Langsung ke konten utama

pelajaran paling sulit bagi semua orang tua: Ikhlas Melepas Anaknya Pergi

Pagi ini, pulang nganter Arna sekolah, sambil ngeringin keringat aku nonton tv one seperti biasa. Tapi, pagi ini sedikit luar biasa karena tv one menayangkan ayah dan ibu Dwi hartanto, mahasiswa ITB yang meninggal karena mengalami kekerasan selama mengikuti kegiatan OSPEK jurusan di kampusnya. Kasian sekali. Air mataku sampai menetes karena terharu. Terutama ketika ayahnya Dwi mengatakan hal seperti ini "Ya, masuk ITB itu sebuah kebanggaan bagi saya sebagai orang tua.  Dari SD, lalu SMP, SMA, saya terus memantau dan membimbing anak saya itu.  Mulai dari memilihkan pergaulannya, kegiatannya sampai bimbelnya. Jadi, saya merasa amat kehilangan anak saya itu tapi saya harus ikhlas dengan kematiannya."



Duh. Tidak disangkal lagi. Pelajaran ikhlas itu adalah pelajaran yang paling sulit dimuka bumi ini. Entah mengapa aku ingat anak-anakku. Nggak tahu deh gimana ortu yang lain (mungkin kurang lebih sama) tapi saya spontan meneteskan air mata membayangkan kesedihan sekaligus keikhlasan yang dipaksakan untuk hadir oleh kedua orang tua Dwi. Ya, seperti saya dan suami saya. Anak-anak, sejak dari mereka dalam kandungan terus menerus berusaha untuk kami berikan yang terbaik... lalu tiba-tiba orang lain merenggut semua itu dengan semena-mena...*sign*... betul-betul memberikan sebuah penggambaran betapa beratnya sebuah keikhlasan itu.

Pantas saja mereka yang disebut dengan ikhlas adalah mereka yang memandang kesedihan dan kegembiraan sama saja rasanya. Mendapatkan dan kehilangan, tidak ada bedanya.

Komentar

  1. ATAS NAMA PENDIDIKAN

    Putih kapas dapat dilihat, putih hati berkeadaan. Demikianlah keadaanku kini, terbujur kaku di pusaran pembaringan dengan taburan do'a di atasnya. Ya.. memang... aku telah mati!! aku harap... Janganlah engkau terkejut karenanya... aku adalah mayat korban kekerasan atas nama pendidikan.


    Tahun 2008... aku putuskan untuk memulai perjalanan panjangku. Teknik Geodesi ITB menjadi pijakan utamaku. ITB.. salah satu Universitas besar... Impianku, ku mulai dari sana.


    Berjuta harapan dan terpaung jelas di kampus itu, menjadi orang besar di Indonesia... Menjadi orang berguna. Tujuanku satu, dapat mengarungi maghligai bahagia di masa mendatang.


    Setelah beberapa lama...

    Rencana tinggalah rencana. Semua sia-sia belaka... Kala ku tahu kekerasan menjadi legalitas disana. Dengan sangat terpaksa, satu persatu mimpi indahku terpaksa ku tanggalkan. Mimpiku membuatku terluka. Mimpiku membuat aku menderita. Aku kecewa... kecewa... sungguh kecewa...


    Di ITB, aku hanyalah sansak hidup yang berada dalam arena tinju pendidikan Universitas. Mereka bebas menamparku, meraka bebas menginjakku, mereka bebas memukulku, mereka meludahiku... mereka bebas melakukan kekerasan... semua demi nama pendidikan...


    Feb 2009... dengan berat hati, aku mengakhiri perjalananku. Ku tutup mataku... Ku hembuskan nafas terakhirku... Karena pendidikan mengajarkan kekarasan.

    sumber:http://www.asyiknyaduniakita.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. it's tragic, seorang ibu dapat merasakan perasaan itu dengan jelas sekali.

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…