badge

Kamis, 17 Desember 2009

Purnama di langit cerah

Cerpen by : Ade Anita

Bulan berwajah bundar lagi malam ini. Langit cerah tanpa bintang, sehingga kehadiran singgasana bulan di angkasa tampak bersinar tanpa ada saingan. Siapapun bisa menatap wajah purnama sang bulan, persis seperti yang dilakukan oleh seorang gadis dari dalam jendela kamarnya yang berada di lantai atas rumahnya. Arini namanya.

Arini menatap sang bulan sambil duduk di atas bingkai jendela kamarnya. Bulan purnama datang lagi. Itu artinya tiga bulan lagi menjelang pernikahannya. Ada sebuah perasaan yang sulit dilukiskan di hatinya menjelang saat itu tiba. Perasaan yang mengganggu pikirannya hari-hari belakangan ini, bahkan membuatnya kehilangan konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Hmm…, rasa takut itu kembali muncul. Akankah dia bahagia kelak dengan kehidupannya yang baru setelah menikah kelak ? Akankah sang Arjuna akan tetap menyayangi dia meski perubahan waktu akan membawa hal-hal yang tidak terduga kelak ? Bagaimana jika dia ternyata tidak bisa memberikan keturunan ? Bagaimana jika dia tidak cocok dengan keluarga suaminya ? Bagaimana jika sebaliknya yang terjadi ? Bagaimana jika suaminya mengharuskan dia untuk berhenti dari pekerjaan mapannya kini untuk berdiam di rumah ? Bagaimana jika orang tuanya yang telah menyekolahkannya merasa sayang melihat pendidikan yang telah dienyamnya bertahun-tahun menjadi sia-sia tak terpakai ? Bagaimana jika dia bosan dan jenuh dengan pekerjaan rutin rumah tangga ? Bagaimana jika datang gadis yang lebih menarik dalam perkawinannya dan gadis itu membuat suaminya beralih cinta ? Bagaimana … wah… ternyata ada beribu bagaimana dan pertanyaan lain yang membuat kegalauan di hatinya kian tidak menentu. Arini menundukkan kepalanya dan membuang napasnya agar rasa galau di hatinya ikut lenyap. Seharusnya sebuah pernikahan itu adalah peristiwa membahagiakan, tapi kenapa sekarang yang muncul adalah berjuta keraguan atas perolehan rasa bahagia itu. Ditatapnya kembali wajah rembulan. Rasa galau itu belum hilang, meski dia sangat ingin melenyapkan rasa yang sangat mengganggu itu.

---00000---


Sudah lebih dari satu jam Aditia mengamati pohon rambutan dengan teropong mininya. Arini mendekati adik semata wayangnya itu hati-hati.

“Lihat apa sih dik, dari tadi kok asyik banget.“ Perlahan dirangkulnya pundak Aditia dari belakang. Aditia menurunkan teropongnya dan menoleh menatap kakaknya.

“Lihat lebah mbak. Tuh…, lihat deh mbak. Mereka lagi boyongan mau pindah sarang.” Teropong itu kini disodorkan padanya. Arini meletakkan teropong itu di depan matanya.

“Yang mana dik ?” Aditia cepat memindahkan teropong itu kembali ke matanya sendiri, setelah mematok tempat, Aditia memberi isyarat pada Arini untuk mendekat. Di kedua lingkaran jendela teropong itu kini tampak sebuah barisan lebah-lebah yang terbang beriringan mondar-mandir keluar masuk sarang segi enam mereka yang masih tampak kokoh. Makhluk kecil itu tampak terbang mengepakkan sayapnya sementara tubuh bagian ekornya tampak condong ke bawah. Tentu lebah itu membawa serta madu yang dihasilkan tubuhnya sehingga terlihat keberatan begitu. Kepakan sayapnya tampak bergerak sangat cepat sehingga menimbulkan suara berdengung yang ramai. Asyik juga mengamati kesibukan para lebah ini. Pantas Aditia dari tadi begitu asyik di depan jendela diam tak bergeming mengamati. Arini meletakkan siku kedua tangannya di bingkai jendela agar posisi mengintipnya nyaman.

