Langsung ke konten utama

Teman Yang Pemaaf

Blognya Kurnia memuat tulisanku yang dulu ada di kafemuslimah.com ini http://koernia05.wordpress.com/2008/06/19/teman-yang-pemaaf/

Seorang darwis tertangkap karena ingin mencuri selimut dari rumah temannya. Hakim menjatuhkan hukuman potong tangan, tetapi pemilik selimut keberatan dan mengatakan ia telah memaafkan perbuatan tersebut. Hakim membentak,
“Pembelaanmu tidak akan mempengaruhi diriku dalam menegakkan hukum.”




Pemilik selimut meneruskan pembelaannya,
“Anda benar, tetapi pemotongan tangan tidak sesuai bagi orang yang mengambil perlengkapan untuk keperluan amal shaleh. Lebih dari itu seorang zuhud tidak memiliki apa-apa, dan apa yang dimiliki oleh darwis adalah untuk kepentingan fakir miskin.”

Maka hakim tersebut membebaskan terdakwa dan berkata, “Dunia akan benar-benar licin bagimu karena engkau berusaha mencuri dari rumah temanmu sendiri.” Si Darwis menjawab, “Apakah engkau belum pernah mendengar pepatah, sapulah rumah temanmnu dan jangan mengetuk pintu musuhmu?”. Mendengar jawaban si darwis, temannya yang mencuri selimut menangis tersedu. Dia menyesal telah mengambil sesuatu yang sebenarnya bisa dia peroleh andai saja dia memintanya dengan sopan. Kefakiran telah membutakan matanya hingga tak bisa membedakan mana teman yang sebenarnya.

“Jika engkau tertimpa kesulitan,
Janganlah putus asa.
Jika kesulitan itu datang dari lawan,
Maka goreslah kulitnya
Jika teman, goreslah pakaian luarnya saja.”

Ditulis ulang oleh: Ade Anita, dari karya Syekh Musliuddin Sa’di Shirazi, dalam bukunya “GULISTAN: Taman Kearifan dari timur”, Penerbit:” Navila.

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…