badge

Selasa, 10 Februari 2009

pelajaran paling sulit bagi semua orang tua: Ikhlas Melepas Anaknya Pergi

Pagi ini, pulang nganter Arna sekolah, sambil ngeringin keringat aku nonton tv one seperti biasa. Tapi, pagi ini sedikit luar biasa karena tv one menayangkan ayah dan ibu Dwi hartanto, mahasiswa ITB yang meninggal karena mengalami kekerasan selama mengikuti kegiatan OSPEK jurusan di kampusnya. Kasian sekali. Air mataku sampai menetes karena terharu. Terutama ketika ayahnya Dwi mengatakan hal seperti ini "Ya, masuk ITB itu sebuah kebanggaan bagi saya sebagai orang tua.  Dari SD, lalu SMP, SMA, saya terus memantau dan membimbing anak saya itu.  Mulai dari memilihkan pergaulannya, kegiatannya sampai bimbelnya. Jadi, saya merasa amat kehilangan anak saya itu tapi saya harus ikhlas dengan kematiannya."



Duh. Tidak disangkal lagi. Pelajaran ikhlas itu adalah pelajaran yang paling sulit dimuka bumi ini. Entah mengapa aku ingat anak-anakku. Nggak tahu deh gimana ortu yang lain (mungkin kurang lebih sama) tapi saya spontan meneteskan air mata membayangkan kesedihan sekaligus keikhlasan yang dipaksakan untuk hadir oleh kedua orang tua Dwi. Ya, seperti saya dan suami saya. Anak-anak, sejak dari mereka dalam kandungan terus menerus berusaha untuk kami berikan yang terbaik... lalu tiba-tiba orang lain merenggut semua itu dengan semena-mena...*sign*... betul-betul memberikan sebuah penggambaran betapa beratnya sebuah keikhlasan itu.

Pantas saja mereka yang disebut dengan ikhlas adalah mereka yang memandang kesedihan dan kegembiraan sama saja rasanya. Mendapatkan dan kehilangan, tidak ada bedanya.

2 komentar:

  1. ATAS NAMA PENDIDIKAN

    Putih kapas dapat dilihat, putih hati berkeadaan. Demikianlah keadaanku kini, terbujur kaku di pusaran pembaringan dengan taburan do'a di atasnya. Ya.. memang... aku telah mati!! aku harap... Janganlah engkau terkejut karenanya... aku adalah mayat korban kekerasan atas nama pendidikan.


    Tahun 2008... aku putuskan untuk memulai perjalanan panjangku. Teknik Geodesi ITB menjadi pijakan utamaku. ITB.. salah satu Universitas besar... Impianku, ku mulai dari sana.


    Berjuta harapan dan terpaung jelas di kampus itu, menjadi orang besar di Indonesia... Menjadi orang berguna. Tujuanku satu, dapat mengarungi maghligai bahagia di masa mendatang.


    Setelah beberapa lama...

    Rencana tinggalah rencana. Semua sia-sia belaka... Kala ku tahu kekerasan menjadi legalitas disana. Dengan sangat terpaksa, satu persatu mimpi indahku terpaksa ku tanggalkan. Mimpiku membuatku terluka. Mimpiku membuat aku menderita. Aku kecewa... kecewa... sungguh kecewa...


    Di ITB, aku hanyalah sansak hidup yang berada dalam arena tinju pendidikan Universitas. Mereka bebas menamparku, meraka bebas menginjakku, mereka bebas memukulku, mereka meludahiku... mereka bebas melakukan kekerasan... semua demi nama pendidikan...


    Feb 2009... dengan berat hati, aku mengakhiri perjalananku. Ku tutup mataku... Ku hembuskan nafas terakhirku... Karena pendidikan mengajarkan kekarasan.

    sumber:http://www.asyiknyaduniakita.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. it's tragic, seorang ibu dapat merasakan perasaan itu dengan jelas sekali.

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...