“Hei… nggak Dik. Mereka nggak semuanya pindah. Ada juga yang tinggal.” “Masa sih mbak ? Darimana mbak tahu ?” Aditia memberondong Arini dengan pertanyaan sambil menarik ujung kemeja Arini.

“Itu.. lihat deh. “ Arini memberikan teropongnya pada Aditia sehingga kini kegiatan mengintip lewat teropong itu sudah berpindah tangan.

“Ada lebah yang keluar saja, dan tidak masuk lagi, mereka terus masuk dalam kelompok lebah yang terbang menjauhi sarang menuju pohon lain, tapi ada juga lebah yang keluar dari sarang, terbang berputar memutari pohon untuk kemudian masuk lagi. Itu artinya mereka tidak ikut pindah, tapi mereka sedang bertugas untuk menjaga sarang dan mengawasi agar lebah yang pindah tidak merusak sarang yang mereka tinggalkan. Prajurit lebah namanya.” Aditia menjauhkan teropong dari depan matanya mendengar keterangan Arini dan menatap Arini dengan wajah keheranan.

“Prajurit lebah? Itu cerita khayalan mbak Arin atau kenyataan nih? Memangnya kerajaan apa, ada prajuritnya segala?” Arini bengong sejenak, tapi langsung nyengir kuda setelah melihat alis mata Aditia yang bertaut kebingungan. Diacaknya rambut Aditia dengan sebelah tangannya.

“Yeeee…, beneran dong. Masa khayalan. Hehehe….”

“Nih…, gini Dik. Dalam kehidupan lebah, hanya ada satu komando, yaitu sang ratu lebah. Ratu lebah itulah yang bertelur. Lebah lain yang ada di masyarakatnya, ada yang bertugas untuk mencari madu,. Ada yang bertugas untuk menjaga sarang dari ancaman musuh, ada juga yang bertugas untuk menjaga telur-telur dan menyimpan madu yang dikumpulkan oleh lebah pekerja. Kerja sama dalam pembagian tugas ini yang membuat para lebah masing-masing bisa konsentrasi menghasilkan yang terbaik bagi masyarakatnya. Tapi, suatu saat, akan muncul lebah betina muda yang kualitasnya sama bagusnya dengan Ratu lebah. Karena tidak boleh ada dua Ratu, maka sang Ratu baru ini akan pindah mencari sarang baru, dan dia bisa membawa serta lebah-lebah pengikutnya untuk membuat koloni baru tersebut.” Aditia mendengarkan keterangan Arini tanpa berkedip. Bahkan tidak ada reaksi yang terjadi ketika teropong di tangannya diambil oleh Arini.

“Tuh…. Mereka menuju pohon nangka di rumah pak Haji Soleh di depan sana. Itu artinya sarang baru mereka di sana insya Allah.” Tidak ada reaksi apa-apa atau komentar sedikitpun dari Aditia selain,

“Mbak… kenapa mereka nggak berbagi tempat saja yah ? Membangun dari awal kan sulit, banyak resikonya. Padahal mereka di tempat yang lama sudah kenal dengan segala macam situasi, namanya juga lahir dan besar di sana. Kalau di tempat baru kan, masih asing. Belum bikin sarangnya yang buang waktu, belum nyari tempat buat nyari makanan, belum harus merhatiin takut kalau-kalau di tempat baru ternnyata nggak cocok dan nggak senyaman di tempat lama.” Aditia bertanya setengah bergumam.

