Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2009

Purnama di langit cerah

Cerpen by : Ade Anita

Bulan berwajah bundar lagi malam ini. Langit cerah tanpa bintang, sehingga kehadiran singgasana bulan di angkasa tampak bersinar tanpa ada saingan. Siapapun bisa menatap wajah purnama sang bulan, persis seperti yang dilakukan oleh seorang gadis dari dalam jendela kamarnya yang berada di lantai atas rumahnya. Arini namanya.

Arini menatap sang bulan sambil duduk di atas bingkai jendela kamarnya. Bulan purnama datang lagi. Itu artinya tiga bulan lagi menjelang pernikahannya. Ada sebuah perasaan yang sulit dilukiskan di hatinya menjelang saat itu tiba. Perasaan yang mengganggu pikirannya hari-hari belakangan ini, bahkan membuatnya kehilangan konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Hmm…, rasa takut itu kembali muncul. Akankah dia bahagia kelak dengan kehidupannya yang baru setelah menikah kelak ? Akankah sang Arjuna akan tetap menyayangi dia meski perubahan waktu akan membawa hal-hal yang tidak terduga kelak ? Bagaimana jika dia ternyata tidak bisa memberikan ket…

Pada sebuah Kepastian dan sebuah Ketidak Pastian

Sebutkah satu saja hal yang paling pasti datangnya.
Jawabnya bukan cinta. Apatah lagi nasib baik atau peruntungan.

Saya kenal seseorang yang selalu mengedepankan logika dalam segala sesuatu yang dia kerjakan. Segala sesuatunya selalu disertai alasan yang masuk akal. Bahwa setelah siang pasti ada malam. Bahwa dahaga akan hilang segera setelah kita minum. Dan lapar akan sirna segera setelah kita makan. Bahwa satu ditambah satu pasti dua. Dan dua dikali dua pasti empat.

Bahwa kedudukan pasti akan datang pada mereka yang mau berusaha keras mengejarnya. Bahwa penyakit akan pergi menyingkir ketika kita giat mencegahnya dengan berbagai kiat sehat.

Suatu hari, ketika kakinya yang kuat dan perkasa itu sedang berjalan di atas titian yang beraspal halus tanpa lubang atau undakan, dia terjatuh bersimpuh. Kakinya sakit jika ditegakkan. Setelah dibawa ke dokter, ternyata dia terkena osteoporosis. Begitu pernyataan dokter setelah dia melalui serangkaian pemeriksaan yang seksama.
Tiba-tiba, seribu …

Yang disayang dan yang dibenci

Serpihan yang tercecer di tahun 2009-nya ade anita

Yang disayang dan yang dibenci

Perempuan tua itu sudah sepuh. Aku mengetahuinya dari keriput yang menempel di seluruh permukaan kulitnya yang kusut. Meski begitu, semangatnya tetap membara. Dengan langkah tertatih, dia susuri jalan berbatu dan berdebu. Tak peduli lagi pada langkah kakinya yang sudah setengah menyeret karena tulang betis yang mulai mengintip dari bekas kulit yang terbakar api.

“Ini luka bakar nak. Ibu dapat ketika kompor minyak dirumah ibu meleduk. Tapi ibu tidak apa-apa, ini berkat anak-anak ibu yang manis, semuanya ada tiga ekor.”
Tiga? Manusia seperti apakah dia yang memiliki anak yang memiliki ekor? Diam-diam aku menatap punggungnya. Khayalan dan paranoidku datang menyergap. Jangan-jangan aku berbicara dengan seorang siluman. Ternyata anak yang dimaksud adalah tiga ekor kucing kampung. Yang dipeliharanya sejak anak kandungnya meninggal dunia akibat tersiram air panas.

“Anak kandung ibu usianya 32 tahun. Sudah tua, l…

Perempuan Tanpa Bola Mata

Kumpulan serpihan 2009-nya ade anita
Yang kasat Mata dan Yang tidak kasat mata

Tulisan ini terinspirasi tulisan teman saya Sofie Yupitasari. Tentang pengalaman dia bertemu dengan makhluk yang tidak kasat mata. Tiba-tiba saja, saya jadi ingat pengalaman saya ketika masih kecil. Lebih tepatnya ketika duduk di bangku Sekolah Dasar.

SD saya, ada di tengah kampung. Dulu, era tahun 70-an (saya lulus SD tahun 1983) Jakarta memang belum se-metropolitan seperti sekarang. Jadi, daerah Pengadegan masih merupakan sebuah kampung. Dalam arti, rumah-rumah orang-orang asli Betawi masih banyak sekali di sekeliling saya ( I wonder… kenapa banyak sekali kata sambung disini?). Tidak seperti sekarang yang kebanyakan telah dihuni oleh kaum pendatang yang sukses membeli tanah penduduk asli Betawi dan penduduk asli Betawinya mengungsi ke daerah Citayem, Bogor.

Baik. Kembali ke cerita tentang saya sebagai anak SD. Karena rumahnya masih di daerah perkampungan, maka otomatis begitu juga dengan sekolahnya. SD …
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...