang mengetahui apa yang terbaik untuk diri kita sendiri. Tetap Allah jualah yang Maha Mengetahui semua hal itu. Akhirnya ibu belajar untuk ikhlas. Ibu belajar untuk sabar. Siapa sangka, akhirnya Allah mengirimkan tiga ekor makhluk yang amat sangat menyayangi ibu dan ibupun amat sangat menyayangi mereka. Mereka menjaga ibu dengan caranya sendiri, dan ibu pun menjaga dia dengan cara ibu sendiri. Tapi kami saling tolong menolong. Mungkin hingga nanti. Hingga maut memisahkan kami. Berkat mereka, sekarang ibu bisa tenang beribadah ke masjid. Untuk ikhtikaf seperti sekarang, untuk berpuasa dengan lebih sabar dan lebih bersyukur. Subhanallah wal Alhamdulillah.” Lalu kalimat puji-pujian pun mengalir deras dari bibir wanita tua yang mulai sepuh itu. KOndisi yang aku ketahui dari keriput yang mulai menempel kusut masai di seluruh permukaan kulitnya.

Lalu Ramadhan 2009 ini, aku tidak lagi bertemu dengan wanita tua ini.
Penulis: Ade Anita

Perempuan Tanpa Bola Mata

Kumpulan serpihan 2009-nya ade anita
Yang kasat Mata dan Yang tidak kasat mata

Tulisan ini terinspirasi tulisan teman saya Sofie Yupitasari. Tentang pengalaman dia bertemu dengan makhluk yang tidak kasat mata. Tiba-tiba saja, saya jadi ingat pengalaman saya ketika masih kecil. Lebih tepatnya ketika duduk di bangku Sekolah Dasar.

SD saya, ada di tengah kampung. Dulu, era tahun 70-an (saya lulus SD tahun 1983) Jakarta memang belum se-metropolitan seperti sekarang. Jadi, daerah Pengadegan masih merupakan sebuah kampung. Dalam arti, rumah-rumah orang-orang asli Betawi masih banyak sekali di sekeliling saya ( I wonder… kenapa banyak sekali kata sambung disini?). Tidak seperti sekarang yang kebanyakan telah dihuni oleh kaum pendatang yang sukses membeli tanah penduduk asli Betawi dan penduduk asli Betawinya mengungsi ke daerah Citayem, Bogor.

Baik. Kembali ke cerita tentang saya sebagai anak SD. Karena rumahnya masih di daerah perkampungan, maka otomatis begitu juga dengan sekolahnya. SD saya adalah SD Inpres yang berada di tengah perkampungan. Dulu, waktu kelas satu, dua hingga tiga SD, SD kami termasuk SD yang mendapat bantuan segelas susu gratis setiap pekannya dari PBB. Ini untuk menggambarkan betapa SD saya bukan SD tempat orang-orang kaya menyekolahkan anak-anaknya. Juga bukan SD plus yang punya banyak fasilitas dari hasil sumbangan orang tua murid. Saya penggemar susu. Begitu gemar susu hingga ibu terpaksa harus membuat peraturan berapa gelas susu yang bisa saya minum dalam seharinya. Tidak boleh lebih dari tiga gelas. Susu memang barang mahal dahulu, mungkin setara dengan harga sepiring nasi dan lauk pauk ayam penyet. Tapi sebagai penggemar susu, saya lebih rela tidak makan sepiring nasi dan ayam penyetnya daripada tidak minum susu. Mungkin itu sebabnya badan saya dulu amat sangat langsing (hei! Kenapa baru terpikir sekarang cara mengurangi berat badan sekarang saya? Hahaha.. . dulu saya kurus sekali tapi sekarang subur sekali).
Oke ade. Kembali ke topik. Kembali ke topik. Kenapa sih suka OOT sendiri?
Nah. Karena SD saya ada di tengah perkampungan (pasti sudah hapal dong prolog yang ini..hehehehe); maka di sekeliling SD saya banyak sekali pepohonan. Pohonnnya besar-besar dan rimbun-rimbun. Akar-akarnya yang besar kadang mencuat keluar dari tanah dan bisa kita duduki seperti halnya bangku kayu. Akar yang menjuntai bisa dipakai untuk mengikat ban besar yang akhirnya berubah fungsi menjadi ayunan. Kadang, jika sedang main petak umpet, pohon besar itu benar-benar seperti pohon yang ada difilm-film kartun, karena bisa dipakai untuk tempat bersembunyi. Saya senang main di sekitar pohon-pohon besar itu.

Suatu hari, teman sekelas saya mengajak saya menemaninya pulang ke rumah untuk mengambil buku PR yang tertinggal di rumahnya. Maka, kamipun pergi jalan kaki berdua melewati gugusan pohon-pohon besar tersebut. Ketika itulah saya melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh teman saya. Saya melihat seorang perempuan berambut panjang sekali, hingga melebihi kakinya, dengan gaun putih yang panjang menjuntai, dengan tangan yang terbentang seperti sedang disalib, sedang menari-nari berayun-ayun di pucuk teratas sebuah pohon besar.