Arini tidak langsung memberikan jawaban. Ditatapnya adik semata wayangnya itu dengan rasa sayang. Perbedaan usia di antara mereka cukup jauh. Arini masih duduk di SMP dan sudah merasa bahwa dia akan menjadi anak tunggal selamanya ketika ibu tirinya datang memberi tahu bahwa beberapa bulan lagi dia akan mendapatkan adik baru. Ibu kandung Arini memang sudah meninggal sejak Arini berusia sembilan tahun dan ayahnya menikah lagi empat tahun kemudian. Ibu barunya itulah yang memberinya adik baru bernama Aditia. Kebahagiaan mendapatkan adik baru itu, meski dari ibu yang lain, telah terwujud dalam perasaan sayang yang terasa tidak pernah mengering dari hari ke hari. Mungkin karena perbedaan usia yang jauh sehingga Arini sudah cukup mengerti bagaimana caranya menerima kehadiran adik baru.

“Mbak… ! Kok bengong sih ditanyain ?” Aditia mengguncang lengan Arini.

“Hmm, segala sesuatu itu sudah ditentukan jalannya oleh Allah dik.“

“Maksudnya mbak ?”

“Begini…,” Arini meneguk air liurnya sejenak, sekedar untuk membasahi tenggorokkannya yang terasa kering.

“Segala sesuatu di muka bumi ini dalam penciptaannya sudah diperhitungkan oleh Allah dalam sebuah ketetapan. Misalnya, tikus yang suka makan padi di sawah, ditetapkan akan mati dimakan oleh ular sawah. Karenanya, tikus yang bisa berkembang biak dengan sangat cepat itu tidak meraja lela di sawah pak tani. Nanti ular yang memakan tikus itu, akan dimakan oleh burung elang, burung elang akan dimakan oleh ular yang lebih besar dan lebih berbisa lagi, ular itu akan dimakan oleh harimau…begitu seterusnya.”

“Seperti siklus daur makanan di pelajaran biologi yah ?” Aditia bertanya sambil mengulum senyum dan duduk di sisi Arini.

“Betul. Kamu sudah sampai situ yah pelajaran biologinya ?” Arini mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut kepala adiknya itu.

“Iyah. Ekosistem namanya.” Aditia memberi keterangan dengan mimik wajah serius.

“Iyah, betul ekosistem namanya. Yah…, begitu deh dik. Al Quran sebenarnya sudah memberi pengajaran tentang pelajaran ekosistem itu terlebih dahulu jauh sebelum para ilmuwan biologi mengemukakan teori ekosistemnya. Semuanya disebut sebagai ketetapan dari Allah bagi manusia dan bumi tempat tinggalnya. Allah itu sudah memperhitungkan atas segala sesuatu yagn diciptakanNya, dan perhitungan Allah itu sudah meliputi mulai hal yang rumit sampai hal paling sepele. Tidak ada yang sia-sia dalam ciptaanNya. Kita meyakininya sebagai takdir yang sudah ditetapkan atas segala sesuatunya. Jadi tiap-tiap makhluk itu sudah ditentukan bahwa dia akan berjalan menggunakan kakinya misalnya, atau si A terlahir sebagai wanita sedangkan B sebagai pria, atau gajah akan mengibaskan telinga lebarnya agar tubuh besarnya tetap dalam keadaan seimbang dan kulit tebalnya tidak menimbulkan rasa penat kepanasan. Lembu yang sulit mengusir kutu-kutu di tubuhnya akan dibantu oleh burung yang akan memakan kutu-kutu itu. Itulah takdir, ketetapan Allah atas segala sesuatunya. Setiap kelemahan yang ada pada setiap makhluk ciptaan Allah selalu diiringi dengan kelebihan tersendiri dan itulah yang menjadi perlindungan bagi makhluk itu.”

Arini berhenti bicara dan mendapati Aditia sedang menatapnya tanpa berkedip dengan mulut menganga. Adiknya itu tampak mempertautkan kedua alisnya dan keningnya pun tampak berkerut-kerut. Wah, pasti tadi Arini sudah terlalu bersemangat bercerita panjang lebar mengalahkan semua singa podium. Arini tersenyum sumringah, malu sendiri.

