badge

Rabu, 04 Maret 2009

Pada Kecupan Terakhir

Ayah terkulai lemah. Matanya terlihat berat untuk terbuka tapi dengan senyum penuh cinta dia tetap berusaha menyapa.
'ayah, ini ade datang'
Kugenggam tangannya yg terasa dingin
Dengan sisa energi yg ada ayah berusaha meremas jemariku.
Aliran hangat terasa menjalari jemariku lamban.
Aku tahu itulah usaha ayah untuk menyatakan bahwa dia sayang aku.




Ayah selalu bilang bahwa akulah anak kesayangannya.
Dulu ketika malam-malam yang letih menjelang ujian sekolah,
Ketika mata ini kupaksa untuk tetap terbuka menelusuri rumus dan hapalan,
Ayah datang menghampiriku dengan secangkir teh manis hangat ditangan
Senyum hangatnya yang khas terpajang
''Lihat, apa yang ayah bawa untuk anak ayah yang sedang berjuang?''
Secangkir teh manis hangat itu menjadi suplemen sekaligus vitamin selama aku menghadapi ujian sekolah
Ayah selalu menasehatiku bahwa belajar termasuk sebuah perjuangan yang bernilai ibadah, sama seperti berjuang mempertahankan kehidupan
Kali ini, ketika kulihat napas ayah tersengal-sengal diantara belitan selang-selang infus yang berseliweran diatas tubuhnya, aku membisikkan sebuah kalimat penyemangat,
''Ayah, ayo berjuang, kami masih membutuhkanmu''

Tatapan ayah terlihat sayu dan tidak berdaya
Erangan kesakitannya sudah tidak lagi keluar dari mulutnya
Aku mengelus rambut ayah yang berketombe sambil membisikkan asma Allah ditelinganya, sebagai pengiring sejati menghadapi sakaratul maut
Berhadapan dengan pipi ayah yang begitu dekat, hatiku terdorong untuk menciumnya
Pipi ayah hangat, juga mulai terasa empuk karena keriput tua yang bertengger
Dulu ayah selalu mencium pipiku ketika aku pamit untuk pergi kesekolah,
Tapi ayah juga pernah mencubit pipi dan perutku
Sakit sekali....
Hanya karena aku naik ke atap rumah dengan celana pendek dan duduk dipuncak atap menatap rumah-rumah tetangga yang tampak berjejer dibawah seperti ikan yang ditata diatas lapak penjual ikan asin
''Kamu anak perempuan. Kamu boleh melakukan apa saja tapi nggak boleh bertingkah seperti anak nakal.''

Pukul setengah lima sore di hari jumat tanggal 27 februari 2009, kembali aku cium pipi ayah ketika tiba giliranku untuk membisikkan asma Allah ditelinga ayah
Tadi, jam empat sore detak jantung ayah sempat berhenti
Dokter berusaha memberikan pertolongan penyelamatan hingga detak jantung itu kembali bekerja
Aku menangis menyaksikan tubuh dokter naik keatas badan ayah dan memompa dada ayah dengan keras
Pipa besi aluminium sepanjang lengan orang dewasa, dimasukkan kedalam mulut ayah guna menghantarkan selang udara
Lubang kecil CPV dibuat didada ayah guna menghantarkan obat-obatan
Entah berapa puluh kali jarum suntil menusuk kulit ayah guna menghantarkan obat
''Allahu Akbar... Begitu sakitkah sakaratul maut itu?
Ringankan penderitaan ayahku Ya Allah''
Dalam hati aku berujar karena mulut ini sudah tak sanggup lagi merangkai kata
Asma Allah terus terucap agar alam bawah sadar ayah bisa mendengarnya

''Aku cape belajar. Ayah harus tahu, aku bukan anak yang pandai.''
''Hush, didunia ini tidak ada anak yang bodoh. Yang ada anak yang malas. Ayo, kita bekerjasama. Kamu rajinlah belajar, dan ayah juga akan rajin mendoakan kesuksesanmu.''
Lalu aku belajar, dan merasa menjadi sukses. Setelah merasa sukses, aku menjadi malas belajar, tapi ayah tidak pernah malas mendoakanku.
Bahkan disela-sela kesakitannya, dia masih sempat mendoakanku,
''Hati-hati jika kamu pulang nanti ya nak. Semoga kamu selamat tiba dirumah, dan bisa kembali mengasuh anak-anakmu.''

''Ayah, tebak siapa yang ade sayangi didalam hati ade.'' Pertanyaan ini aku berikan pada ayah ketika usiaku baru menginjak limabelas tahun.
Waktu itu aku sakit karena ayah dinas diluar kota ketika aku sedang berulang tahun. Sakit karena rindu
Ayah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan bersiap mendengar jawaban untuk pertanyaanku.
''Ayah. Cuma ayah yang ade sayangin, jadi ayah jangan pergi lagi kalo ade ulang tahun besok-besok.''
''Iya, ayah juga sayang dengan kamu. Kita akan liburan ke medan ya buat hadiah ulang tahunnya.''
Lalu tahun berlalu satu persatu hingga tiba saatnya aku bersikeras ingin menikah dengan lelaki pilihanku,
''Kamu sudah mantap dengan pilihanmu itu nak?''
''Iya ayah. Cuma dia yang ada dihati ade saat ini.''
''Katanya dulu dihati kamu, kamu cuma sayang ayah.''
''Itu dulu, sekarang ade sayang sama dia.''
''Ya sudah, kalau gitu kamu kenalkan dia dengan ayah ya. Tapi asal kamu tahu nak. Siapapun yang kamu pilih, apapun keputusan jalan hidupmu, dalam hati ayah, ayah tetap sayang kamu.''