Tidak ada penyangga di bawahnya. Juga tidak ada alas yang cukup kuat untuk tempatnya berpijak. Perempuan itu lebih tepat disebut mengambang di atas pucuk pohon. Dia tidak peduli pada sapuan angin yang membuat pucuk pohon meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri. Juga tidak peduli pada awan yang kelihatan melintas hanya beberapa jengkal dari tempatnya berdiri.

Wajah perempuan itu amat putih seperti tersiram cat dinding yang kebanyakan campuran airnya. Kantung matanya hitam seperti lebam. Saya langsung menundukkan kepala setelah beberapa saat terperangah melihatnya. Terlebih karena saya merasa bahwa perempuan itu sadar bahwa saya bisa melihatnya dan langsung menghentikan tariannya lalu menatap balik ke arah saya. Lurus dengan tatapan mata yang menghuncam dan meremangkan bulu kuduk. Mata kami sempat bertemu pandang sejenak sebelum saya memalingkan wajah. Menunduk karena takut.

Sejak itu saya jadi tidak berani tidur sendirian. Saya juga tidak berani lagi tidur menghadap selain tembok. Posisi tidur saya satu, menghadap tembok. Di belakang saya harus selalu ada dua buah guling yang menyanggah punggung. Harus. Saya selalu merasa, bahwa jika terjadi sesuatu dan ternyata pemilik wajah menyeramkan itu mendatangi saya, lalu ingin membunuh saya, lebih baik saya berakhir dengan cara tidak pernah melihat wajah dan perbuatannya. Mungkin sakit di daerah punggung tapi lalu mati dengan tenang. Kenangan terakhir saya hanyalah tembok kamar yang bisu. Ah…. Pemikiran kanak-kanak yang dangkal.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun tidur dengan posisi seperti ini, posisi rahang saya pun mengalami pergeseran tidak normal. Rahang saya menjadi miring. Ketika SMA, terpaksa saya harus mengikuti perawatan Ortho untuk memperbaiki rahang miring tersebut. Perlu waktu hampir 3 tahun hingga akhirnya rahang ini nyari kembali ke posisinya (sampai sekarang tidak murni 100 % kembali normal posisinya).

Tapi tidak berhenti sampai disitu. Sejak saat itu, saya jadi sering bertemu tanpa sengaja dengan makhluk-makhluk tidak kasat mata tersebut. Seperti ketika saya tidak bisa tidur suatu malam (dan memang saya sering tidak bisa tidur jika malam ketika masih remaja dahulu). Saya keluar menuju teras kamar.

Rumah saya bertingkat. Jumlah kamar di rumah tersebut ada tujuh. Empat di lantai bawah dan tiga di lantai atas. Ada sebuah teras yang cukup lebar dan panjang untuk kita sekedar berjalan-jalan hilir mudik mencari ide, mengambil napas atau bermain masak-masakan disana. Ya. Semua kamar di lantai atas memang diperuntukkan orang tua saya untuk semua anak perempuannya yang berjumlah tiga orang.

Suatu malam, ketika saya sedang mencari udara segar karena tidak bisa tidur, saya melihat sebuah sosok di atas genteng rumah induk. Sosok perempuan dengan mukenah dan sarung putihnya sedang shalat di atas genteng. Saya terpaku melihatnya. Bagaimana mungkin dia bisa sempurna berdiri di atas kemiringan atap? Setelah selesai salam, perempuan itu menoleh dan langsung mata saya dan matanya bertemu. Subhanallah. Wajahnya putih sekali dan bola matanya hitam sekali (tidak ada putihnya). Saya langsung merasakan lutut saya gemetar. Dengan langkah tergesa-gesa saya langsung meraih pintu masuk, lalu berlari menuju kamar, berselimut hingga leher dan langsung tidur menghadap dinding lagi. Di hari-hari selanjutnya saya jadi sering melihat perempuan itu shalat di tempat-tempat yang tidak masuk akal. Di atas loteng tempat kuda-kuda rangka atap malang melintang; di atas pohon rambutan; dan sekali pernah di dalam kamar kakak. Sampai sejauh ini, kami tidak pernah berkomunikasi (uhhh, jangan sampai!).

Itu yang terlihat. Yang tidak terlihat rasanya sudah tidak terhitung. Pernah suatu malam ketika saya sedang mengetik (karena hanya di waktu malam ketika semua orang sudah jatuh tertidurlah waktu yang tepat untuk menulis), tiba-tiba saya mendapati bola basket terlempar di belakang punggung saya dan hup.. masuk ke dalam keranjang basketnya.

Ya. RUmah saya yang sekarang, memang di ruang keluarganya digantung ring keranjang basket. Sehingga kami sekeluarga bisa bermain basket kecil-kecilan di dalam rumah. Jarak antara ring basket dan meja belajar lebih kurang satu meter. Saling belakang membelakangi.

Ya. Seperti teman saya Sofie katakan dalam notesnya, bahwa dimensi lain di luar kehidupan kita memang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Yang penting mungkin saling menghormati keberadaan masing-masing dan tidak merusak keimanan kita. Karena semua makhluk di atas bumi ini, adalah ciptaan Allah SWT dan berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Allah SWT.
------
Penulis: Ade Anita

Rabu, 09 Desember 2009

Be a Writer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...