Langsung ke konten utama

Merindukanmu

Hari ini, 12 hari sudah sejak ayah meninggal dunia. Matahari bersinar setiap pagi seperti biasanya. Burung-burungpun berkicau dengan riang seperti hari-hari kemarin. Anak-anak sudah kembali aktif bersekolah dan mulai menunjukkan prestasinya masing-masing. Juga... berat badan kembali menunjukkan fluktuasi yang menyebalkan seperti yang biasa terjadi saban bulan.




Tapi... kenapa tidak pernah ada lagi ketukan pintu dari seseorang yang aku rindukan kehadirannya saat ini ya?

Biasanya, kala ayah masih hidup dulu, ayah selalu mengetuk pintu rumahku hampir beberapa hari sekali hanya untuk mampir baca koran. Setelah baca koran, biasanya kami ngobrol macam-macam. Mulai dari masalah politik, kenaikan harga sembako, tetangga yang aneh, saudara yang annoying, sampai kucing yang menyebalkan. Mulai dari hal yang penting sampai hal yang sama sekali tidak penting. Sambil sesekali ayah menggoda cucunya, hawna atau arna, dan merogoh cemilan yang ada di atas meja. "Nggak usah. Ayah nggak mau minum, tapi kalau ada susu ultra atau U C vitamin c boleh deh." Itu selalu yang dia katakan. Sesekali ayah memberi komentar atas suasana rumahku yang berantakan.... "Duh, De, kayak kapal pecah banget sih." Biasanya aku hanya nyengir sambil bilang, "Masih pagi yah. Biar saja anak-anak puas main, nanti kalau dah sorean baru dirapiin."

Tapi... sudah 12 hari lewat dan ayah tidak hadir di depan rumahku... membuat aku... merindukannya.



Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…