Lalu hujan pun turun rintik-rintik mengiringi pemakaman ayah disiang hari tanggal 28 februari 2009
Pada kecupan pertama dihari jumat tanggal 27 februari 2009 pukul 11 siang, aku masih merasakan kehangatan pipi ayah yang kulitnya mulai mengendur termakan usia
Pada kecupan kedua di petang hari pukul setengah tujuh pipi itu sudah dingin seperti lilin yang telah lama padam

“Ayo kita pulang dulu sebentar mengantarkan anak-anak agar tidur di rumah agar mereka tidak sakit.” Suamiku mengingatkan aku akan anak-anak setelah melihat kondisi kami yang lelah karena berkumpul di teras ruang ICU berjam-jam mengiringi kondisi kritis ayah
“Aku tidak mau pulang mas. Aku ingin ada disamping ayah jika memang ayah harus pergi untuk selamanya.”
“Tapi kasihan anak-anak De. Jika mereka sakit sementara kita berdua dalam kondisi kelelahan, bagaimana nasib mereka? Lagipula, kamu bisa mandi, berwudhu dan shalat dalam keadaan lebih khusyuk dan bersih sehingga bisa mengirim doa untuk ayahmu.” Akhirnya aku pulang. Mandi dan shalat lail serta witir diiringi doa yang amat panjang untuk sebuah mukjizat kesembuhan ayah. Selesai shalat, Ketika mata ini kupejamkan dalam sebuah lantunan zikir, aku melihat sebuah bayangan. Pintu elevator rumah sakit Tebet terbuka, dari dalam keluar ayah dengan kemeja berwarna kuning melenggang keluar dari dalam elevator sambil tersenyum ke arahku. Senyumnya yang amat khas. “Ayah.” Aku tercekat dan mataku segera terbuka kembali dari pejamannya. Ternyata hanya bayangan, jam menunjukkan pukul 02.35 WIB.

Aih. Hanya bayangan. Lalu aku kembali menenggelamkan diri dalam dzikir sambil memejamkan mata dan kembali bayangan yang sama muncul. Pintu elevator rumah sakit Tebet terbuka, dari dalam keluar ayah dengan kemeja berwarna kuning, dan melemparkan senyumnya yang khas ke arahku. Hatiku sekali lagi tercekat dan mataku segera terbuka. Sekali lagi ternyata hanya bayangan. Aku melirik jam yang menunjukkan pukul 02.40 WIB.
“Mas, kita ke rumah sakit lagi yuk.” Dan tidak ada angin tidak ada petir sebuah rasa sedih yang amat menyayat datang menyerbu seluruh rongga dadaku. Tiba-tiba aku menangis sesenggukkan. Belum pernah aku menangis sesenggukan. Selama ini ayah selalu bangga padaku karena aku anak yang tegar. Tapi kali ini aku benar-benar menangis sesenggukan dengan amat sedih dan perih. Suamiku keheranan dan bertanya mengapa menangis.
“Tidak tahu mas. Aku juga nggak tahu kenapa aku menangis tiba-tiba tapi rasanya aku merasakan sebuah kerinduan yang amat dalam pada ayahku. “
“Iya, sudah, ayo kita ke rumah sakit sekarang, jangan menangis seperti itu. Kesannya sudah terjadi sesuatu, jangan berlebihan.”
“Tapi aku merasa ayah sudah amat jauh mas dan aku amat merindukannya.” Sedu sedanku menghebat hingga dada ini rasanya ingin meledak dan pecah. Sedih yang teramat sangat oleh sebab yang entah apa.
“Hush. Dia masih ada di rumah sakit, ayo kita siap-siap berangkat.” Dan baru saja suamiku bangkit untuk memakai jam tangan ketika handphoneku berbunyi.
“Ade… siap-siap ke rumah sakit ya. Dijemput nih, ayah sudah meninggal dunia.” Hah?!?... Innalillahi wainnailaihi rajiun.

Dan pada kecupan terakhir sebelum kain kafan dirapatkan, pipi ayah sudah benar-benar kaku dan dingin sedingin es
Lalu tidak akan pernah lagi aku dapat mengecupnya
Tanah merah telah menutupi jasad ayah yang mungkin sedang bersiap bertemu dengan Munkar dan Nakir


''Allah...Engkau Maha Mengetahui betapa baik dan sabarnya ayahku,
Dan Engkau pulalah Yang Maha Mengetahui betapa besar rasa terima kasihku bagi ayah, terimalah dia disisi-Mu Ya Allah. Berilah dia tempat terbaik, lapangkanlah alam kuburnya dan karuniailah ayahku dengan nikmat-Mu yang tiada pernah putus. Sayangilah kedua orangtuaku yang kini telah tiada seperti mereka menyayangiku dengan sayang yang tiada pernah bertepi dan tiada pernah putus."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...