“Bingung yah Dik ?” Arini menjentikkan dagu Aditia yang turun ke bawah hingga mulut Aditia yang terbuka karena bengong tertutup. Tapi Aditia mengangguk cepat sebagai reaksi akhirnya.

“Iyah.. ribet banget sih mbak neranginnya. Puanjanggggggg kayak kereta api. ” Arini tersenyum dan mengacak-acak rambut Aditia.

“Hmm, kalau gitu…, kamu ambil Al Quran dan ensiklopedia tentang lingkungan hidup gih, mbak terangin satu-satu.”

“Hah ?” Aditia menatap Arini masih dalam sisa bengongnya.

“Ngaji ? Ihhhh…, malas ah ! Nanti juga Adit ngaji di TPA.” Aditia spontan bangkit berdiri dan berjalan mundur menjauhi Arini.

“Yee…, bukan lagi. Kita belajar eh bukan… kita buat penelitian tentang lingkungan sekitar, hmm, soal lebah juga boleh dibahas nanti, tapi dihubungkan dengan Al Quran, asyik loh… tadabur alam namanya. “ Aditia masih menatap Arini ragu-ragu. Arini hanya tersenyum dan memasang wajah serius buru-buru.

“Pokoknya beda deh ama ngaji kayak di pengajian itu, ini lebih asyik.” Tidak ada reaksi dari Aditia, yang ada adalah rasa kurang percaya yagn terlukis di wajahnya.

“Coba dulu, kamu belum tahu kan, jadi jangan curiga dulu bahwa hal ini akan membosankan.” Glek ! Arini jadi teringat sesuatu. Astaghfirullah, itulah yang terjadi pada dirinya sendiri beberapa hari belakangan ini. Rasa curiga, prasangka buruk akan ketetapan hari esok yang akan dia jalani.

Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengingatkan hamba hari ini.

Kehidupan setiap makhluk itu sudah diperhitungkan oleh Allah, dan Allah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dan Pengasih. Dia tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan hambaNya. Jadi apapun yang terjadi di hari esok tentunya sudah ada dalam perhitunganNya. Kenapa harus ragu dan bingung ? Wahh.. kenapa bisa lupa yah ? Arini semakin mantap kini dan itu mempengaruhi semangatnya untuk menerangkan banyak hal pada adik semata wayangnya itu. Semua pertanyaan dia coba jawab dengan kalimat sederhana dan santai dan dicoba untuk dikaitkan dengan Al Quran, agar adiknya tidak lagi mempunyai prasangka bahwa mengkaji Al Quran itu adalah sesuatu yang membosankan. Untuk jatuh cinta pada Al Quran itu harus dimulai dengan mengenalnya terlebih dahulu.

“Mbak…, memangnya ada yah binatang menyusui yang bertelur ?” Aditia tidak henti-hentinya bertanya, hingga matahari condong ke arah barat, dan azan ashar terdengar di kejauhan.

Nanti malam, bulan purnama muncul lagi, dan insya Allah itu adalah bulan purnama terakhir yang bisa Arini nikmati dari bingkai jendela kamarnya sebagai seorang gadis, karena minggu depan dia akan menikah. Arini tersenyum dalam hati, keyakinannya akan perlindungan Allah kian menancap erat di dalam hati. Terserah bagaimana warna hari esok, karena yang utama itu adalah apa yang kita usahakan hari ini. Jika kita melakukannya dengan baik insya Allah hasilnya akan baik pula dan akan lebih baik lagi jika diiringi dengan tujuan hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah semata. Subhanallah, Maha Suci Allah.

---00000---


“Dia Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya takdir (ketetapan) yang sesempurna-sempurnanya “(QS. 25 :2)

“Dan tidak sesuatu pun kecuali ada di sisi Kami khasanah (sumber)nya dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan kadar (ukuran) tertentu”(QS. 15 :21)

dimuat di www.kafemuslimah.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...